The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 11 F



"Apa maksud mu berciuman dengan dia?" tanya Silvia dengan sinis. Aku hanya berpaling muka darinya.


"Kenapa memang?"


"Kau gila, Daren. Aku sedang mengandung anakmu." teriak frustasi Silvia didalam rumahnya. Sedari tadi ia terus membahas perkara ciuman tadi.


"Lantas bagaimana denganmu? tiba-tiba saja mencium mantan kekasihnya didepan suaminya sendiri?" ucapku dengan tajam dengan menatap wajahnya dingin.


"Cukup, Silvia. 2 tahun kau merendahkan diriku ini, aku selalu diam. Kali ini tidak lagi, aku akan bersikap bagaimana diri ku sebenarnya. Aku tidak perduli lagi dengan orang tuamu yang mengemis-ngemis balas kasihan dariku."


"Ingat Silvia, aku tidak pernah perduli dengan dirimu. Sampai anak itu lahir maka dia akan jadi milikku." ucap dengan tegas menatap ke arah manik matanya.


Sudah cukup 2 tahun pernikahannya, ia terasa seperti babu oleh istrinya sendiri. Dia sering diremehkan bahkan direndahkan oleh istrinya sendiri selama ini.


Ia tidak tahan lagi, sudah cukup 2 tahun lamanya ia menahan semua ini. Sekarang waktunya ia melepaskan serigala liar dalam tubuhnya.


Sedangkan Silvia mematung mendengar penuturan suaminya yang selama ini tidak ia anggap sama sekali kehadirannya.


...❤️❤️❤️...


"Hua....hiks....sakit...." teriakan pilu Aileen memenuhi kamar hotel.


Aldo mengeram, susah sekali menjebol pertahanan milik Aileen, "Diam...sayang...jangan banyak gerak nanti tambah sakit."


ucapku dengan sedikit menenangkannya. Bagaimana tidak tergoda, tiba-tiba saja Aileen membuka kemejanya dan membuangnya sembarang arah.


Langsung menerjang tubuhnya hingga ambruk diatas ranjang, dengan buas mencium bibirnya dengan berantakan. Duduk diatas perutnya dengan tangan yang tidak tinggal diam membuka seluruh kancing kemeja hitamnya itu.


Tentu saja dia tidak keberatan dengan perlakuan kekasihnya ini, Ia balas ******* bibir Aileen dengan buas. Ia membalik posisinya menjadi ia yang berada diatas.


mengigit, menghisap bahkan mencium seluruh permukaan kulit Aileen. Tangan Aileen bergerak membuka sabuk kulit miliknya dengan tidak sabaran.


mengingat hal itu membuat ***** birahinya kembali naik. Sontak ia mendorong kejantanannya dengan kasar hingga masuk sepenuhnya ke dalam.


"Akh....hiks....Hua...sakit sekali. Ayah...." tubuh ku tertarik ke depan hingga badan kami saling bersentuhan. Aileen memeluk lehernya dengan kuat bahkan sampai mengigit dan mencakar bahunya.


Tak tahan saat dada kami saling bersentuhan, apalagi payudara Aileen yang besar membuat ia kalap sendiri dibuatnya.


dengan pelan ia memainkannya dengan ritme yang halus, lama-kelamaan ritme permainannya menjadi naik bahkan kasar.


Suara teriakan kesakitan, kenikmatan bercampur menjadi satu. ia belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. mendapatkan kekasih yang sama sama suka dengan hal yang kasar.


Nyatanya Aileen sangat enak saat diajak bermain seperti ini, ia mau-mau saja diajak berbagai gaya fantasi miliknya.


Bahkan dengan frontal Aileen menginginkan lagi dan mau memimpin permainan.


"Kau hebat sayang. Aku suka permainanmu." pujiku menatap dirinya yang berada dalam pangkuanku.


Sebelum melepaskan penyatuan kami aku mencium bibirnya dengan mesra. Menarik tengkuknya dan menempelkan bibir kami berdua.


Sampai akhirnya aku melepaskan ciuman kami


dan membaringkannya di atas ranjang, aku memeluk tubuh telanjangnya dan menarik selimut sampai sebatas lehernya.


"Tidurlah kau pasti lelah kan?"


...❤️❤️❤️...


"Mana Mamah ini? kenapa enggak pulang-pulang?" keluh Arka dengan kesal. Padahal ia ingin dikelononin Mamah, tapi Mamah tidak pulang-pulang.


"MAMAH...." teriaknya dengan kencang membuat Justine berjalan mendekat ke arah Arka.


"Arka belum tidur?" tanyanya dengan lembut.


"Jangan tanya Arka, Arka enggak mau ngomong sama kamu." ujar Arka dengan sinus. Justine hanya terdiam, Arka memang tidak suka dengannya dan ia tahu karena Arka sendiri yang dengan terang-terangkan menunjukkan rasa tidak sukanya itu padanya.


"Mamah enggak pulang, ada urusan di kantor. tadi aku sempet tanya ke Mamah."


Arka bangkit dari duduknya diruang tamu, "Enggak butuh informasi dari kamu." Arka melewati Justine begitu saja.


Justine sendirian di ruang tamu, baginya Arka bukanlah masalah besar, toh ia juga tidak perduli dengan Arka mau berbuat apa yang terpenting hanya Kakaknya saja yang ia butuhkan.


Ia menatap bingkai foto keluarga Arthur yang terpajang besar di ruang tamu rumahnya itu.



Sayang sekali tidak fotonya, ini adalah foto keluarga besar Arthur, Para calon penerus bisnis Arthur dimasa depan nanti yang akan membawa perubahan pada perusahaan itu.



yang ini adalah foto sejarah masa muda orang tua ayahnya dan saudara-saudara lainnya. Memang benar-benar berasal dari keluarga keturunan orang kaya.


Rumah yang ditempatinya saat ini juga termasuk kedalam kawasan elit para orang kaya.


Harganya pun tidak main-main. Ini adalah rumah peninggalan Ayahnya kepada Kakak perempuannya.