WHEN I FOLLOW MY HEART

WHEN I FOLLOW MY HEART
7. Dia Melupakan Dirimu



Leon mengerutkan dahinya "apakah itu benar nona? Bukankah anda terkenal sering bergonta-ganti pasangan? Bahkan yang saya tahu anda sering menggoda para pria kaya untuk mengambil harta mereka lalu sesudahnya anda meninggalkan mereka dan bahkan yang ku dengar anda sering keluar masuk hotel bersama pria hidung belang,benarkah itu nona?" Leon bertanya dengan menatap tajam Wilona.


Wajah Wilona begitu tenang lalu ia tersenyum "jika saya memiliki kekasih kenapa saya berada disini menerima undangan dari sahabat saya untuk makan malam disini tuan." Jawab Wilona dengan sangat santai,bahkan ia sudah memprediksikan kalau akan ada pertanyaan seperti itu yang keluar dari bibir Leon. 


Grace dan Gabriel menatap tidak suka pada Leon. Tapi,tidak di pedulikan oleh Leon. 


"Kak,bisakah lebih baik diam jika kakak tidak begitu mengenal Wilona." Kesal Grace pada kakaknya,Leon. 


Leon tersenyum mengejek pada Grace dan juga Wilona. Bahkan ketika tatapan Wilona dan Leon bertemu tergambar jelas di mata Leon kebencian untuk Wilona. Wilona hanya menanggapi dengan senyuman pada Leon. 


"Maaf tuan Leon,kita tahu di dalam dunia yang penuh pura-pura ini, seseorang sibuk memisahkan dusta dari kata. Fitnah itu dimulai oleh si pembenci, dipanjangkan oleh si naif, dan diterima bulat-bulat oleh si bodoh. Fitnah berawal dari menduga-duga,jangan berfikir negatif dan menuduh jika belum pasti kebenarannya.Jangan berprasangka, karena belum tentu yang kamu lihat sesuai dengan dugaan mu. Tuduhan yang salah itu berarti fitnah. Apakah anda mengenal baik saya tuan Leon Averus Aksara?" Wilona menatap Leon dengan tatapan datar pertanyaan yang dilontarkan dari bibir manis Wilona membuat Leon tercengang dan mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras karena menahan amarah. Lalu ia berdiri dengan masih menatap Wilona dengan kebenciannya dan berlalu keluar meninggalkan ruangan itu. 


Brak…


Semua terkejut mendengar pintu yang ditutup dengan sangat kencang oleh Leon. Wilona mencoba menetralkan dirinya kembali dan menundukkan kepala,ia merasa malu dengan kejadian ini. Karena dirinya lah Leon meninggalkan ruangan ini,dan ia juga merasa tidak enak dengan paman Averus. Sedangkan Averus sangat mengenal Leon,ia merasa sangat tidak enak kepada Wilona karena pertanyaan bodoh yang Leon lontarkan. 


"Maafkan saya paman ,karena ucapan saya mungkin menyakiti hati putra anda. Saya minta maaf atas itu." Ucap Wilona yang masih menundukkan kepalanya. 


Averus tersenyum menatap Wilona "angkatlah kepalamu nak,kamu tidak salah. Leon memang seperti itu,justru paman yang merasa sangat tidak enak dengan dirimu. Paman minta maaf atas nama Leon,nak." 


"Iya Wilona aku sebagai adik dari kak Leon meminta maaf atas ucapan kakak ku tadi." Kini Grace juga membuka suaranya,bukan hanya Averus saja yang menyesalkan pertanyaan yang dikeluarkan oleh Leon. Tapi Grace dan Gabriel pun sangat menyesalkan hal itu.


(Dikamar Leon)


Brak… 


"Sialan sekali wanita itu,apa dia bilang tadi? Naif? Bodoh? Kurang ajar,dengan secara tidak langsung gadis itu sudah mengatai diriku bodoh dan naif. Sialaan… Awas saja,kita lihat nanti. Tunggu pembalasan dari diriku Wilona."  Teriak Leon di akhir ucapannya,untung saja kamarnya itu kedap suara. Jika tidak mungkin teriakan Leon dapat didengar juga oleh Wilona yang masih berada di ruang keluarga. 


Leon benar-benar sangat marah saat ini,ia sudah terkena hasutan dari kekasihnya itu. Claudia sangatlah hebat membuat seseorang percaya dengan kata-katanya. Terkadang lisan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.


Sesaat keheningan Leon rasakan,helaan nafas terdengar keluar dari mulutnya. Lalu ia bangkit menuju kamar mandi,setibanya di kamar mandi Leon segera mencuci wajahnya lalu ia menatap cermin yang cukup besar di depan wastafel itu. 


"Tapi,apa yang dikatakan gadis itu benar. Apakah aku mengenalnya dengan baik? Sepertinya tidak,aku baru mengetahui namanya saja dari Claudia dan bertemu langsung pun baru kemarin pagi di taman  dan malam ini. Bagaimana bisa aku mengenalnya?" 


"Haahh,sebaiknya aku istirahat saja." 


Leon segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil pakaiannya. Setelah ia berganti pakaian Leon langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Sebelum tidur ia mengirim beberapa pesan untuk kekasihnya yang sedang berada di luar kota karena urusan keluarga. Maka dari itu Leon ada di mansion,biasanya setiap malam Minggu Leon dan Claudia selalu menghabiskan malam mereka di sebuah klub malam dan hotel untuk melampiaskan hasrat mereka. 


"Claudia… Aku merindukan dirimu,seandainya kamu menerima lamaran ku. Mungkin saat ini kita sudah menikah sayang." Lirih Leon


Ya,beberapa bulan lalu Leon sudah melamar Claudia,tapi sayangnya Claudia menolak ajakan Leon untuk menikah. Dengan alasan Claudia masih belum siap,karena ia harus mewujudkan impiannya menjadi wanita yang sukses. Tapi,Leon merasa bukan itu alasan yang tepat menurutnya Leon juga merasa  ada sesuatu yang disembunyikan oleh  Claudia. 


...**********...


 


Wilona saat ini sedang berada di dalam mobil. Sepeninggalnya Leon dari ruangan itu,Wilona akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Karena ia merasa sangat tidak enak jika harus berlama-lama di sana. Wilona tidak diantar oleh Albert,tapi Grace menyuruh tunangannya itu untuk mengantar Wilona. Sebenarnya Wilona sangat menolak,tapi Grace tetap memaksa dan Gabriel pun tidak keberatan sama sekali. Wilona duduk di samping kemudi,menatap jalan raya yang masih terlihat sangat ramai. 


"Wilona" panggil Gabriel


Wilona pun menoleh ke samping "ya" ucapnya singkat


"Mmm,soal Leon jangan kamu ambil hati setiap kata-katanya ya. Sebagai orang terdekatnya aku minta maaf padamu." Gabriel sesaat melihat wajah Wilona yang terlihat datar tanpa ekspresi itu. 


Wilona tersenyum pada Gabriel "sudah aku katakan aku sudah memaafkan dan melupakan setiap kata-kata Leon tadi." 


"Terima kasih,pantas saja Grace sangat menginginkan dirimu menjadi sahabatnya bahkan dia ingin di pernikahan kami nanti kamu sebagai bridesmaids nya." Ucap Gabriel dengan tawa rendahnya,Gabriel menceritakan bagaimana  ketika Grace memintanya untuk memenuhi keinginannya itu. Wilona yang mendengar cerita Gabriel pun tertawa lepas. 


Tidak terasa mereka pun sudah sampai di depan pintu pagar rumah Wilona. Sebelum turun Wilona mengucapkan terimakasih kepada Gabriel karena sudah mengantarkan dirinya pulang kerumah. Setelah itu Wilona  turun dari mobil Gabriel dan melambaikan tangannya ke Gabriel. 


Wilona langsung masuk ke kamar setelah bibi Rose membukakan pintu untuknya. Wilona segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya,setelah selesai ia mengambil satu stel piyama di lemarinya. Ketika membuka lemari ia melihat sebuah hoodie berwarna hitam yang digantung dengan plastik laundry,lalu ia menyentuh hoodie itu. 


"Dia melupakan dirimu Wilona." 


Ucapnya lirih,tangannya masih memegang hoodie tersebut bahkan saat ini hoodie itu sudah ada di pelukannya. Wilona kembali terisak mengingat ucapan yang dilontarkan Leon tadi. Jujur hatinya sangat sakit ketika orang yang dicintai bertanya dan berkata seperti itu. Bahkan Leon hanya mendengar dari orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu seperti Grace.