The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 7B




Aku duduk di atas kursi, binggung memikirkan Arka yang sebentar lagi akan pergi sekolah militer.


Aku berjalan keluar rumah dan menemukan Mona dan Alya sedang melakukan senam pagi. Aku pergi berjalan-berjalan ke Pantai.


"Mamah mau kemana?" aku menengok ke belakang dan menemukan Justine berlari mengejar ku.


aku berhenti sampai Justine berada di sampingku. Aku dan Justine berjalan bersama hingga duduk di bawah pohon sambil menikmati pemandangan laut yang indah.


"Bagaimana perlakuan keluarga Ayah ke kamu?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatian ku kepada Justine.


"Kakek dan Paman Sam sudah mulai berubah mereka sedikit lebih baik kepadaku." aku menganggukan kepalaku paham.


"Justine, jujur pada Mamah apa alasan mu pergi dari Panti asuhan. apa ada yang kau rencanakan?" aku menatap ke arah Justine.


Justine tampak menghela nafas panjang.


"Awalnya aku hanya pura-pura terlihat menyedihkan didepan mu. Aku kabur dari panti asuhan karena aku sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka kepadaku. kenapa mereka seolah-olah menganggap aku adalah aib dan tidak berharga sama sekali. Aku berencana melakukan sesuatu yang buruk kepada kalian semua. Namun..." aku terdiam mendengar cerita Justine. Jari-jariku ku mainkan.


"Ketika kau memelukku aku teringat akan Ibu. Aku merasa nyaman saat di dekatmu. Aku tidak tahu apa alasannya dan tiba-tiba saja aku berubah pikiran dan selalu ingin dekat disampingmu."


aku terdiam, menyisir rambutku dengan jemari-jemari ku. Lalu aku menunjuk bekas luka sayatan di leherku yang sudah tampak samar-samar akan hilang.


"Kau ingat ini?" tunjuk ku kepadanya.


"Ini luka yang Ayah berikan kepadaku. Demi menyelamatkan ku dari amukan ibuku Ayah rela membunuh ku." ucapku dengan tenang dan Justine juga tampak terlihat tenang dengan perkataan ku.


Flashback.


^^^Aku, Mamah dan Arka berjalan bersama-sama ke pasar malam. Setiap ada pasar malam aku dan Mamah serta Arka selalu datang. ^^^


"Mamah Aileen mau permen kapas."


"Baiklah, ayo kita beli." aku mengandeng Arka sedangkan Mamah mengandeng tangan ku.


"Permen kapasnya 2 ya." ucap Mamah kepada penjual permen kapas. Lalu Mamah memberikannya kepadaku lalu kami berbalik namun Kami terdiam saat mengetahui orang yang di belakang ku adalah Ayah.


"Ayah, Justine mau itu."


"Ayo beli sama Ayah." seperti itulah percakapan ayah dan seorang anak kecil yang terlihat seumuran dengan Arka.


"Ayah." panggil ku membuat Ayah menengok dan melihat aku, Mamah dan Arka.


"Siapa dia Tom?" tanya Sarah dengan nada tinggi menunjuk ke arah perempuan yang berada di samping suaminya itu.


"Sarah dengarkan aku dulu. Ayo bicarakan di rumah." Tom menarik tangan istrinya itu namun istirnya menyentaknya kasar.


"Dia selingkuhan mu? istri muda mu?" tanya Sarah kepada suaminya itu.


"Sarah, ayo pulang dulu kita bicarakan ini bauk-baik." tanpa sepengetahuan mereka aku menelfon paman Sam dan meminta dia untuk datang kesini karena kedua orang tuaku bertengkar.


Sarah yang gelap mata menarik anak yang berada di gendongan wanita yang bersama suaminya itu.


"TIdak, kembalikan anakku Sarah. Jangan anakku." Sarah menggelengkan kepalanya, ia mencekal anak selingkuhan suaminya itu dengan erat.


"Tidak. Kau pasti mantan suamiku kan? dasar pelakor, tidak adakah pria lain? sampai-sampai kau merebut suamiku?" Bella menggelengkan kepalanya, ia mencoba mengambil Justine dari Sarah namun tidak bisa.


"Sekarang kau pilih. Aku atau dia?" tanya Sarah kepada Tom.


"Aku tidak bisa Sarah. Aku mencintai kalian berdua dengan tulus." jawab Tom yang mencoba sabar setenang mungkin menghadapi istrinya yang emosi.


"Tom, selamatkan anak kita. Aku takut Justine kenapa-napa." jerit ketakutan Bella saat melihat Justine meneteskan air matanya.


Bella menarik-narik kemeja Tom dengan kuat, "SARAH BERIKAN JUSTINE KEPADAKU. SUDAH KU BILANG KITA PULANG DAN SELESAIKAN SEMUA INI DI RUMAH." bentak Tom yang ketakutan nanti istirnya akan berbuat hal nekad.


"Justine...hiks...." Bella menangis melihat putranya yang ketakutan seperti itu.


Tom menatap Putri satu-satunya dengan tajam. Tom menarik Aileen dan mengeluarkan pisau lipatnya dan mengarahkannya ke leher Aileen. ia akhirnya tidak bisa mengontrol emosinya.


"kau mau dia mati?" tanya Tom dengan tersenyum miring.


"Hiks...Mamah...." tangis Aileen pecah, ia ketakutan jika pisau Ayahnya akan menancap di lehernya.


"TOM KAU GILA? LEPASKAN DIA PUTRIMU." Bentak Sarah yang tidak terima kepada Tom.


"Kau pun sama gilanya Sarah. Cepat lepaskan Justine dan pulang lah bersamaku." Tom menjambak rambut putrinya dengan keras membuat sang Putri semakin mendongakkan kepalanya dan pisau itu sudah sedikit mengenai leher sang putri.


mereka menjadi bahan tontonan tidak ada yang berani melerainya karena Tom yang membawa pisau membuat mereka takut kalau Tom akan semakin nekat membunuh putrinya sendiri.


"Hiks...Ayah...hiks..." Aileen kecil menangis merasakan perih di lehernya yang tergores cukup dalam dengan pisau lipat milik Ayahnya itu.


"SIALAN KAU." Sam datang sedikit terlambat. Ia langsung memukul adiknya itu hingga terjatuh. Namun pukulannya malah membuat keponakannya terjatuh juga ke pelukan Tom.


Tom mendekap putrinya dengan erat dan langsung berdiri dari jatuhnya.


"Sarah pulang lah dulu, kita selesaikan masalah ini di rumah. Bawa anak-anakmu." Sarah mengangguk mendengarkan ucapan Kakak iparnya itu. ia menatap putrinya Aileen dengan iba.


lalu berjalan dengan membawa Justine yang masih berada di cengkeramannya dibantu oleh pengawal Sam. Sarah menyeret Justine dengan kasar membuat Bella selaku ibu kandungnya yang melihat tidak tega di buatnya.


"kembalikan Aileen bersamaku." Sam mencoba menarik Aileen namun ia kalah cepat dengan Tom yang langsung mengendong Aileen didepan dadanya.


"Dia akan bersamaku." lalu Tom Membawa Putrinya bersama dengan Bella.


Tom merasa bersalah kepada Putrinya, ia mendekap hangat sang Putri.


"Hiks...turunkan Aileen...kau bukan ayahku....hiks....Mamah....Aileen takut...Hua...." Aileen menangis dengan kencang saat berada di gendongan sang Ayah.


Tom menangis mendengar jeritan takut Sang Putri. Putrinya memberontak dalam gendongannya namun ia tetap mengendong nya dengan hangat dan tidak mau melepaskan pelukannya sampai dia masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Aileen di pangkuannya.


"Maafkan Ayah...ayah minta maaf....ayah tidak sengaja sayang maafkan ayah...." Tom melepaskan pelukannya dan menatap sang Putri. ia melihat darah yang meremas ke baju Putih putrinya, wajah putrinya sudah terlihat kosong.


kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan pelan lalu akhirnya tak sadarkan diri.


"TIDAK....AILEEN...BANGUN NAK....TIDAK....TIDAK..." Tom berteriak ketakutan saat mendapati putrinya tidak sadarkan diri.


Bella terkejut mendapati Aileen tidak sadarkan diri, "Pak cepat, bawa ke rumah sakit terdekat pak."


"Baik Non." Tom menangis. Ia menepuk-nepuk pipi Putrinya itu dengan pelan berharap putrinya mau membuka matanya kembali.


"Tidak Aileen. kau putri tersayang Ayah jangan pergi. Ayo buka matamu....Bella kenapa dia tidak membuka matanya?" tanya Tom kepada Bella.


"kemarikan Aileen, Tom." Tom menggelengkan kepalanya, ia mendekap putrinya dengan erat tidak mau memberikannya kepada Bella.


tubuh putrinya sudah lemas sekali dirasanya.


❣️❣️❣️


aku menutupnya kembali dengan rambut panjang milikku.


"Ayah hampir membunuhku demi menyelamatkan mu dari ibuku. Untungnya aku tidak apa-apa hanya syok. Disaat itu aku selalu ketakutan saat melihat Ayah dan dirimu. Aku trauma."


"Namun mau bagaimana pun, dia adalah seorang Ayah. Dia tidak mungkin dengan tega membunuhku. Ayah terus berusaha menghilangkan traumaku kepadanya dan juga kepada dirimu."


"Bukannya aku tidak suka kepada mu, hanya saja aku tidak suka dengan Ibumu walaupun ibumu sebenarnya baik. aku menerimamu sebagai Adikku namun aku tidak bisa menerima Ibu mu."


"Biarlah itu hanya masa lalu, sekarang orang-orang di masa lalu sudah tenang dan bahagia jadi kita sebagai masa depannya jangan pernah mengungkitnya lagi. Biarkan masa depan mereka juga bahagia." aku mengelus rambut Justine dengan sayang.


"Aku janji akan menjaga dan melindungi Mamah dari siapa pun yang akan berbuat jahat kepada Mamah." Aku menganggukan kepalaku, "Ya, Justine harus bisa melindungi Mamah karena hanya Mamah orang tua yang Justine miliki."