The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 10 C



"Tunggu anak-anak...." ucap ku dengan kewalahan. Ternyata mengasuh 4 anak sangat susah sekali, Arka, Arion dan Azura berlarian kesana-kemari. sedangkan Justine selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.


"Mamah cepet liat sini, ada harimau." Azura melambaikan tanya meminta ia mendekati. Ia pun berjalan mendekati Azura dan menatap harimau yang ditunjuk oleh Azura.


"Wah...iya benar harimau ya besar sekali." ia kagum melihat sekelompok harimau di kebun binatang.


"Mamah, Azura ingin itu." aku menggelengkan kepalaku saat Azura menunjuk harimau itu.


"Tidak bisa sayang, harimau itu tidak sembarang orang bisa memeliharanya. Bagaimana jika nanti Mamah belikan kucing saja?" ucapku dengan menundukkan tubuhku agar sejajar dengan Azura.


"Benarkah? Mamah janji?"


"Ya mamah janji."


"yeyeye....." Azura teriak kegirangan bahkan sampai lompat-lompat.


"Mamah...." aku berbalik kebelakang dan menemukan Arion yang sedang digendong oleh Justine. Justine membawanya mendekat ke arahku.


"Arion beli es krim, mamah mau?" aku menggelengkan kepalaku.


"Makan saja untuk Arion." ucapku sambil mengusap sisa es krim yang menempel dibibir Arion.


"Kemana Arka, Justine?"


"Dia pergi bersama Om Aldo. Katanya mau liat buaya." jawab Justine seadanya.


"Ah dia meminta pada orang yang tepat ternyata." gumam ku dengan lirih.


"Mamah...ayo...." teriak Azura dengan menarik tanganku. Aku menurutinya dan mulai berjalan berjelajah mengitari kebun binatang yang luas ini.


Sedangkan Aldo merasa dongkol dengan kelakuan calon adik iparnya ini yang meminta digendong olehnya sembari mencari dimana letak tempat buaya itu berada.


"Om..."


"Berhenti memanggil ku om. panggil aku kakak." ucapku dengan tajam.


"Baiklah, Kakak. Dimana buaya itu?"


"Sebentar lagi sampai, bersabarlah." ia melangkahkan kakinya dengan mengendong Arka yang berada di punggungnya itu.


Ia menghentikan langkahnya, berdiri didepan pagar besi, "Itu dia buaya nya."


"Wah...ternyata beda ya." aku mengerutkan keningku binggung dengan apa yang Arka ucapkan.


"Apa yang beda Arka? semua buaya memang seperti itu." jelas ku kepadanya.


"Kata Mamah buaya itu mirip dengan Kakak Aldo, tapi kenapa sekarang aku lihat begitu berbeda? apakah mamahku bohong?" tanya Arka dengan raut wajah binggung.


sontak pertanyaan Arka membuat Aldo mematung, ia mengetatkan giginya hingga terlihat urat lehernya.


"Apa Aileen yang mengatakan itu?" Aldo menatap buaya yang ada di bawahnya dengan tajam.


"Aileen mengatakan itu?" tanyanya ku dengan girang.


"Iya, lalu Mamah bilang selagi dia air, kalau dia di darat jadilah buaya darat seperti Kak Aldo." wajah Aldo berubah menjadi pias.


setelah dijunjung tinggi kenapa harus dijatuhkan secara tidak elit begini?.


kekasihnya memang benar-benar menguji emosinya ini.


"Arka mulai hari ini kau jangan selalu mempercayai kakak mu itu."


"Loh kenapa?" tanya Arka dengan terkejut.


"Terkadang tidak semua yang mereka katakan benar adanya." Arka mengangguk patuh.


"Tapi dia mamah ku, Arka harus selalu percaya dengan apa yang Mamah katakan." Aldo hanya tersenyum mendengarnya.


"Baiklah, terserah dirimu saja. Ayo kita kembali, nanti Aileen mencari kita."


"HM....HM...." aku berjalan dengan masih mengendong Arka. Arka ini sudah memasuki usia dewasa namun dia masih bertingkah seperti anak kecil. Untungnya Arka memiliki berat badan yang kurus jadi dia ringan membawa Arka.


Sepanjang perjalanan mereka berdua mengobrol saling menanyai satu sama lain. Dari kejauhan ia tersenyum manis melihat bagaimana interaksi manis yang membuat hatinya menghangat.


Didepannya dengan jarak 5 meter dari pandangannya, Aileen tampak menjelaskan setiap hewan yang dilihat oleh anak-anaknya. Dengan selalu menampilkan senyum yang manis dibibirnya membuat ia tambah terlihat cantik dimatanya.


Aileen sungguh terlihat seperti ibu sungguhan, namun nyatanya Aileen adalah sosok ibu bagi adik-adiknya dan juga anak-anaknya.


Ia melihat Azura putrinya yang berlari ke arah Justine adik Aileen, Justine menangkap Azura yang meloncat ke arah tubuhnya. Ia mengendong Azura didepan dadanya.


Sepertinya Azura menyukai Justine. Biasanya Azura tidak akan meminta gendong kepada orang lain yang baru dia kenal, karena Azura memiliki sifat pemalu kepada orang yang baru dia kenal. Dia hanya akan bersikap manja jika dia nyaman kepada orang lain.


contohnya seperti Aileen. Perasaan anak kecil tidak bisa dibohongi, sekalinya mereka merasa nyaman maka artinya nyaman. Azura selalu menempel kepada Aileen saat bertemu bahkan memanggilnya dengan sebutan Mamah dengan kalimat yang lancar seperti sepasang Ibu dan anak pada umumnya.


Sedangkan Arion adalah anak yang usil. Jika dia merasa di acuhkan atau diabaikan maka Arion akan membuat ulah. Membuat dia selalu merepotkan orang lain yang berada didekatnya.


Namun saat dia ingin merepotkan Aileen, Aileen menganggapnya sebagai bantuan seorang ibu kepada putranya.


walaupun terkadang jika Aileen sedang dalam mode menyebalkan dia jadi seperti mempunyai 3 anak saja dengan anak pertama adalah Aileen.


"AYAH KESINI CEPAT." baru saja dia mengatakan terkadang Aileen mengalami mode menyebalkan, sudah terdengar suara yang memekakkan telinga ya.


Ia mendengus sebal, saat orang-orang menatapnya dengan tatapan aneh. mungkin mereka menganggap bahwa aku adalah duda yang memiliki seorang anak gadis yang cantik. Padahal kenyataanya Aileen adalah kekasihku.


aku berjalan dengan malas ke arahnya, "Sudah ku bilang jangan panggil aku Ayah." ucapku dengan kesal sedangkan dia hanya senyum-senyum tidak jelas.


"Bukankah kau juga akan menjadi calon ayah bagi anak-anak ku kelas?" ucapnya dengan menatap ku dengan wajah manisnya.


Ah, sial. Kenapa jadi aku yang tersipu malu didepannya? kenapa dia jadi pintar menggombal seperti ini? Sontak aku membuang muka saat merasakan pipiku yang bersemu merah.