The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 1C



"Aku pulang." Tak ada jawaban, aku melangkah masuk kedalam rumah Paman Sam.


Suasana sangat sepi bahkan hening, karena sudah larut malam dan aku langsung masuk kedalam kamarku dan Arka. Kulihat Arka sudah tertidur.


Ku ganti bajuku dan ku baringkan tubuhku disamping Adikku, "Maafkan Mamah yang tidak mengurus mu hari ini."


Setelah itu aku tertidur dengan nyenyak, karena aku sangat lelah sampai-sampai aku tidak mandi karena saking ngantuk nya aku, aku tidur dengan berhadap-hadapan dengan Arka.


                                ***


"Ah....enaknya." ucapku saat seseorang memijat tubuhku, aku sengaja memanggil pegawai pijat refleksi, aku selalu memanggil pria yang datang karena jika perempuan kurang enak dan tenaganya lebih besar pria jadi aku suka meminta agar pria dipijat olehku.


"Kenapa bisa kau yang mengendong pria?" Tanya Nathan, Nathan menemani Adiknya itu pijat. Memang Aileen selalu meminta ditemani saat dipijat oleh pria.


"Dia sekarat Kak, aku ingin membantunya karena takut dia mati dadakan disampingku. Oh...enaknya."


"Lalu kau meninggalkannya?"


"Tidak. Aku sudah menghubungi orang tuanya dan dia sedang bersama orang tuanya."


"Kau mau kesana lagi?"


"Ya, apa Kakak mau mengantarku?"


"Tidak. Minta antar saja sama Alex, aku ada urusan nanti." Jawab Nathan dengan memainkan ponselnya.


"Hm..." Ku pejamkan mataku sambil menikmati pijatan ini. Setelah dipijat punggungku terasa lebih baik dari sebelumnya.


"Kau sudah mendapatkan pekerjaan?"


"Ah bisa pijat kepalaku? Kepalaku sakit." Pintaku lalu duduk sebelum duduk ku tutupi tubuhku dengan kemeja.


"Ya, silahkan." Tukang pijat itu pun memijat kepala Aileen. Aileen menajamkan matanya menikmati pijatan kepalanya ini.


"Belum. Aku masih mencarinya lagi."


"Semangat, oke."


"HM...terima kasih Kak."


                                 ***


"Arka mau ikut Mamah?" Tanyaku dengan mengendong Arka. Arka menggelengkan kepalanya.


"Arka mau pergi dengan Kaka Violet nanti." Ucapnya dengan nada manja.


"Ke mana?"


"Kaka Violet janji mau beliin Arka mainan sama pakaian."


"Janji ya, sama Mamah. Kalo Arka engak boleh minta gendong sama Kaka Violet maupun sama Kaka Rimba. Ingat Arka kan sudah besar."


"HM...Arka janji." Terakhir kali Arka pergi bersama kak Rimba dan Kaka Violet, Arka meminta digendong oleh Kak violet tentu Kak Violet tak sangup, ia  malu akan hal itu kepada Kak violet yang statusnya masih pacar Kak Rimba dulu.


Setelah mengendong Arka bermain aku pergi meninggalkannya untuk ke rumah sakit bersama dengan Alex.


Ku bawa buah-buahan yang sengaja sudah aku kupas dan ku taruh kedalam kotak makan dengan rapi, ada anggur, Apel, semangka, melon, jeruk, kiwi, jambu dan pir. Tak lupa kubawa kan jus alpukat untuk pria itu.


"Sudah semua?" Tanya Alex saat aku memasuki mobilnya.


"HM...sudah." Alex menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


"Alex apakah kau sudah sembuh?" Ya Alex memang 2 tahun ini bergantung dengan obat-obatan karena kecelakaan dua tahun lalu.


"Aku sudah tidak minum obat lagi sekarang."


"Syukurlah..." Ucapku dengan tersenyum kepadanya.


"Terima kasih." Ucapku kepada Aileen.


"Untuk?"


"Karena telah menyelamatkanku waktu itu dan sekarang kau menyelematkan orang lain seperti kau menyelamatkan aku." Ucapku dengan terkekeh.


"Ah, kau benar." Aku baru ingat ternyata kejadiannya hampir sama.


Kami sampai dirumah sakit. Aku dan Alex langsung pergi ke ruangan pria itu dirawat. Ku ketuk pintu ruangan inap itu.


Laku terbukalah ibu pria itu lalu tersenyum dan mempersilahkan aku dan Alex masuk.


"Kau datang ternyata. Lihat putraku sudah sadar sekarang." Ucap Ibu dengan memperlihatkan putranya.


"Terima kasih telah menolongku." Ucap Carlos  dengan tersenyum kepada wanita yang menyelamatkannya itu.


"Namaku Carlos. Siapa namamu?"


"Namaku Aileen dan dia Kakak sepupuku Alex." Aku juga memperkenalkan Alex kepada Carlos.


"Duduklah, Aileen. Ibu akan ambilkan kamu minum." Aku duduk di samping ranjang Carlos.


"Ah terima kasih Ibu."


"Bagaimana, apa yang masih di rasakan oleh Kakak?" Tanyaku kepada Carlos.


"Lidahku masih pahit, aku mual, kepalaku sakit, tubuhku menggigil."


"Ah begitu. Semoga cepat sembuh Kak. Ini makanlah sudah aku potongkan dari rumah. Kakak mau makan buah apa?" Ucapku dengan menyodorkan buah yang ku bawa dari rumah.


"Aku mau Pir saja." Ku ambilkan pir kepadanya, kalu Carlos memakannya.


"Mamah tahu, Aileen menggendongku dari halte bus sampai Taxi." Ella selaku ibu kandung Carlos terkejut mendengarnya. Ia langsung duduk disamping Aileen dan memegang pundaknya.


"Kau serius, mengendong anakku?" Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Wah, pasti sangat berat. Apakah punggungmu sakit? Ibu akan memijatnya untukmu."


"Ah tidak usah Bu, saya sudah memijatnya tadi." Tolakku dengan halus.


"Terima kasih banyak telah menyelamatkan anakku Aileen." Ucapku dengan terharu dengan pengorbanan Aileen untuk putraku. Aku memeluk Aileen sebagai tanda terima kasih ku padanya.


"Kau pasti sangat bangga memiliki adik sepertinya?"  Tanyaku kepada pria yang datang bersama Aileen.


Alex hanya tersenyum mendengarnya.


                               ***


Saat sore harinya Aileen dan Alex pulang. Aileen mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris. Ya itu adalah Carlos yang memberikannya, karena kebetulan Sekertarisnya akan berhenti bekerja karena akan memiliki anak.


Tentu saja ia sangat senang dengan hal itu. Ia dan Alex tidak pulang ke rumah malainkan  ia pergi ke pasar malam untuk mencari cemilan.


Mereka berjalan bersama beriringan, "Kau tau sudah lama aku mencoba untuk menghapusnya namun tidak bisa. Aku harus bagaimana Leen?" Tanyaku saat kami duduk didepan danau buatan.


Setelah membeli beberapa Jajanan untuknya, kami  putuskan untuk duduk didepan danau.


"Kau pasti bisa Lex, aku percaya itu. Jika pun itu tidak bisa maka bukalah hatimu untuk wanita lain, aku yakin perasaan itu akan hilang dengan sendirinya."


"Bagaimana denganmu?" Tanyaku menghadap ke arahnya.


"Tidak tau." Jawabku dengan cuek. Aku lanjut makan kripik yang aku beli dengan meminum es coklat.


Alex yang mendengar jawaban cuek Aileen, memikirkan ide jahil untuknya. Ia mengambil roti dengan selai coklat dan toping strawberry itu dan memakannya didepan Aileen yang melamun tak percaya dengan apa yang Alex lakukan.


"ALEX KAU MEMAKAN ROTI KE SUKAAN KU.    KEMBALIKAN SEKARANG." teriakku marah kepadanya yang dengan seenaknya memakan makananku.


Alex hanya menjulurkan lidahnya membuatku semakin kesal saja. Kami akhirnya berbagi makanan bersama walaupun dilengkapi dengan sedikit keributan dan menjadi tontonan orang jalan. Kami tidak perduli itu yang terpenting kami kenyang.


Sedangkan dalam situasi Rimba yang menemani istri dan Adik sepupunya ini berbelanja. Hanya diam sedari tadi ia dicueki oleh dua orang ini yang sibuk berbelanja.


"Arka ini bagus untukmu." Ucap Violet sambil mencocokan baju itu dengan tubuh Arka.


"Bagus, Kak. Arka suka."


"Baik, kita ambil yang ini." Ku masukan kedalam keranjang yang di bawa oleh Rimba, suaminya.


Rimba hanya mengekori mereka dari belakang, sekaligus dirinya ikut berbelanja jika ada barang yang dia suka, dia akan ambil tanpa sepengetahuan Violet dan Arka yang sibuk dengan dunia sendiri.


"Aku seperti asisten saja." Keluhnya saat menuruti ajakan istrinya berbelanja. Sudah lebih dari 2 jam ia berada didalam mall ini dan istrinya itu masih memutar-mutar untuk mencari pakaian yang bagus.


Memang benar pria yang selalu rasakan jika berbelanja itu bosan dan menjengkelkan. Namun kenapa jika berbelanja dengan Aileen itu berbeda?.


Ya, karena Aileen seperti dirinya sekalinya suka langsung ambil tidak lihat ukuran ataupun harga. Mereka sama-sama memiliki gaya yang sama.


Kaos, hoddie, jaket dan kemeja adalah kegemaran mereka untuk mengoleksinya. Waktu dulu mereka sering berbelanja bersama terkadang juga Nathan ikut untuk berbelanja bersama.


Sebenarnya Alex juga memiliki toko pakaian. Alex memiliki perusahaan yang bergerak di bidang fashion namun harganya mahal jadi mereka malas untuk membeli brand Alex. Kurang ajar bukan? Tapi itulah mereka selalu mencari yang murah.


Sekalinya pergi ke perusahaan Alex, Aileen dan Nathan tidak tahu diri sekali. Mereka mengambil baju sesuka mereka walaupun itu tidak akan membuat Alex bangkrut tapi itu sangat menyebalkan untuk Rimba.


Aileennya memang berbeda.