
Leon memasuki sebuah restoran dimana dirinya sudah ditunggu oleh seseorang yang ingin bertemu dengannya. Leon melihat kesana kesini untuk mencari seseorang sampai akhirnya seorang pria yang duduk di pojok dekat jendela melambaikan tangan ke arah Leon. Leon pun tersenyum dan membalas lambaian tangan dari pria yang sedang duduk.
"Maaf aku terlambat datang kak. Kak Javier terlalu mendadak mengajakku untuk bertemu disini." Ucap Leon sambil menarik kursi untuk duduk
Javier pun tertawa kecil "aku tahu pasti kamu bisa datang kalau dadakan seperti ini. Jika direncanakan kamu pasti akan lupa,haha" jawab Javier dengan masih tertawa
"Cih,memang ada apa kak Javier ingin bertemu denganku?"
"Apa aku tidak boleh rindu dengan adikku? Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah,sudah pasti waktumu akan habis dengan pekerjaan dan keluarga kecilmu nanti."
Leon menatap Javier yang masih tersenyum,seketika ucapan Javier membuat Leon semakin berpikir dalam menjalani pernikahan yang tidak didasari oleh cinta.
"Jangan berpikir terlalu jauh,aku tahu bagaimana calon istrimu itu. Wilona gadis yang baik,dia tidak akan pernah mengecewakan dirimu. Percayalah padaku,dan dengan seiringnya waktu kalian akan bisa saling mencintai." Jelas Javier yang mampu membuat Leon memicingkan matanya ke arah Javier.
Leon mengangkat kedua bahunya "entahlah,tapi bagaimana pun aku tidak ingin jatuh cinta kepada wanita penggoda dan gila harta seperti dirinya" jawab sinis Leon
Javier tersenyum mendengar ucapan Leon "terserah kamu saja,yang jelas aku sudah memberitahukan sedikit tentang Wilona. Aku akan mengingat apa yang kamu ucapkan Leon,dan jika kamu menyakiti hati Wilona. Bersiaplah untuk kehilangan Wilona selamanya,karena pada saat kamu menyakiti hati Wilona pada saat itu jugalah aku yang akan membawa Wilona pergi jauh dari kehidupanmu. Mungkin nanti aku yang akan menggantikan posisimu untuk menjadi suami Wilona." Pernyataan Javier membuat Leon mengepalkan tangannya sampai memerah karena menahan amarahnya.
"Oh,lihatlah video yang sudah aku kirim ke nomormu. Kamu akan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kamu akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah selama ini. Bijaklah dalam bersikap Leon,kamu adalah seorang CEO yang memiliki tingkat kecerdasan yang cukup tinggi. Aku pamit karena sore ini aku akan melakukan operasi pada pasienku. Selamat tinggal,ingatlah untuk bijak dalam menyikapi sesuatu." Lanjut Javier yang sambil meninggalkan Leon sendirian di meja itu,sampai seorang pelayan datang membawakan pesanan Leon yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh Javier.
Leon langsung membuka pesan yang dikirim oleh Javier,betapa terkejutnya Leon ketika melihat video yang dikirimkan oleh Javier ke ponselnya. Sebuah video dimana dirinya melihat Claudia terjatuh ketika mereka berada di taman dengan Wilona.
Fakta yang mengejutkan dirinya bahwa Leon sudah salah paham terhadap Wilona,sehingga Leon marah dan mendorong gadis itu tanpa rasa bersalah. Bahkan dirinya tidak menyangka kalau Claudia bisa berbuat seperti itu.
Di mata orang yang tidak menyukai Wilona, maka gadis itu akan selalu salah dan kecil. Tak peduli sejauh apapun perjalanan Wilona, setinggi apa tangga yang dinaiki oleh gadis itu, seluas apa pengalamannya. Karena mereka memang tidak pernah tahu bagaimana proses dari Wilona dalam hidup ini.
Tubuh Leon melemas,semua ucapan Claudia kembali terngiang dalam ingatannya dan saat itu juga ucapan Grace dan Javier terus menghantuinya.
"Siapa yang benar? Jika aku selama ini salah menilai,itu artinya aku sudah memfitnah gadis itu. Ya tuhan,apa yang sudah aku perbuat?" Ucap Leon dalam hatinya dengan mengusap kasar wajahnya.
Dengan cepat Leon menghubungi Roy,dan meminta asistennya itu untuk mencari tahu tentang Claudia dan juga Wilona. Roy sempat tertegun dan bingung dengan permintaan atasannya ini.
"Sepertinya data itu kurang lengkap,cepatlah lakukan saja perintahku." Jawab Leon dengan langsung mematikan sambungan telepon dengan sepihak.
Leon segera meninggalkan restoran itu dan segera kembali ke mansion,Leon merasa saat ini benar-benar sangat lelah. Baru saja Leon memasuki mobil,ponselnya tiba-tiba saja berdering dan sebuah panggilan dari papanya yang meminta Leon untuk datang ke butik Rose untuk fitting baju. Dengan terpaksa Leon menuruti perintah sang papa.
Mobil Leon melaju membelah jalan raya yang terlihat sedikit renggang,Leon tiba di butik yang dimaksud oleh Averus setelah menempuh jarak sekitar satu jam kurang sepuluh menit. Leon segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik,seorang pelayan toko menghampiri Leon dan mengantarkan Leon keruang dimana sudah ada Averus,Rose,Grace dan juga Wilona. Pandangan mata Leon langsung tertuju pada Wilona yang sedang berdiri di depan cermin besar dengan mengenakan gaun pengantin. Leon sempat terpesona pada Wilona dengan penampilan seperti itu,matanya terus menatap Wilona tanpa berkedip sedikitpun. Leon yang masih berdiri di depan pintu itu tiba-tiba terhentak ketika seseorang membuka pintu sehingga tubuh Leon terhuyung ke depan dan terjatuh dengan posisi tertelungkup.
"Aww" ucap Leon menahan rasa sakit di dengkulnya
"Leon" ucap Averus dan Grace yang terkejut dengan kejadian ini.
Suara tawa dari arah belakang Leon membuat semuanya ikut tertawa termasuk Wilona.
"Oops… Leon,kamu tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang membuka pintu tersebut sambil menahan tawanya.
Leon bangun dari posisinya dan menoleh ke arah belakang,dengan sangat kesal Leon memukul lengan orang itu.
"Sialan kamu,Gabriel. Kalau mau masuk kasih kode dong,biar aku bisa menyingkir." Ucap kesal Leon dengan terus memukul lengan Gabriel
"Sorry brother,kode aksesnya lagi nge hang,hahaha" jawab Gabriel dengan gelak tawanya.
"Sudah-sudah lagian kamu juga Leon,kenapa kamu malahan diam berdiri di depan pintu?" Averus berucap dengan diiringi tawa kecilnya.
Dengan sangat kesal Leon pun duduk di sofa yang ada di depan Wilona,sejenak Leon melirik Wilona yang masih tertawa kecil dan ketika tatapan mereka bertemu,Leon semakin terpesona dengan penampilan gadis itu dengan tawa yang terlihat sangat manis. Wilona langsung merubah raut wajahnya lagi dan menundukkan kepalanya ketika Leon menatapnya.
Leon pun kembali menetralkan dirinya dan duduk dengan menyilangkan kakinya. Rose datang dengan membawakan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun yang dikenakan oleh Wilona saat ini. Ketika Leon melihat Rose membawa setelan tuxedo itu pun akhirnya berdiri dan menerima pakaian itu dan segera mencobanya di ruang ganti.
Leon keluar dari ruang ganti dengan tuxedo yang diberikan oleh Rose. Wilona menatap Leon dengan dada yang semakin berdegup kencang. Pria yang selama ini selalu ada di hatinya kini berdiri di depan cermin besar bersama dirinya.