WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
18. Manusia Bodoh



Makanan yang sudah dipesan oleh Leon dan Roy sudah berada di hadapan mereka,sedangkan Javier dan Wilona sudah menghabiskan makanannya sebelum Leon dan Roy datang. Kedua pria itu menikmati makan malam mereka dengan obrolan yang hanya Javier dan Roy saja. Sedangkan Leon dan Wilona hanya diam,sesekali mereka saling menatap satu sama lain. Leon menatap tajam ke arah Wilona,gadis itu merasa begitu sangat tidak enak seperti seorang  yang kepergok selingkuh dengan pria lain. Leon sudah selesai dengan makannya begitu pula  dengan Roy. 


"Apa kalian berkencan?" Pertanyaan Leon berhasil membuat Javier,Roy dan Wilona menatap dirinya


Javier tersenyum ke arah Leon dan kemudian menatap Wilona yang juga sedang menatapnya.


"Tidak,kami hanya berteman saat ini,tapi tidak tahu nanti." Jawab Javier dengan santai,sedangkan Wilona membulatkan matanya. Gadis itu benar-benar tercengang dengan ucapan Javier,Javier pun tersenyum ke arah Wilona dan mengedipkan sebelah matanya. Wilona hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan terpaksa. 


"Memangnya kenapa jika mereka berkencan?" Akhirnya Roy membuka suaranya


"Pertanyaan yang tepat,Roy. Memangnya kenapa kalau aku dan Wilona berkencan?" Tanya Javier pada Leon


Tangan kiri Leon yang berada di atas pahanya pun mengepal dan rahangnya mengeras,pria itu menghela nafasnya dengan kasar. Lalu,Leon tersenyum sinis menatap Wilona. Sedangkan Wilona yang mendapat tatapan seperti itu segera menundukkan kepalanya. 


"Apakah kamu sudah begitu mengenal wanita ini kak?" Tanya Leon pada Javier dan menatapnya sekilas.


Javier mengernyitkan alisnya "apa maksud kamu,Leon?" Javier bertanya kembali pada Leon


Roy menatap bergantian ke arah Javier dan Leon,sedangkan Wilona masih menundukkan kepalanya. 


"Apakah kak Javier tahu tentang gadis yang ada di sebelahmu ini kak?" 


"Tentu,aku sangat mengenal Wilona. Sebenarnya ada apa ini Leon?" 


"Cih,memangnya kakak tidak tahu berita di luaran tentang gadis ini?" Leon berucap dengan menatap Javier dan Wilona,lalu pria itu melanjutkan kembali ucapannya. "Yang aku dengar gadis ini adalah seorang penggoda dan suka berganti pria hanya untuk mengincar hartanya saja." Perkataan Leon membuat Javier menatap Wilona,lalu Wilona pun menatap kembali ke arah Javier. 


Javier yang cukup lama mengenal Wilona pun tidak percaya dengan gosip murahan tentang temannya ini. Javier dapat membaca sesuatu dari wajah Wilona yang  tidak ada raut gelisah,marah atau kesal dari wajah itu. Yang ada hanya terlihat wajah tenang dan dingin yang ditunjukkan oleh Wilona. Kemudian Javier menunduk dan tersenyum kecut menatap adik sepupunya itu. 


"Jangan langsung percaya atas ucapan orang lain,pastikanlah lebih dulu kebenarannya. Jangan sampai menjadi fitnah,Leon." Ujar Javier kepada Leon 


Sejenak suasana hening diantara keramaian malam di Galata Bridge. Wilona mengangkat gelas yang masih berisikan jus mangga kesukaannya,sebenarnya gadis ini juga sedang menahan degup jantungnya. Tapi,dengan susah payah gadis ini bersikap normal seakan-akan tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu diantara mereka. Begitupun dengan Javier,pria itu mengambil sebuah kentang goreng milik Roy dan memakannya dengan sangat santai. 


"Kebanyakan orang memang lebih senang membicarakan kekurangan orang lain tanpa memikirkan kekurangan pada dirinya sendiri. Setiap masalah harus segera diselesaikan dan dicari akar masalahnya, karena dapat mengarah pada fitnah, dosa dan kerusakan. Sesekali pinjamlah hati mereka yang kamu lukai dan kamu fitnah, supaya kamu tahu artinya sabar dan bagaimana ikhlas,Leon. Asal kamu tahu,aku mengenal Wilona sebelum kamu bahkan kekasihmu itu mengenalnya. Aku adalah orang yang selalu tahu tentang bagaimana Wilona yang sebenarnya,bahkan hal-hal sekecil apapun yang disukai Wilona aku tahu." 


Hening


Suasana kembali semakin hening dan mencekam,ucapan Javier mampu membungkam mulut Leon. Bahkan saat ini Leon tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah mendengar ucapan yang Javier lontarkan. Rasa malu menyergap tidak bisa dibohongi,saat ada seseorang yang berani mengatakan sindiran berupa nasihat kepada Leon. Pernyataan Javier berdengung di telinga Leon dan seakan menampar wajahnya. 


Javier tetap tersenyum menatap Leon,pria itu tahu watak adik sepupunya itu. Leon adalah pria yang sedikit keras kepala,maka dari itu Javier tidak ingin berlama-lama berdebat dengan adiknya ini. 


"Baiklah,abaikan saja setiap perkataan yang ku ucapkan tadi. Hanya saja aku yang sebagai teman dari Wilona merasa tidak senang atas ucapan yang kamu lontarkan tentang dirinya. Anggaplah aku seperti sedang mewakili isi hatinya saat ini." 


Leon terdiam,sekarang dia mengerti kenapa Javier begitu membela wanita ini. Apalagi dengan sikap santai Wilona,sepertinya dia tahu kalau Javier tidak akan terpengaruh dengan apa yang diberitakan tentang dirinya. 


"Baiklah ini sudah larut malam,aku akan mengantar Wilona pulang. Kami duluan." Ujar Javier dengan menggandeng tangan Wilona. Gadis itu hanya menurut saja dengan Javier,dirinya juga sudah sangat tidak betah berada lama-lama di dekat Leon. 


Leon masih terdiam tidak ada sahutan atau sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Roy juga masih mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Javier. Detik kemudian Roy menyenggol lengan Leon yang juga masih terdiam menatap lurus ke arah kursi yang tadi diduduki oleh Wilona. 


"Leon" panggil Roy 


"Hhmm" 


"Kenapa tadi kamu bicara seperti itu tentang Wilona? Memangnya kamu mengenal Wilona?" Pertanyaan beruntun yang diberikan Roy kepada sahabatnya itu membuat Leon kembali menjadi manusia bodoh yang tidak mampu menjawab pertanyaan apakah dirinya benar-benar mengenal Wilona? 


Leon berdiri dari duduknya "lebih baik kita pulang,aku sudah lelah." Leon meninggalkan Roy yang masih keheranan dengan sikap sahabatnya itu. Lalu,pria itu pun juga meninggalkan restoran dan menyusul Leon yang sudah berjalan dengan cepat,Roy pun berlari kecil untuk mengejar langkah Leon. 


...*******...


Dalam perjalanan pulang bersama Javier, Wilona hanya terdiam menatap lurus ke arah jalan yang ada di depan dari balik kaca mobil,sesekali gadis itu menoleh ke arah pemandangan sebelah kiri jendela. Javier melirik sebentar  ke arah Wilona yang masih saja terdiam sejak keluar dari restoran. 


"Wilona" 


"Hhmm" jawab Wilona sambil melihat sebentar ke arah Javier. 


"Are you ok?" Tanya Javier 


Wilona menoleh ke arah Javier "sure,i'm fine" jawabnya sambil tersenyum


"Itu baru temanku" ujar Javier sambil mengacak rambut Wilona. 


"Aish,kebiasaan banget deh,kakak kenapa sih suka banget ngeberantakin rambut aku?" Kesal Wilona sambil merapikan rambut yang berantakan dengan wajah kesalnya. 


"Kenapa? Gak suka ya? Tapi,aku suka pas lihat kamu cemberut kaya gini,hahaha." Javier tertawa begitu geli,baginya membuat Wilona kesal seperti ini adalah kesukaannya.