
Seorang pria dewasa yang berdiri tegak dengan gaya angkuhnya. Menatap lurus ke depan, melihat bagaimana Anggota Valhalla yang sudah datang ke markasnya.
Ia tersenyum penuh arti, lalu ia melirik ke belakang tepatnya ke anak lelaki yang ia culik dan ia ikat dengan posisi menggantung.
"Apakah kita akan turun?" tanya Ravi, kapten Devisi 3.
"Tentu kita akan turun. aku sangat penasaran dengan adik yang selalu Rimba banggakan itu."
Izana membalikan tubuhnya menghadap ke arah Ravi.
"Kau jaga dia, jangan sampai kabur. Kerahkan anak buah mu untuk berjaga-jaga, karena bisa jadi mafia lain akan datang."
"Kemungkinan Claude akan datang walaupun dia berada di pihak netral." Izana menganggukan kepalanya paham.
"Aku tak perduli Claude datang menjadi musuh atau penengah. Yang ku inginkan hanya Valhalla hancur dengan pendirinya sekalipun." Sorot mata Izana tampak penuh dengan tekad.
Malam ini, ia akan berduel dengan Rimba. Waktu yang selalu ia nanti-nanti.
...***...
Pasukan Valhalla yang dipimpin oleh Rimba, Alex dan Aileen berjalan semakin mendekati markas Black Dragon.
Di arah yang yang berlawanan juga pasukan Black Dragon yang dipimpin oleh Izana, Lucas,
Dan juga Etan Ezra si bocah kembar.
Kedua pasukan itu berjalan dengan wajah yang serius sekaligus garang. Tidak ada yang membawa benda tajam atau semacamnya. Karena seorang pria akan bertarung dengan tangan kosong.
Sampai akhirnya dengan jarak sekitar 10 meter, kedua geng itu menghentikan langkah kakinya. Izana dan Rimba saling beradu tatap, Izana dengan senyum sinisnya sedangkan Rimba dengan wajah datarnya.
"Selamat datang, Rimba. Bagaimana kabarmu?" Izana memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Banyak omong sekali kau Izana. Dimana adik ku?" izana mengalihkan pandangannya ke belakang Rimba.
Deg...
Kenapa dengan jantungnya? kenapa berdetak dengan cepat? tatapan wanita itu yang sangat menawan, aura yang keluar juga sangat indah dipandang. Memikat atensi dirinya, seperti bunga yang indah membuat tidak bosan untuk dipandangi.
Ah jadi ini? pantas Rimba terlalu protektif kepada adik sepupunya itu, ternyata adiknya memiliki aura pemikat. Ia saja langsung terpikat dibuatnya.
"Adikmu?"
"Dia aman didalam sana." jawab ku dengan senyum sinis.
"Seperti tidak ada wanita lain saja, sampai merebut istri orang. kenapa? tidak laku ya dipasaran?" ejek Aileen membuat Izana merasa tertohok, gelak tawa terdengar sangat panas di telinga Izana.
"Aku laku sayang, cuman aku hanya ingin Oliver saja dalam hidupku. Apakah kau mau mengantikan posisi Oliver?"
"Tentu saja tidak. Aku sudah memiliki seorang pria dalam hatiku. Alah banyak bacot sekali kau, SERANG...." dengan keras Aileen berteriak menggem membuat semua pasukannya berteriak dan berlari lalu menyerang pertahanan lawan.
Ditengah kegaduhan antara Valhalla dan Balck Dragon. Rimba dan Izana sudah saling memukul antara satu sama lain.
"Brengsek."
"Kau yang brengsek." keduanya tak mau kalah, mereka masih terus memukul satu sama lain, seperti tak merasakan sakit akibat pukulan. Perkelahian mereka malah semakin menggila saat darah sudah terjatuh di tubuh mereka sendiri.
"Sepertinya aku menyukai adikmu." ucap Izana ketika tubuh mereka berdua terpental karena pukulan yang keras mereka layangkan.
"Cih, maka bersainglah dengan Claude." mereka berdua bangkit dan saling menerjang tubuh masing-masing lagi.
Percayalah, mereka berdua tidak akan bisa dihentikan sebelum Claude datang dan memisahkan mereka berdua saat ini.