
Aileen pulang ke rumah Paman Sam, karena permintaan dari Alex agar menginap dirumahnya, Arka sudah dijemput oleh Nathan tadi pagi.
Ia turun dari mobilnya dan langsung disambut pelukan hangat oleh adiknya yang tampan ini, "Mamah...."
"Arka sudah pulang? kemarin kemana saja HM...?" Arka memeluk pinggangku dan kamipun berjalan bersama.
"Arka main sama Kak Thomas ke rumah teman Kak Thomas. Temen Kak Thomas ulang tahun lalu Arka diundang, disana rame banget Mah. Arka suka disana."
"Oh ya? bagus dong jadinya Arka banyak temennya dong, udah pamitan tadi sama Kak Thomas kalo Arka menginap di rumah Paman?"
"Sudah katanya besok Kak Thomas mau kesini mau ngajak Arka main, boleh Mah?"
"Boleh dong, nanti biar Mamah ketemu sama Kak Thomas dulu ya." aku duduk diruang tamu, disana sudah ada Kak Rimba, Om Sam dan dengan istri-istri mereka.
"Paman, Tante." ku cium pipi mereka satu persatu lalu duduk disamping Tante Nathalie.
"Bagaimana keadaan Alex Tante?" ku sandarkan tubuhku di bahu Tante Nathalie.
"Sudah mendingan, infusnya juga sudah dilepas tadi siang oleh dokter. Kau tidak menemuinya? dia belum makan sama minum obat."
"Oh ya? kok bisa? ya sudah Aileen buatkan makanan dulu buat Alex. Arka mau makan lagi tidak?" aku yakin Arka pasti akan merasa lapar lagi nanti malam.
"Iya Arka mau makan." jawab Arka. Arka sedang duduk dipangkuan Violet, Arka memang dari kecil dimanjakan dan diperlakukan seperti anak kecil makanya sifat dan kelakuannya tidak bisa berubah menjadi dewasa.
"Buatkan semua orang saja Leen, mereka belum makan malam. Ayo Tante bantu." aku mengangguk dan membuat makan malam bersama dengan Tante Nathalie.
Aku dan Tante hanya membuat makanan sederhana yaitu nasi goreng dan ayam goreng. Hanya sebentar membuatnya dan yang lama itu membuat nasi goreng karena kami memiliki keluarga yang cukup banyak.
"MAKANAN SIAP, AYO TURUN...CEPAT...." seperti inilah jika ada aku dirumah, tidak perlu repot-repot mengetuk pintu kamar masing-masing hanya berteriak satu kali saja mereka sudah langsung turun, simpel bukan?.
Setelah semuanya berkumpul lalu kami makan, "Arka makan sendiri ya sayang? Mamah mau mengantarkan makanan buat Kak Alex, oke?" Arka mengangguk, namun sebelum aku meninggalkan Arka aku mengambilkannya makanan terlebih dahulu.
Lalu membawa nampan berisi dua piring dan dua gelas air putih untuk diriku dan juga Alex.
"Alex, Makan dulu." ternyata Alex sedang duduk di sofa kamarnya, ia menengok ke arahku dan mengangguk.
Suasana kamar Alex yang megah dan mewah terlihat seperti kamar di kerajaan saja bukan? tapi inilah keluarga Cullen, mereka suka suasana yang Royal dan emas. Bahkan mansion mereka termasuk jajaran mansion termewah dan termahal.
"Mau aku suapi atau makan sendiri?" tanyaku seraya duduk disampingnya lalu memangku satu piring untuk Alex.
"Suapi." ucap Alex seperti anak kecil.
"Baiklah bayi besar ku, ayo makan." Ku suapi Alex dengan pelan sesekali mengelap sudut bibirnya yang terdapat butiran nasi. Setelah selesai makan ia memberikan obat kepada Alex.
"Aku mandi dulu ya? Nanti aku kembali lagi."
"Jangan lama-lama." aku mengangguk dan keluar dari kamar Alex seraya membawa nampan bekas makan tadi.
Aku masuk kedalam kamarku dan langsung mandi, setelah mandi dan memakai pakaian aku bercermin, menatap pantulan diriku di cermin
Memakai kaos dan celana pendek, "Ah kenapa aku tidak bisa cantik seperti wanita lain." aku berdecak menatap pantulan diriku di cermin.
Setelah puas bercermin aku langsung pergi ke kamar Alex kembali.
"Mau jalan-jalan?" ajak ku kepada Alex.
"Ayo nanti kau bosan didalam kamar terus." Aku dan Alex keluar dari kamar, ku gandeng lengan Alex dengan mesra.
sindirnya kepadaku saat melihat aku mengapit lengan Alex, aku hanya menjulurkan lidahku kepadanya dan melewatinya.
kami berdua keliling mansion, berjalan beriringan. Karena mansion Sam ini sangat megah dan cukup mengeluarkan keringat jika memutari mansion ini.
Kami akhirnya duduk didepan teras mansion. Menikmati gelapnya malam yang membuat pikiran terasa tenang.
"Kau akan mulai bekerja besok?" Tanyaku kepadanya, aku merebahkan tubuh diatas rumput, sedangkan Alex duduk di sampingku dengan menatap indahnya malam yang ditaburi bintang-bintang.
"Iya, nanti aku yang akan mengantar dan menjemput mu bekerja."
"Ah romantis sekali pacarku ini." ku geser tubuhku lalu menjadikan paha Alex sebagai bantal di kepala ku.
"Nanti kalo kamu sudah sehat, kita jalan-jalan ya sayang. Kemana gitu, kencan misalnya." ku mainkan jari-jari tangan Alex.
"Kau mau kemana?" Alex mengecup bibirku singkat.
"Terserah kamu mau ajak aku kemana." Lalu hening, tidak ada yang membuka suara antara aku dan Alex, kita sama-sama menikmati indahnya malam saat ini.
"Aku sangat suka pria bertubuh kurus, sepertimu. Entah kenapa aku suka itu, apa lagi saat aku melihat Otot-otot mu itu." Alex terkekeh mendengar ucapan ku.
"Entah kenapa saat aku bersamamu ingin rasanya aku mengentikan waktu yang ada. Aku tidak ingin jauh darimu, ingin rasanya aku selalu dekat denganmu."
"Takdir kita itu seperti alam semesta. Kita bagaikan matahari dan bulan yang tidak pernah bertemu. Karena takdir menentang kita bersama. Aku jadi Matahari dan kamu jadi Bulan." aku menatap Alex dengan tatapan kagum, entah sejak kapan Alex belajar puitis seperti ini.
"Iya itu bener, Kamu itu udah kayak lampu aja tau engak? kamu menyinari hidup ku yang penuh dengan kegelapan dengan cahaya yang kamu punya, makannya kamu itu salah satu orang yang berharga di hidup aku." ku cium telapak tangan Alex sedangkan Alex memainkan rambutku.
"Andai saja aku bisa terus seperti ini bersamamu tanpa adanya waktu yang dibatasi. Aku jamin kamu akan menjadi wanita paling bahagia saat hidup bersamaku."
"Alex jika nanti aku berubah karena seseorang aku ingin kau mengembalikan ku seperti semula, aku ingin kau yang melakukannya sebagaimana kau melakukannya untuk adikmu." Ku tatap bintang-bintanh yang bersinar indah di langit.
"Kau tidak akan pernah berubah sayang." Alex mengelus rambutku dengan lembut. Aku memeluk perutnya menyembunyikan wajahku didalam kaosnya.
"Aku kan hanya bicara Lex, tak ada yang tau kan masa depan seperti apa? aku hanya bersiap-siap jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi."
"Kau tahu? ingin rasanya aku memutar waktu. Ingin rasanya aku mengganti takdir ini. Ingin rasanya aku mendekap mu erat, membuatmu tersenyum sepanjang hari dan..." aku keluar dari dalam kaos Alex dan menatapnya yang ternyata sedang menatap ku juga.
"Menjadi Pria bahagia dengan cinta yang dia miliki." entah kenapa aku tersentuh dengan perkataanya. Aku tau Alex juga pria normal yang mengharapkan balasan cinta.
Tapi mau bagaimana? aku tidak memiliki rasa kepadanya. Kami bersaudara. Terlebih kami sepupu kandung, aku sangat tahu silsilah keluarga Cullen begitupun dengan Alex. Namun Alex seolah tak terima dan selalu menyangkalnya.
"Ah Alex kau membuatku terharu, kan nangis jadinya." ku tutup mataku dengan jemari-jemariku.
Alex yang melihat itu menuntun kekasih sementaranya itu agar duduk. Wajahnya terlihat datar dan ia memeluk Aileen dengan hangat, Aileen terdiam dengan apa yang dilakukan oleh Alex.
"Berjanjilah kepadaku, saat semua ini berakhir kau tidak akan berubah kepadaku, jangankan berubah meninggalkanku pun haram bagimu." mendengar ucapan Alex membuat Aileen semakin merasa tidak enak kepada Alex. Ia balas memeluk pinggang Alex.
"Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu. Ini terlalu rumit Lex, kita saudara. Aku tidak bisa."
"Jadi kalau kita bulan saudara kau mau menerima dan membalas cintaku?" ku geleng kan kepalaku.
"Tidak juga. Tergantung kau masuk ke dalam kriteria ku atau tidak?" ku cium rahang Alex dengan lembut.
Tanpa mereka sadar Rimba dan Sam melihat interaksi mereka berdua dari atas balkon rumah.
"Lihat Ayah, putramu bahagia saat bersamanya." ucap Rimba dengan memperhatikan Aileen dan Alex yang masih berpelukan.
"Ayah sudah Putuskan jika perusahaan utama akan kau yang pegang sedangkan cabang akan Nathan yang ambil. Dan untuk bisnis gelap akan Kau dan Aileen yang ambil alih, Ayah harap mereka semakin berkembang bukannya bangkrut." Sam menepuk bahu anaknya beberapa kali sebelum meninggalkan putra sulungnya yang masih menatap adik-adiknya.