
"Arka udah ketemu?"
"Dia ada di apartemen Kak Carlos. Aku tidak diizinkan ke apartemen Kak Carlos sebelum Arka mau sendiri bertemu aku." jawabku sambil menatap ke arah luar jendela mobil.
"Yang sabar, mereka itu masih labil jadinya kaya gitu." aku merasakan usapan lembut di bahuku.
"Nanti kasih kan ini ke anak-anak aku ya." aku menunjuk ke belakang, ke arah kotak kue yang aku beli tadi.
"Iya."
"Aku lagi males masak, jadinya aku tadi sekalian beli makanan buat Justine."
"Oh iya kalau kamu punya waktu luang bisa tolong liat Arka? pastikan aja dia sehat, aku udah seneng banget. Jangan bujuk dia buat ketemu sama Mamahnya, biar dia sadar terlebih dahulu dimana letak kesalahannya." ucap ku dengan wajah datar.
"Iya, udah dong jangan marah terus. Carlos pasti jaga Arka dengan baik, percaya sama Carlos."
aku menganggukan kepala ku. Lalu membuka salt beat, "Baiklah aku masuk dulu, kamu hati-hati dijalan ya."
aku menarik leher Aldo dan mencium bibirnya dengan beberapa kali ******* kecil.
"Hehehehe...enggak mau lebih?" aku menggelengkan kepalaku melihat senyum mesumnya itu.
"Enggak bisa sekarang. aku lagi ada tamu bulanan." Aldo mendesah kesal, ia menatap kekasihnya itu dengan cemberut.
"Udah ah, aku masuk dulu ya bayi tua. Jangan lupa berikan itu kepada anak-anakku." Aldo hanya mengangguk malas.
lalu aku keluar dari dalam mobilnya, melambaikan tangan saat mobilnya melaju menjauh.
aku masuk ke dalam rumah, sepi. Sejak kepergian Arka rumah menjadi sepi. Biasanya Arka akan berlari menyambut ku dengan memeluk dan mencium wajahku.
Beberapa hari ini tidak kudapatkan perlakuan manis dan manja darinya, membuat aku merasa kehilangan namun Arka saat ini berada diposisi yang salah. Jadi dia harus sadar terlebih dahulu.
"Justine kemana?" gumam ku ketika tidak melihat tidak ada tanda-tanda dirinya disini.
aku berjalan menuju anak tangga, menaiki satu persatu dan membuka pintu kamar Justine.
...💔💔💔...
Dengan tergesa-gesa aku memasukkan baju-bajuku kedalam tas. Aku berniat pergi dari sini.
Mondar mandir berjalan kesana-kemari karena takut ketahuan Mamah yang akan pulang dari kantor.
"Justine, ayo mak- apa yang sedang kau lakukan?" benar kan? Mamah sudah pulang. Akh...sial ini pasti akan sulit.
"Pergi." ucapku dengan datar berusaha cuek kepadanya. Aku masih merapikan bajuku kedalam tas.
Tanpa ku duga, Mamah melempar tasku yang sudah berisi baju membuat isinya berserakan.
"APA YANG MAMAH LAKUKAN?" bentak ku karena terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"HARUSNYA MAMAH YANG BERTANYA, APA YANG KALU LAKUKAN?" aku bisa melihat dengan dekat wajah marah Mamah. Pertama kali dia marah kepadaku setelah kemarin dia marah kepada Arka.
" Arka benar, aku hanya beban untuk Mamah. Aku sudah putuskan akan keluar dari keluarga ini. Mamah tidak usah khawatir aku akan menjadi gelandangan atau pun Janji Mamah kepada Ayah dulu. Jangan pedulikan Justine."
"Aku tau Mamah hanya menampungku karena janji Mamah ke ayah kan?" ku lihat bola mata Mamah membesar. ia menghentikan tangan ku yang kembali memasukkan pakaian ku kedalam tas.
"Itu memang benar." deg...sontak tubuhku menengang kaku dibuatnya. Aku menatap wajahnya tak percaya, namun dia malah menatap ku dengan sinis.
"Janjiku kepada Ayah dulu, karena aku adalah pertama. Setelah ayah dan Mamah meninggal bukankah tanggung jawab itu jatuh ke tanganku? ya seharusnya itu jatuh ke tanganmu karena kau anak ke-2, namun kembali lagi, apakah kau mampu memikul tanggung jawab seberat ini?" aku terdiam tak bisa menjawab pertanyaannya barusan.
"Bertahun-tahun Justine, aku mencoba melepaskan mu dari dalam panti asuhan. Sikapmu yang dingin semakin membuat aku kesulitan meluluhkan hatimu itu."
"Janjiku kepada Ayah bukan hanya untukmu. Aku berjanji akan menjaga kau dan Arka sampai kalian menikah nanti, karena apa? karena kalian berdua adalah Adikku."
"Aku tidak percaya. minggir jangan halangi jalanku." aku menyentak tangannya kasar, lalu berjalan melaluinya begitu saja dengan membawa tas ku.
"JUSTINE." bentaknya dari belakang.
"APA?" bentak ku balik.
"Jadi kau mau pergi?"
"Iya, aku tidak akan lagi menganggu kehidupan Arka." Terlihat Mamah berjalan dengan langkah berat ke arahku.
Dia menarik lengan ku kasar agar berjalan mengikutinya, "Lepasin Arg....lepasin."
sungguh demi apapun, cengkraman mamah sangat kuat dan sakit. Aku berjalan mengikutinya entah kemana ia akan membawaku.
"Lepasin, biarin aku pergi."
"Kau harus di beri pelajaran. renungkan kesalahan mu. Perlu kau tahu Justine, aku bukan tipe wanita lemah jika marah. Kau belum tahu segila apa jika Kakakmu ini marah. Terima hukuman mu mulai sekarang." kenapa suaranya terdengar menakutkan ditelinga ku? tubuhku jadi merinding dibuatnya.
Tubuh ku terdorong masuk kedalam ruangan yang memiliki pintu besi. Didalam ruangan ini tidak ada apa-apa selain tembok berwarna putih.
Kenapa aku baru tahu ada ruangan seperti ini? batin ku menjerit ketakutan.
"Ini tempat hukuman yang Ayah buat dulu. Aku dan Arka sering masuk kedalam sini, jadi renungkan kesalahan mu sampai kau menyadarinya. Berhenti bersikap kekanak-kanakan."
"Sampai kau belum sadar juga, jangan harap keluar dari sini." setelah mengatakan itu dengan cepat Mamah kelaut dari dalam ruangan dan menutup pintu dengan cepat.
sorak aku mengedor-gedor pintu besi itu dengan kuat, "MAH...MAMAH...BUKA....JANGAN KURUNG JJSTINE....MAMAH...."
"MAMAH...."
"MAH..."
sial, sepertinya ruangan ini kedap suara. Aku menjambak rambut ku frustasi dibuatnya. Tidak ada benda apapun didalam sini.
Bahkan kursi saja tidak ada.
aku duduk bersandar di daun pintu. Merenungi apa kesalahan ku? mencari tahu apa sebenarnya kesalahan ku?.
aku harus bersikap seperti apa? namun gagal, berjam-jam aku merenung namun tak kunjung aku mengingat apa kesalahan ku? membuat aku semakin frustasi saja.