
"Hei Anna?" sapa ku kepada Anna sekretaris Pak Aldo.
"Hei, kenapa kesini?" Anna bangun dari duduknya dan menatap temannya itu.
"Aku mau mengantarkan berkas, mau minta tanda tangan Pak Aldo, oh ya Pak Aldo nya ada kan?"
"Ada, masuk masuk saja." aku mengangguk dan mengetuk pintu kerja Aldo, terdengar teriakan, "Masuk."
aku masuk kedalam ruangan Pak Aldo dan menutup pintunya kembali, "Saya mau minta tanda tangan Pak, untuk dokumen ini."
ku serahkan beberapa dokumen yang ku bawa, berdiri disampingnya dan membuka selembar demi selembar dokumen yang akan di tanda tangani oleh Pak Aldo.
"ini, ini, ini dan ini. Sudah, terima kasih Pak." Ucapku lalu menumpuk dokumen itu lagi dan berniat untuk pergi namun tiba-tiba Pak Aldo menarik tanganku membuat aku jatuh kepangkuan ya. Ia memeluk pinggangku dan menaruh dagunya di bahuku.
"Kita ini sepasang kekasih tapi kenapa kau tidak pernah memanjakan ku?" aku menyipitkan mataku, 'Kekasih' aku sangat tabu dengan kata itu.
"Bapak tidak pernah menyatakan cinta Bapak kepadaku tapi kenapa aku harus jadi kekasih bapak?"
"Karena aku suka denganmu." Aldo menatap Aileen yang masih dalam pangkuannya.
"Bagaimana caranya aku tahu bapak menyukaiku?" tanyaku lagi.
Aldo mengambil tangan Aileen dan meletakkannya di dadanya, Aileen merasakan detak jantung Aldo.
"Hatiku selalu berdebar saat berada disampingmu. Pakah kau juga merasakan yang sama seperti aku rasakan?" Aileen menyentuh dadanya sendiri, terasa normal tidak seperti detak jantung Aldo yang seperti habis lari-lari.
Aileen mengambil tangan Aldo dan meletakkannya di dadanya. Hal itu sontak membuat Aldo terkejut karena tangannya sedikit menyentuh buah dada Aileen. Ia berusaha mati-matian menahan nafasnya.
"Aku tidak merasakan apa yang bapak rasakan. Apa ada cara lain agar aku percaya."
Aldo menatapnya dengan pandangan nyalanya,
"Ada."
"Bag--" belum sempat Aileen berbicara, bibirnya sudah dibungkam oleh Aldo. Aldo menciumnya dengan buas dan menuntut padahal ini adalah ciuman pertama Aileen.
Aileen diam tidak memberontak sama sekali malahan ia sedikit tertantang, Aileen mencoba membalas ciuman Aldo walaupun Aldo masih menguasainya karena Aileen yang masih belum lihai.
"hmm....akh....hmmmppp....." desah Aileen saat Aldo dengan sengaja mengigit bibirnya.
Aldo semakin menarik Aileen agar menempel pada tubuhnya, membuat Aileen mengangkang dengan posisi duduk dipangkuannya. Sedangkan bibirnya yang mencium buas Aileen.
hasratnya tiba-tiba keluar saat Aileen membalas ciumannya. Jika saja Aldo sudah gila sudah pasti Aldo akan melempar Aileen ke ranjangnya dan memperkosa Aileen saat ini juga.
namun ia tak mungkin memperkosa Aileen didalam kantornya, akan tidak nyaman dan leluasa. Cukup lama mereka berciuman dan Aileen sedikit terbuai dengan ciuman yang Aldo berikan. Mereka berdua menyudahi ciumannya. Nafas keduanya saling memburu, wajah mereka memerah.
"Jangan bilang siapa-siapa ya?" ucap Aileen setelah nafasnya sedikit beraturan.
"Kenapa?"
"Nanti aku dimarahi oleh seseorang, nanti dihukum kan engak mau." gerutunya seraya turun dari pangkuanku.
ia mengambil dokumen yang tadi ia bawa dan berbalik ke belakang menghadap ku, "Dadah..."
ia melambaikan tangannya seraya berjalan keluar, saat pintu ruang kerjaku tertutup aku menyenderkan tubuhku dan menghembuskan nafas panjang.
"Sialan, berciuman saja tidak akan cukup sekali."
***
Ia langsung dikejutkan saat mendapati pesan dari Kakak iparnya, Arabella. Ia mengatakan jika Alex di rawat dirumah karena sakit, namun gilanya lagi Alex seperti orang kesetanan yang mengamuk dan Ara memintanya agar cepat datang ke rumah.
"Alex gila." gumam ku lalu dengan tidak sabaran aku mengendarai mobilku dengan kencang, untungnya ini malam hari dan jalanan masih sepi.
cukup lama untuk sampai ke rumah Paman Sam, aku langsung masuk dana mendapati rumah sepi namun terdengar suara ribut-ribut di atas aku pikir itu dari kamar Alex.
"SIALAN KAU HANYA AKAN MEMBUNUH DIRIMU SECARA PERLAHAN BODOH." maki Nathan yang sudah tidak tahu lagi bagaimana agar adiknya tetap tenang.
Alex sakit karena kelelahan dan dirawat dirumahnya dengan infus namun ia terlepas dan membuat tangannya mengeluarkan darah dengan deras, suster dan dokter pun sulit mengendalikan Alex.
"BIARKAN AKU MATI, KALIAN SAJA TIDAK INGIN MELIHATKU BAHAGIA DENGAN WANITA YANG AKU CINTAI." hampir semua barang-barang dikamar Alex hancur karena amukan yang Alex ciptakan.
"KAU MENCINTAI SEPUPUMU SENDIRI ITU TIDAK BOLEH." bentak Sam yang sudah kehilangan kesabarannya, Nathalie mengelus dada suaminya yang tengah marah menghadapi putra bungsunya itu.
"KENAPA HANYA AKU YANG DITENTANG? RIMBA JUGA SAMA GILANYA DENGANKU TETAPI KENAPA HARUS AKU YANG KALIAN HALANGI?" teriak marah Alex kepada Ayahnya. Rimba berdiri bersandar di daun pintu, tak perduli dengan Alex yang tiba-tiba saja mengamuk saat dirinya dan ayahnya berencana menjodohkan Aileen, itupun jika Aileen mau. Namun Alex langsung seperti orang kesetanan saat mendengarnya.
"ALEX, jangan Nak. sadar hiks...ini Mamah nak..." tangis Nathalie pecah saat Alex berniat menggores nadinya dengan silet yang entah kapan ada ditangan Alex.
Alex tak menghiraukan tangisan Sang Mamah, Alex hampir menyayat nadinya namun suara seorang wanita menghentikan semuanya, "Alex..."
Alex mendongakkan kepalanya dan menengok ke samping menemukan Aileen yang berdiri disamping Rimba, Alex langsung merentangkan tangannya dan disambut dengan hangat oleh Aileen. Alex mencium bahu Aileen.
semua orang bernafas lega disaat Aileen datang diwaktu yang tepat, kecuali Rimba yang terlibat biasa saja.
"Ayo kita obati lukanya dulu ya? itu kan darahnya masih menetes gitu." ku tuntun Alex duduk di ranjangnya.
Sam melirik dokter yang berdiri ketakutan dan menyuruhnya agar mengobati Alex dengan cepat. Langsung saja dokter dan suster menangani Alex kembali.
membersihkan darah yang bercucuran ditangannya dan menyuntikan kembali infus ke punggung tangan Alex. Salah satu tangan Alex yang tidak diinfus ia gunakan untuk memeluk pinggang Aileen dan membuat ia menyandarkan kepalanya diperut Aileen yang masih berdiri.
"Ini resep obatnya sama vitaminnya." dokter menyerahkan resep obat kepada Nathalie.
"Terima kasih Dok, maaf merepotkan dokter kembali." ucap Nathalie dengan menunduk.
"Mari saya antar." Natalie dan Oliver mengantar dokter ke depan rumah, sedangkan sisanya keluar dari dalam kamar Alex membiarkan Alex dan Aileen berdua untuk sementara waktu.
Aileen berjongkok didepan Alex yang duduk di ranjang, Ia memegang tangan Alex dan menciumnya dengan lembut, "Kenapa begini lagi Hem?"
Alex hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau menjawab.
"Kamu sama Lisa bertengkar?" Alex kembali menggelengkan kepalanya. Walaupun tadi sudah ada Lisa yang mencoba menenangkan Alex namun Alex tak kunjung membaik malah semakin menggila.
Lisa takut? tentu saja ia takut menghadapi Alex yang seperti itu. Namun Lisa sangat mencintai Alex karena Alex pernah menolong nyawanya dari korban bully saat di SMA. Membuat ia mau menerima Alex menjadi kekasihnya walaupun ia tahu rasa cinta Alex yang terlarang kepada sepupunya itu salah dan mencoba melupakannya dengan cara memacari Lisa. Lisa tidak keberatan akan hal itu.
seperti saat ini Lisa sedang duduk bersama dengan keluarga Alex.
"Lihat kan? Alex semakin menjadi karena Aileen. Entah kenapa anak itu bisa-bisanya mencintai sepupunya sendiri." amarah Sam memuncak karena putra bungsunya kembali membuat ulah.
"Sudah aku bilang untuk menikahkannya secepatnya namun kalian malah menentang, jelas-jelas Lisa saja setuju dengan itu." timpal Rimba yang tak mau ambil pusing kepada adiknya itu.
sedangkan para wanita disini hanya terdiam, ini urusan lelaki mana pahan wanita untuk masalah seperti ini, batin mereka berkata.
"Ayah tentu tidak mau nantinya yang akan menjadi istri Alex tertekan batinnya. Menikah bukan main-main Rimba, itu hal yang sakral. Jika Alex saja masih mencintai Aileen bagaimana ia mau memperlakukan istrinya kelak?"
"Lisa kau harus bisa mencoba hati Alex. Alex tau ia juga berjuang agar bisa mencintaimu, tapi kau juga harus membantunya bukan hanya diam. Aku tahu kau pendiam tapi coba lakukan hal terbuka kepada Alex. Seperti memberikan perhatian, berbicara santai dan pergi jalan-jalan." ucap Nathan kepada Lisa, Lisa mengangguk membuat Nathan mendesah panjang, baru saja ia mengatakan agar Lisa terbuka namun apa? ia hanya mengangguk saja.