
"Ayah kita sudah sembuh." Aldo menyentuh kening Arion dan masih terasa hangat.
"Belum." Arion mendengus sebal dan berbalik meninggalkan sang Ayah. Lalu datanglah Azura yang sama dengan Arion mengatakan kalau dia sudah sembuh.
"Ayah Azura sudah sembuh, boleh Azura menemui Mamah?" ku bungkuk kan badanku dan mengelus rambut putri kecilku ini.
"Azura masih sakit nanti saja ya. Ayah janji setelah kalian sembuh kalian boleh pergi bersama Mamah kalian ya? sekarang nurut dulu oke." Azura hanya mengangguk lemas lalu ikut bergabung dengan Kakaknya yang berbaring di ranjang.
Aldo keluar dari kamar si kembar, ia akan berangkat ke kantor sekarang.
"Mamah aku berangkat." ku cium pipi Mamah yang sedang membuatkan makanan untuk si kembar.
"Hati-hati dijalan." teriak Mama dari dalam.
"Iya. Aldo berangkat." teriakku balik.
***
Sedangkan dikamar Alex, Alex sedang mematung mendengar penuturan dari Aileen.
Menjadi kekasih Aileen selama satu Minggu? keluarganya ingin memberikan Alex kebahagian kepadanya dengan mengizinkan Alex memacari Aileen selama satu Minggu penuh setelah itu jangan harap Alex bisa mengulanginya lagi.
Kesempatan ini tak akan ia sia-siakan begitu saja walaupun dengan syarat harus menikah dengan Lisa, tak masalah baginya yang terpenting sekarang Aileen akan menjadi kekasihnya selama satu Minggu.
"Kau serius?" Alex masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aileen barusan.
"Jadi Alex mau tidak? kalau tidak ya sudah." ku tahan Aileen yang berniat berdiri dari duduknya.
"Tidak aku mau, Leen aku mau."
"Tapi kau harus tepati syarat ku itu ya?" ku anggukan kepalaku.
"Mulai sekarang kau kekasihku untuk satu Minggu penuh." Alex menutup matanya saat Aileen hendak mencium keningnya.
Ia merasakan bibir Aileen yang hangat menyentuh keningnya. Menikmati ciuman Aileen di dahinya. Di dahinya saja ia sudah sangat senang apalagi lebih dia sangat bersyukur sekali.
"Baiklah untuk kekasihku ini, aku akan berangkat bekerja dulu ya? pulang nanti aku akan kesini setelah menjemput Arka." Alex menganggukkan kepalanya.
saat Aileen hendak berdiri kembali, Alex lagi-lagi menahannya dan malah mengecup bibir Aileen singkat. Hanya mengecup tidak lebih.
Aileen terkejut namun ia tersenyum kepada Alex. Ia baru ingat saat ini Alex adalah kekasihnya bukan sepupunya jadi ia harus memperlakukan Alex seperti kekasih bukan sepupu.
Ku acak rambut Alex, lalu ku cium dahi, kedua matanya, hidung dan terakhir adalah bibirnya.
"Semoga cepat sembuh sayang." Alex tersenyum lebar mendapatkan kecupan dibibir ya.
"Hati-hati."
"iya."
...***...
Sebelum ke kantor Aileen mendatangi panti asuhan, ia mendatangi anak seumuran dengannya yang hanya terpaut usia 3 tahun darinya dan lebih muda darinya.
Ku dudukkan pantatku disampingnya. Ku rasakan ia menengok ke arahku, "Kau datang?"
"Kenapa memangnya? tidak boleh?" tanyaku cuek.
"Aku akan bekerja dan keluar dari panti asuhan ini."
"Mau kerja apa kamu?" tanyaku dengan nada tak suka. Sekolah aja belum lulus mau gaya-gaya'an kerja nih bocah.
"Sekolah dulu yang pinter nanti kalo mau kerja bisa aku pekerjaan kamu. Jangan banyak gaya kamu, belajar aja yang pinter. Uang yang aku beri kurang?"
"Bukan begitu, sudah cukup aku membebani dirimu. Mau aku bekerja jadi tukang kek ataupun gigolo kamu engak usah urusin hidup aku lagi." tiba-tiba dia marah-marah kepadaku.
"Jangan bilang kau mau bekerja jadi gigolo?" tebak ku menunjuk dirinya.
"IYA." lalu setelah itu dia pergi meninggalkan diriku. Aku memijat pelipis ku, kenapa dia nekat sekali hanya karena berpikiran dia hanya menjadi beban bagiku.
Aku-akui dia pria yang sangat tampan, kulit putih bersih, badan yang tinggi dan sedikit atletis karena dia bekas anak orang kaya. Tapi tidak menjadi gigolo juga, pasti banyak wanita-wanita dan Tante girang yang akan menyewanya nanti jika dia serius menjadi gigolo. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, aku harus mengawasinya lagi kali ini.
...***...
"AILEEN...." teriak Carlos dari dalam. Dengan cepat Aileen langsung masuk kedalam ruangan Carlos. Di sana Carlos sedang mencari-cari sesuatu.
"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong Carikan dokumen yang kemarin mendapat tanda tangan Aldo."
"Ih bapak Mah pelupa. Kan dokumennya ditaruh di dus ini pak." aku mengerutu sambil berjalan ke arah dus bawah meja Pak Carlos. Mencarinya dengan benar, sedangkan Carlos berdiri disampingnya dengan memperhatikan Aileen yang mencari dokumen.
"Nah ini." Ku serahkan dokumen itu kepada pak Carlos.
"Ye.....ketemu...." teriak girang Carlos seperti anak kecil saja.
"Sudahkan pak?" Carlos mengangguk namun sebelum pergi Aileen merapikan kekacauan yang Carlos buat, ruangannya berantakan dengan dokumen dan kertas-kertas yang menyebar.
Carlos duduk dan membaca ulang dokumen itu agar ia tidak salah. Membiarkan Aileen yang membersihkan ruangannya yang berantakan karena ulahnya.
"Leen? kok baju-baju kerja kamu bagus-bagus si?" Carlos memperhatikan baju yang Aileen pakai setiap hari, selalu unik dan bagus.
"Iyalah inikan punya Kakak aku."
"Kakak kamu penjahit?" tebak ku.
"Eem...lebih tepatnya dia seorang desainer."
"Apa nama bajunya?" semakin penasaran dibuatnya.
"Alexander Cullen. Tapi sebenarnya tidak semua pakaian yang aku kenakan milik dia, aku masih suka koleksi merek lainnya."
"Alexander Cullen? gila sih pakaiannya itukan sangat mahal Leen." ku sandarkan daguku pada telapak tanganku, menatap Aileen penuh kagum.
"Aku selalu meminta kepadanya tidak pernah bayar." Aileen terkekeh sedang kan Carlos menepuk tangannya penuh kagum bahkan ia berdecak kagum.
"Pakaian itu bisa mengartikan diri kita sendiri, kita berkualitas atau tidak. Bukan pamer namun hanya ingin menunjukan bahwa diri kita itu berkualitas." Benar juga perkataan Aileen.
"Kau benar Leen, aku akan mengubah penampilanku menjadi diriku sendiri, karena penampilan bisa menilai diri kita itu seperti apa? aku akan belanja sore ini." ucap Carlos penuh tekad yang membara saat ini.
"Kau terlihat cantik saat memaki pakaian seperti itu." pujiku kepada Aileen. Aileen ini termasuk wanita yang menarik menurutnya namun sayang ia tidak tertarik menjadikan Aileen pacar namun malah tertarik menjadikan Aileen adiknya.
"Aku memang cantik baru sadar saja bapak." ucapnya dengan berbangga diri.
"Nyesel aku mengatakan itu tadi."
... ***...
"PAK ALDO....DIMANA BAPAK BERADA?" aku berteriak didepan ruangan Pak Aldo.
"Sepi sekali dimana Anna?" pintu terbuka menampakkan Aldo dengan wajah yang berantakan.
"Bapak dari mana?"
"Dari kamar mandi, ngapain kamu teriak-terak?" baru saja ia masuk kedalam kamar mandi dan melaksanakan panggilan alam tiba-tiba terdengar suara teriakan membuat ia terkejut dan berlari ke pintu.
"Anna mana?"
"Dia sedang istirahat. Ngapain kamu kesini aku tanya sekali lagi?" suara Pak Aldo terdengar tidak bersahabat, sangat ngegas terdengar.
"Huh aku kan mau ngajak Bapak makan, disuruh sama Pak Carlos. Ya sudah, Dada...pak." saat hendak pergi meninggalkan Pak Aldo. Pak Aldo menarik lenganku dan ikut pergi bersama denganku.
"Ayo kesana." Aldo merangkul bahu Aileen, walaupun tinggi Aileen hanya sebatas lehernya tetap saja itu tinggi menurut Aldo.
"Bajumu bagus sekali."
"Wah iya dong, Aileen gitu loh." jawabku dengan berbangga diri.
Saat mereka sampai di kantin, Carlos melambaikan tangannya, ternyata dia duduk di pojok. Aileen dan Aldo menghampirinya, Carlos sudah memesankan makanan ditambah minuman langsung saja mereka makan lalu setelah makan berbincang-bincang ringan.
Aileen terkadang masuk ke dalam topik pembicaraan dan terkadang sibuk dengan ponselnya untuk memberi kabar kepada Alex agar makan dan minum obatnya.