WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
62. Memastikan



Hari terus berganti,perkembangan kesehatan Wilona pun sudah mulai membaik. Kini wanita itu sudah mulai beraktivitas kembali seperti biasa,bahkan saat ini wanita itu sedang sibuk dalam melayani pelanggannya di butiknya. Hari pun semakin cepat berlalu,jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan itu sudah menandakan kalau dirinya harus segera pulang. 


"Nayla,aku titip butik padamu ya,karena aku harus segera pulang." Ujar Wilona pada salah satu karyawan terpercayanya itu


"Siap bu,serahkan semuanya pada kami." Jawab Nayla dengan semangat dan senyum yang merekah.


"Baiklah,kalau begitu aku pamit ya,bye semuanya…" Wilona meninggalkan butiknya sambil melambaikan tangannya kepada para pegawainya. 


Wilona menelusuri jalan setapak untuk menuju halte bus yang dengan jarak tidak terlalu jauh dari butiknya. Wilona sedang menunggu bus yang akan mengantarkannya kembali ke penthouse,kebetulan sekali letak gedung penthouse nya tidak terlalu jauh dengan halte bus hanya memerlukan jalan sekitar sepuluh menit saja Wilona sudah sampai di depan gedung penthouse tersebut. Cukup lama hampir tiga puluh menit Wilona menunggu bus,tapi belum juga datang. Hingga pada akhirnya ada sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan halte dan keluarlah seseorang dari dalam mobil tersebut yang Wilona kenal. Beberapa orang yang juga sedang menunggu bus di halte tersebut memandang tidak percaya pada Leon yang tiba-tiba saja berada di halte bus itu,mereka menatap kagum pada sosok Leon apalagi para kaum hawah. Mungkin jika di dalam film anime dimata mereka sudah ada bentuk love yang bergerak lucu,ya seperti itulah pandangan mereka kepada Leon. 


"Leon…." Gumam Wilona


Leon pun tersenyum "hai Wilona,kamu baru pulang?" Ucap Roy menyapa Wilona


Wilona pun mengangguk "iya,aku sedang menunggu bus." Jawab Wilona dengan tersenyum


"Ayo,masuklah kedalam mobil" Leon menjulurkan tangannya pada Wilona,dengan ragu dan tidak ingin membuat Leon malu di depan umum Wilona pun menerima uluran tangan Leon. Leon menggandeng tangan Wilona untuk masuk ke dalam mobil dan di sana seperti biasa sudah ada Roy yang setia menjadi asisten sekaligus supir pribadi Leon. 


"Selamat sore nona Wilona." Roy menyapa Wilona saat wanita itu sudah masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kursi kemudi bersama Leon.


"Selamat sore juga tuan Roy." Jawab Wilona dengan tersenyum dan membuat Leon merasa kesal karena Wilona tersenyum pada pria lain,walaupun Roy adalah orang kepercayaan Leon tetapi tetap saja Leon tidak suka melihat wanitanya dekat atau tersenyum pada pria lain. 


"Ehem… Jalankan mobilnya Roy" Leon memerintahkan Roy dengan nada dinginnya


"Baik tuan" jawab Roy yang langsung menjalankan mobilnya 


Ternyata setelah mendengar Leon berbicara dengan nada dingin seperti itu,Roy melirik Leon dari kaca spion tengah,sedangkan Wilona sendiri langsung  menatap Leon yang ada di sebelahnya. 


"Dia kenapa?" Batin Roy dan Wilona bersamaan.


Mobil pun melaju membelah jalan raya menuju gedung penthouse Leon. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di depan lobby gedung penthouse tersebut,Roy membuka pintu untuk Wilona sedangkan Leon membuka pintu sendiri karena saat di dalam mobil Leon meminta Roy untuk membukakan pintu mobil buat istrinya,sebenarnya Wilona menolak tetapi perintah Leon adalah suatu keharusan yang tidak boleh ditolak. 


Leon menggandeng tangan Wilona dan berjalan masuk menuju lift,beberapa penjaga keamanan gedung itu menunduk hormat saat mereka berpapasan dengan Leon dan Wilona,kini mereka berdua segera menaiki lift tersebut.


Setibanya di penthouse Leon dan Wilona sama-sama memasuki kamar mereka masing-masing. Mereka masih tidur terpisah,sebenarnya Leon sangat ingin mengajak Wilona untuk tidur dikamar yang sama,tapi dirinya takut membuat Wilona tidak nyaman dengan ajakannya yang tiba-tiba itu. Makan malam pun tiba seperti biasa Wilona selalu menyiapkan makan malam  untuk dirinya dan juga Leon,walaupun Leon mempekerjakan  juru masak yang handal tetap saja Wilona akan turun tangan soal urusan memasak. Karena memasak adalah salah satu hobinya. 


Leon turun kebawah saat makan malam tiba,pria itu langsung menuju meja makan karena disana sudah ada Wilona yang sedang menata masakannya di atas meja makan. 


"Wah,harum sekali pasti enak." Ucap Leon memuji Wilona


Wilona tersenyum saat mendengar pujian dari Leon,"ayo kita makan" jawab Wilona sambil mengambilkan makanan untuk Leon.


"Emm,Leon." Wilona memanggil suaminya itu dengan nada yang lembut.


Leon pun mendongak dan menatap Wilona,"ada apa?" Tanya Leon yang masih mengunyah makanannya. 


"Setelah makan malam,apakah aku bisa berbicara sebentar denganmu? Ada suatu hal yang  ingin aku tanyakan kepadamu." Wilona berucap setelah meyakinkan dirinya untuk langsung meminta izin pada Leon. 


Leon pun tersenyum,"kenapa ingin bicara denganku harus meminta izin padaku? Kapanpun kamu ingin bicara denganku,aku pasti akan mendengarkannya." Jawab Leon 


Wilona tersenyum kaku dan mengangguk pelan pada Leon dan melanjutkan kembali makannya. 


*


**


Leon sedang menonton televisi,Wilona datang dan menghampiri Leon dengan membawakan teh hijau untuk dirinya dan juga Leon. Leon yang melihat Wilona datang sambil memegang nampan pun segera bangun dan membantu membawakannya. 


"Terima kasih" ucap Wilona 


"Tidak perlu sungkan" jawab leon dengan tersenyum


Leon dan wilona duduk dengan jarak yang cukup jauh,Wilona meremas kedua tangannya karena rasa gugup yang menjalar ke dalam tubuhnya. Wanita itu bahkan sampai menghela nafasnya dalam-dalam. Hingga akhirnya Wilona memberanikan diri untuk memulai pembicaraannya. 


"Emm,Leon" Wilona memanggil Leon dengan pelan


"Ya,ada apa?" Jawab Leon sambil menatap Wilona


"Maaf sebelumnya,mmmm…." Wilona merasa ragu dengan apa yang akan ditanyakan olehnya,tapi bagaimanapun juga dirinya harus memastikan nasib pernikahan mereka. 


Leon mengernyitkan dahinya,"ada apa Wilona? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan?" Jawab Leon yang mulai merubah posisi duduknya menghadap ke arah Wilona. 


Wilona pun menatap lekat ke arah Leon. "Oke,aku harus tetap menanyakan hal ini. Apapun jawabannya aku akan menerima keputusan Leon." Batin Wilona 


"Aku hanya ingin menanyakan surat cerai yang ingin kamu ajukan kepadaku,Leon." Ucapan Wilona berhasil membuat Leon menegang dan langsung merubah raut wajahnya menjadi datar dan dingin. 


"Surat cerai? Kenapa harus ada surat cerai? Apakah kamu ingin sekali bercerai dariku?" Leon mencecar beberapa pertanyaan pada Wilona dan membuat wanita itu terheran-heran dengan apa yang diucapkan Leon. 


"Bukankah kamu sendiri yang ingin menceraikan aku,Leon? Kamu sendiri yang mengatakan pernikahan kita hanya dua bulan saja dan setelah itu kamu akan menceraikan diriku dan menikah dengan Claudia." Jawab lirih Wilona dengan menundukkan wajahnya,wanita itu masih meremas kedua jarinya dan berusaha menetralkan perasaannya saat ini. Sebenarnya Wilona tidak ingin adanya perceraian dalam pernikahan mereka,tapi Wilona sadar diri siapalah dia dalam kehidupan Leon. Bahkan Wilona tahu kalau dihati Leon masih ada nama Claudia.