
"Kamu sedang apa disini?" Tanya Leon pada Bryan
"Aku sengaja datang kesini untuk menemuimu,aku pikir kamu akan lari pagi di taman ini dan dugaanku benar." Jawab Bryan sambil tertawa kecil
"Kamu tahu,Bryan. Kami sangat merindukan kamu,selama ini kamu kemana saja?" Tanya Leon pada Bryan yang penasaran kemana saja sahabatnya selama ini.
"Emm,itu… Aku bisa menjelaskannya,tapi tidak disini." Jawab Bryan
"Kalau begitu kita ke penthouse ku saja,sekalian kita sarapan." Leon mengajak Bryan
"Apa itu tidak merepotkan? Aku dengar kamu sudah menikah." Bryan merasa tidak enak dengan istrinya Leon karena datang bertamu sepagi ini.
"Tidak masalah,istriku orang yang sangat menyenangkan." Jawab Leon dengan semangat
Akhirnya Bryan mengiyakan ajakan Leon,mereka pun meninggalkan taman tersebut. Setibanya di depan pintu penthouse,Leon langsung mengajak Bryan untuk masuk ke penthousenya,sebelum Leon sudah mengirim pesan pada Wilona bahwa ia akan mengajak Bryan untuk sarapan bersama. Beruntung Wilona membuat sarapan lumayan banyak,niatnya jika tidak habis ia akan membawanya ke butik dan memberikannya pada karyawannya. Leon sudah sampai di depan penthousenya dan mempersilahkan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam.
"Wilona… Sayang…" Teriak Leon memanggil nama Wilona
"Bryan sebaiknya kamu duduk saja dulu,aku akan memanggil istriku. Mungkin dia sedang berada di dapur." Pinta Leon pada Bryan dan mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk,
"Hhhmm,aku akan menunggu kalian di sini." Jawab Bryan sambil menjatuhkan bebannya di sofa ruang tamu
"Sayang….. Wilona…" Leon kembali meneriaki nama istrinya,tapi masih tidak mendapatkan sahutan akhirnya Leon memutuskan untuk pergi ke dapur mencari istrinya.
Wilona yang sedang berada di dapur berdiri di depan wastafel mengernyitkan dahinya saat mendengar kata 'sayang' yang dilontarkan oleh Leon.
"Sayang?" Gumam Wilona mengulang apa yang dikatakan Leon
"Sayang kamu di mana?" Leon mencari Wilona ke arah dapur dan mendapati istrinya sedang berdiri di dekat wastafel
"Sayang…"
Wilona terkejut dan langsung membalikkan badannya,menatap Leon dengan wajah herannya.
"Sayang,ada apa dengan kamu?" Tanya Leon pada Wilona dan semakin membuat wanita itu memicingkan matanya
Dengan perlahan Wilona menghampiri Leon yang sedang berdiri di dekat pintu dapur. Memandang Leon dari atas hingga ke bawah kakinya sambil berjalan memutari tubuh Leon.
"Wilona ada apa denganmu?" Pertanyaan Leon membuat Wilona tersadar dari apa yang sedang dilakukannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Wilona bukannya menjawab malah bertanya kembali pada Leon dan parahnya lagi tangan Wilona sudah berada di kening Leon,memeriksa apakah Leon demam atau tidak.
"Tidak panas…" gumam Wilona pelan,tapi masih dapat didengar oleh Leon
"Sayang…" Leon memanggil Wilona kembali,dan langsung mendapat tatapan mencurigakan dari Leon.
"Kamu tidak panas,lalu apa ada yang salah denganmu? Apa kamu sakit?" Lagi-lagi Wilona melontarkan pertanyaan yang membuat Leon kebingungan dengan sikap Wilona.
"Tapi,jantungku tidak baik-baik saja saat ini karena kamu begitu dekat denganku saat ini." Batin Leon yang masih menatap Wilona dengan begitu lekat
"Eoh itu…. Tadi aku tidak salah dengar kan? Kamu berteriak memanggil sayang. Siapa yang kamu panggil Leon?" Tanya Wilona dengan polosnya dan membuat Leon mati kutu dengan menunjukkan wajah paniknya.
"Emm,itu…." Leon bingung bagaimana menjelaskan pada Wilona. "Ada teman lamaku datang berkunjung,aku ingin kamu menyapanya juga,ayo." Leon menarik tangan Wilona untuk mengalihkan pembicaraan mereka mengenai panggilan sayang itu.
"Tapi,Leon…."
"Ayo…"
Leon menarik tangan Wilona sampai menuju ruang tamu,dan disana Bryan sudah duduk manis menunggu kedatangan Leon dan Wilona.
"Maaf kamu jadi harus menunggu kami,Bryan. Perkenalkan ini istriku,Wilona." Ucap Leon sambil menoleh ke arah Wilona. "Sayang kenalkan ini Bryan sahabat aku." Lanjut Leon kembali
Wilona menatap Bryan dengan tatapan yang mengatakan bahwa wajah Bryan tidak asing bagi dirinya. Sedangkan Bryan yang ditatap seperti itu merasa sangat kikuk bahkan tangan Bryan yang ingin bersalaman dengan Wilona pun menggantung di depannya. Leon melihat istrinya yang hanya berdiam diri menahan rasa kesal dan rasa cemburunya karena Wilona menatap Bryan seperti itu,menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Wajahnya seperti tidak asing bagiku,sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya?" Wilona bicara dalam hatinya saat melihat wajah Bryan.
"Sayang" Leon menyenggol lengan istrinya
Wilona terperanjat agak terkejut karena Leon menyenggol lengannya. "Iya,ada apa?" Tanya Wilona yang sedikit sinis
"Seharusnya aku yang bertanya ada apa,sayang." Leon menjawab dengan sedikit suara yang sedikit tertahan karena merasa kesal atas jawaban dari Wilona.
"Saya Wilona,tuan. Senang berkenalan dengan anda." Wilona langsung beralih pada Bryan dan mengabaikan ucapan Leon. Wanita itu pun menjabat tangan Bryan dan mempersilahkan pria itu untuk duduk. Leon masih berdiri dan terus mengamati Wilona,mungkin saat ini dirinya tidak menyangka bahwa Wilona semakin menyebalkan.
"Tunggulah akan aku buatkan teh untuk kalian." Ujar Wilona yang langsung menuju ke arah dapur
Sepeninggalnya Wilona yang ke dapur untuk membuatkan mereka minum,Bryan menatap Leo lalu matanya menjelajah ke seluruh penthouse milik sahabatnya itu.
"Leon,apa kamu tidak mempekerjakan seorang maid? Karena sejak tadi aku tidak melihat salah satu dari mereka,bahkan saat ini istrimu yang harus membuatkan aku minum. Apa kamu sekejam itu pada istrimu,Leon?" Tanya Bryan yang langsung menatap tajam sahabatnya itu
"Sialan kamu,aku tidak sekejam itu sama istriku. Memang dulu saat menikahinya ada niatan seperti itu,tapi saat ini aku malah tidak ingin membuatnya kelelahan. Kalau urusan membuat makanan itu Wilona sendiri yang menginginkan untuk memasaknya,sedang pada maid lainnya datang hanya untuk mengerjakan tugas yang lainnya. Semua itu permintaan istriku,aku tidak bisa membantunya,karena menurutku masakan yang Wilona buat itu lebih enak dibandingkan koki yang aku pekerjakan disini." Jawab Leon yang berkilah tidak ingin dikatakan kejam terhadap istrinya sendiri.
Bryan pun tertawa,"aku kira kamu sekejam itu Leon,hahaha." Bryan meledek Leon dengan tawanya yang terbahak-bahak
Leon berdecak kesal dan melempar bantal sofa ke arah Bryan,dengan cepat Bryan pun menghindar dan mengambil bantal yang dilempar Leon dengan cepat. Tidak lama Wilona pun datang dengan membawakan nampan yang berisikan dua cangkir teh untuk Leon dan Bryan.
"Silahkan tehnya,tuan." Ujar Wilona yang menaruh nampan itu di meja
"Terima kasih,tapi tolong panggil saja Bryan tanpa ada embel tuannya,nona Wilona." Jawab Bryan yang merasa canggung dengan Wilona
"Eoh,kalau begitu panggil saya juga dengan nama saja." Ucap Wilona kembali pada Bryan.
"Ayo,diminum teh nya Bryan." Leon pun mempersilahkan sahabatnya untuk mencicipi teh buatan istrinya itu.