
Ku tuangkan kembali es Americano sengaja ku beli banyak untuk menemani malam ku. Rasa pahit menyebar didalam mulutku.
Menatap indahnya langit hitam, membuat pikiranku sedikit tenang.
Terkadang disaat aku depresi aku akan minum es dengan jumlah banyak, bahkan sampai gigi ku linu dibuatnya. Tapi lebih baik meminum es daripada alkohol bukan?.
Disaat aku akan meminum es lagi, seseorang merebut es itu dariku, "Sudah, nanti kau bisa sakit gigi."
Pria itu meletakan es milikku di meja kembali.
Dia Rimba.
"Kakak kapan sampai?"
"Barusan tadi."
"Ngapain ke sini."
"Mau nengok kamu lah." Kak Rimba duduk di sampingku, terdengar dia menghembuskan nafas kasar.
"Ada apa?" Tidak seperti biasanya Kakak datang, padahal biasanya dia datang pada malam Sabtu, tapi dia datang pada malam Senin. Sedikit rasa curiga melingkupiku.
"Violet mandul." Aku menutup mulutku tidak percaya, ayolah mereka sudah menikah tiga tahun lebih dan tak kunjung memiliki keturunan. Aku turut prihatin dengan Kak Rimba dan Kak Violet.
"Ini sulit untuk ku dan Violet terima. Namun berbagi cara sudah aku lakukan tapi tak kunjung ada hasil." Nathan yang baru menikah satu tahun lalu dengan Kak Ara. Setelah pernikahannya yang ke satu tahun Kak Ara di nyatakan positif hamil.
Tentu Violet sedih karena tak bisa memberikan keturunan untuknya. Namun mau bagaimana lagi? Ia sudah sayang kepada Violet, baginya tidak memiliki anak bukan masalah besar, mungkin mereka belum diberi amanah untuk menjaga anak titipan Tuhan dan dia akan terus bersabar.
"Lalu bagaimana ke depannya?" Ku acuhkan bahuku, tidak tau kedepannya mau seperti apa?.
"Pasti Kak Violet sangat sedih."
"Ya, dia mengurung dirinya didalam kamar bahkan tidak berangkat mengajar dikampusnya."
"Kakak yang sabar ya. Aileen janji nanti kalo Aileen punya anak, anak Aileen akan memangil Kakak dan Kak Violet Dady dan Bunda."
Aku tersenyum mendengar ucapannya barusan, aku mengacak rambutnya gemas. Dia sungguh manis. Tidak ada wanita seperti Aileen yang bisa membuat moodnya kembali membaik dengan cepat.
"Kenapa kau minum es sebanyak ini?" Ku pikir dia sudah meninggalkan kebiasaan buruknya, nyatanya tidak.
"Depresi. Pekerjaan kantor membuatku lelah. Belum lagi CEO perusahaan yang sangat menyebalkan itu. Membuat aku darah tinggi."
Bagaimana tidak? Setelah kejadian kemarin Pak Aldo tiba-tiba selalu mengganggunya dan meremehkan dia. Berakhir setiap kali bertemu mereka selalu bertengkar karena Aldo yang menyebutnya wanita mata keranjang. Hey! Apa salahnya menatap para pria tampan? Lagian dia juga masih lajang jadi tidak ada yang berhak mengaturnya agar tidak memandang para pria tampan.
Salah sendiri pak Aldo menjadi duda. Kesepian. Bahkan Pak Aldo adalah rajanya berbohong, ia sering menjadi sasaran salah sangka oleh pak Carles.
Akhir-akhir ini ia sering mendapat jeweran telinga, cubitan dan tarikan di kerah baju oleh Pak Carlos karena bersikap tidak sopan kepada Pak Aldo. Salah Pak Aldo sendiri yang memancing kemarahan ku.
"Bekerja memang seperti itu, terkadang mendapat bos yang menyebalkan dan menyenangkan. Itu rejeki mu mendapatkan bos menyebalkan seperti dia."
"Iya, seperti Kakak bos menyebalkan."
Kak Rimba juga tidak ada bedanya dengan Pak Aldo malah sebelas dua belas dengan pak Aldo.
"Kau masih berbakat bukan?"
"Entahlah, aku tidak pernah bermain lagi. Kau tau? Aku trauma."
"Cobalah sesekali kau mengasahnya lagi, jangan buat trauma itu lepas darimu. Ingat kau adalah adikku, sudah sepatutnya kau menuruni darah ini."
Aileen menghembuskan nafasnya pelan, menyesap rasa es kopi yang membuat kepalanya dingin.
"Membedah, merangkai dan menciptakan kembali. Itulah Kakak." Ku donggak kan kapala ku.
"Kau adalah karya seni ku yang paling istimewa." Rimba tersenyum misterius.
Harus ku akui ini, Kak Rimba adalah psychopat sekaligus pembunuh berantai. Ah, semua psychopat pasti pembunuh berantai bukan?.
Rimba suka mengenakan pakaian hitam. Bahkan saat musim panas pun ia memakai pakaian panjang. Kulitnya yang putih dan rambutnya yang sedikit gondong serta wajah yang rupawan membuat semua orang tak akan percaya kalau Rimba adalah psychopat.
Aura yang dimilikinya sangat menakutkan, sorot matanya yang tenang serta senyum tipis yang terus tercetak jelas di wajahnya membuat semua orang terkagum dan bergidik ngeri sekaligus menatap Rimba.
"Aku sedikit bersyukur Kak Violet sulit memiliki anak, aku takut nanti anak kalian menuruni sifat mu Kak."
Rimba tersenyum simpul, "Jika Violet tau kebenaranya, maka kau orang pertama yang patut aku curigai, Sayang."
Kami saling melemparkan senyum.
Asal kalian tau Rimba memiliki komunitas psychopat yang tersebar di negara ini, Aileen bahkan pernah ikut bersamanya. Orang-orang terlihat normal dari fisik namun saat berinteraksi langsung mereka aneh.
Di sanalah tempat para pembunuh berantai bergabung, membuat suasana semakin horor dibuatnya.
Dan Rimba memiliki agensi pembunuh bayaran, mereka yang masuk dari sana akan dicari bakatnya, dari artis, koki, ballerina dan lain-lain untuk menjalankan misi. Masa trainee pembunuh bayaran di agensi milik Rimba adalah sepuluh tahun dan setelah keluar mereka akan diberi kehidupan normal serta akan diberikan tugas dari setiap kliennya.
Aileen juga salah satu murid Rimba. Namun ia dimasukan kedalam Geng Mafia milik Rimba bukan menjadi pembunuh bayaran.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Sorot matamu sama sepertiku, aku sangat mengenal dirimu. Maka dari itu aku akan menjadikan kau karya seni terindah yang pernah aku miliki."
Sialan.
Aku ini memang karya seni Rimba. Bahkan separuh hidupku aku habiskan bersama Rimba diumur ku yang baru dua puluh tahun.
Kata rimba, "Kau obsesi ku, jika ada sesuatu yang mengganggu mu katakan saja padaku, jangan ditahan. Jika benci seseorang lepaskan saja. Kakak akan membedah, merakit dan menciptakan ulang dirimu suatu saat nanti." Itulah kalimat yang terlontar dari mulut Rimba saat dirinya baru menginjak usia tujuh tahu.
Diusianya yang ke sepuluh tahun, rimba secara diam-diam membawaku untuk belajar menembak, mengunakan pedang, bela diri dan membunuh. Semua Rimba ajarkan kepadaku dengan bantuan ke dua sahabatnya yang ternyata sama-sama gila seperti Rimba.
Namun yang aku tunggu-tunggu adalah kalimat membedah, merakit dan menciptakan ulang.
"Kakak tidak bersungguh-sungguh bukan dengan kalimat itu?" Rimba sedari tadi memang menatapnya dengan senyum tipis, entah mengapa Rimba selalu tersenyum tipis. Apakah pipi dan bibirnya tidak sakit?.
"Membedah, merakit dan menciptakan ulang."
"Jika kau mau aku akan melakukannya. Tapi aku masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu semua." Senyumnya bertambah lebar, membuat udara disini menjadi bertambah dingin secara tiba-tiba.
Mata mereka saling beradu pandang.
Pernah saat itu Rimba membunuh seorang pria tepat didepan matanya tiga tahun yang lalu, Rimba berkelahi dengan Pria yang dijadikan karya seninya. Rimba terlihat baik-baik saja dengan cipratan darah pria itu namun, pria itu mati dengan tusukan dimana-mana dan pukulan palu di kepala dan punggungnya hingga berlubang. Darah muncrat dimana-mana bahkan mengenai sebagian wajahnya.
Tubuhnya bergetar, berjongkok dengan menutup telinganya ketakutan, didepannya sang iblis berdiri menjulang, tersenyum tipis menatapnya.
Walaupun ia dilatih menjadi pembunuh oleh Rimba tapi belum sekalipun ia membunuh orang apalagi menyaksikan secara langsung seperti ini.
Sejak saat itu mentalnya terguncang, ia takut melihat darah. Namun, ia selalu menonton film thriller, Horor dan psychopat yang kadang membuatnya sulit tidur.
Lambat laut traumanya membaik tidak seperti sebelumnya yang seperti orang gila jika melihat Rimba. Namun Rimba selalu datang dan mendekapnya serta menjelaskan semuanya dengan pelan.
Gila bukan?
Tapi, inilah Rimba. Sosok kriminal. Buronan para polisi. Sisi psycho nya yang tidak diketahui sang istri dan keluarga besarnya.
Tanpa aku sadari Rimba terpikat olehku. Sebagai obsesinya.
Membuat aku hampir gila dan ingin kabur, namun Rimba selalu menemukanku hingga akhirnya Rimba bertemu Violet dan membuat Rimba tidak terlalu memperhatikanku sekarang karena sudah ada Violet yang menjadi istrinya.
Sedikit tenang.
Namun masih waspada terhadap dirinya. Bisa dibilang aku adalah sepupu tersayangnya. Karena perilakunya yang manis kepadaku dibandingkan kepada saudara-saudara lainya.
Kakakku psychopat.