The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 9 A {Masa Kecil Aileen}



Mobil yang di kendarai Daniel telah sampai di tujuan yang diberikan oleh Rimba. Sontak mereka berempat langsung keluar dari dalam mobil dan berlari berlindung ke belakang Rimba yang berdiri dengan tenang ditemani beberapa pengawalnya.


Aileen naik ke atas mobilnya dan berdiri sambil tersenyum menunjukkan wajah lebamnya kepada Rimba.


"Kakak, aku membawa hadiah untuk mu. anggap saja sebagai oleh-oleh dariku." ucapku sambil tersenyum miring.


"Turunlah..." aku menurut mendengar apa yang Kak Rimba perintahkan kepadaku.


Aku turun ke bagian depan, Kak Rimba berjalan ke arahku dan merentangkan tanganku, saat Kak Rimba membantuku turun tiba-tiba suara Claude menganggu Indra pendengaran kamu.


"Lihatlah betapa Rimba sangat menyayangi obsesinya itu, walaupun sudah memiliki istri tetap saja adiknya menjadi obsesinya." sindir Claude yang berjalan mendekat ke arah Rimba.


Sedangkan Rimba hanya melirik Claude dengan malas, ia meraih tubuh adiknya dan menurunkannya. Ia merangkul tubuh adiknya dan berjalan mendekat ke arah Claude dengan tatapan tajam.


"Berhenti menganggu adikku sialan. Ingat kau sudah memiliki istri bahkan anak." maki Rimba tepat di depan wajah Claude.


Claude menaikan sebelah alisnya, "Lalu apakah aku tidak boleh mengejar obsesi ku? Apa kabar dengan obsesi mu dengan adikmu ini?"


Rimba mengeram marah mendengar mendengar jawaban Claude yang selalu memiliki jawaban untuk menjawabnya.


langsung saja satu Bogeman diterima Claude dengan sangat baik. Tubuhnya tidak oleng hanya kepalanya saja yang menghadap ke samping.


Sedangkan Claude yang baru mendapatkan tonjokan kuat dari Rimba, membuka mulutnya dengan lebar dan mengerjakannya dengan perlahan.


"Beginilah cara mu menyambut sahabatmu yang sudah lama tidak mengunjungimu? ayolah beri aku pelukan!!!" Rimba hanya menatapnya dengan datar, Claude berdecak dengan kesal.


Ia menyingkirkan tubuh Aileen yang masih bergelayutan di lengan Rimba. lalu dia beralih memeluk Rimba dan menepuk-nepuk punggung Rimba.


lalu Claude melepaskan pelukannya, "Kenapa kau kembali?" tanya Rimba dengan nada dingin.


"Oh ayolah, seharunya kau senang aku kembali dan kau memiliki teman disini."


"Aku kembali karena Istriku meminta agar pindah ke sini kembali. Apa salah?"


"Cih, dia masih bodoh ternyata." Rimba berdecak sinis mendengarnya.


❤️❤️❤️


"Maafkan aku yang tidak jujur kepada kalian." ucapku sambil menahan sakit karena Anna sedang mengobati luka-lukaku.


"Tapi kenapa kau bisa masuk ke dalam dunia seperti itu?" tanya Daniel dengan lirih dan pandangan matanya tampak kosong.


"Maafkan aku, untuk kali ini aku belum bisa menceritakannya sekarang. Aku janji suatu hari nanti aku akan menceritakannya kepada kalian."


"Apa ini salah satu alasannya mengapa kau bisa menemukan pelaku pembunuhan kedua orang tuaku sampai ke akar-akarnya?" tiba-tiba Rafael membuka suaranya dengan pandangan berkaca-kaca.


Karina yang berada di samping kekasihnya itu mengusap punggung Rafael.


"Aku meminta bantuan kepada Kak Rimba." lalu aku terdiam. Aku menundukkan kepalaku lagi. Anna sudah selesai mengobati lukaku.


"Apakah setelah ini kalian akan menjauhiku?" tanyaku dengan lirih.


mereka semua terdiam hingga akhirnya Rafael kembali membuka suaranya, "Terima kasih karena telah membantuku. Aku tidak akan meninggalkan mu, Bagiku kalian semua adalah keluargaku."


"Itu benar Aileen, sejahat apapun kau, kau tetaplah sahabat kami, adik kami. Aku tahu kau melindungi kami semua kan?" jawab Karina dengan senyum mengembang.


"Aileen aku akan selalu mendukungmu, aku bangga kepadamu karena mampu melindungi kami berempat dalam situasi yang berbahaya." Daniel mengelus rambut Aileen dengan pelan.


"Aileen hanya kau teman kami yang tidak memandang status sosial. Kau berada dalam kalangan atas sedangkan kami? status sosial kami bahkan sangat rendah sebelum kau datang. Dengan adanya kau pandangan semua orang sedikit berubah kepada kita, kau tulus menyayangi kami. kau menganggap kami berempat kakak mu bukan?" aku menganggukan kepalaku dengan wajah yang memerah.


"Jadi jangan pernah berpikiran kita akan meninggalkan mu, itu tidak akan pernah." tak kuasa menahan air mata akhirnya air mataku tumpah juga.


aku memeluk Anna dengan kencang, menangis haru dan bahagia disaat yang bersamaan. Anna mengelus punggungku dengan sayang. Lalu aku merasakan pelukan hangat dari mereka semua kepadaku.


kami berlima berpelukan bersama, saling melindungi dan mendukung satu sama lain itulah janji kita berlima.


dulu saat masih kuliah kami sering berpelukan bersama, bermain bersama atau bahkan pergi jalan bersama-sama. Bagi kita berlima, kita semua adalah sama.


Mau yang buruk ataupun mau yang baik mereka semua sama di mata kami.


persahabatan kita sudah di rajut dengan penuh lika-liku dan kebahagiaan yang tidak bisa didungkapkan lagi dengan kata-kata.


Aileen yang berasal dari keluarga kaya raya sedangkan ke empat temanya dari keluarga miskin tak malu untuk makan di rumah ke empat temannya ataupun menginap di rumah mereka.


padahal mereka sudah melarangnya karena tidak pantas bagi Aileen menginjakkan ke tempat mereka tumbuh namun Aileen tetap Aileen dengan keinginannya yang tidak bisa dibantah ataupun di ganti.


awalnya Aileen terkejut dengan apa yang mereka jalani namun Aileen belajar bagaimana rasanya bekerja keras demi mendapatkan sesuap nasi.


Aileen sering berkunjung ke rumah keempat sahabatnya itu sambil belajar bagaimana caranya menjalani kehidupan mereka.


Dari masak, mandi, mencuci pakaian. Aileen melakukannya tanpa malu dan malahan dia sangat semangat untuk melakukannya.