
Alex turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri kekasihnya itu, "Aku lama ya?"
Aileen menggelengkan kepalanya, "Aku baru aja keluar. Kamu udah selesai kerjanya?" ku genggam tangannya dan mengajaknya pergi.
"Iya." kami berdua berjalan beriringan menuju mobil Alex, namun seseorang tiba-tiba menarik tanganku hingga aku limbung ke belakang.
"Hei apa yang kau lakukan?" mata Alex berkilat marah saat mendapati kekasihnya ditarik paksa oleh pria asing.
Aldo menatap tajam ke arah Aileen, Aileen membuang muka. Kenapa ia harus dihadapi dalam situasi seperti ini? ia saja tidak mengangap Aldo sebagai pacarnya namun Aldo malah mengklaimnya sendiri. Ia hanya menganggap Alex sebagai pacarnya.
"Lepasin Pak." aku melepas cekalan tangan Pak Aldo pada tanganku.
"Jangan berani sentuh-sentuh pacar saya." ucap Alex dengan tajam.
"Pacar anda? dia pacar saya asal anda tahu." kini Alex malah menatapnya dengan tajam. Ia memegangi lengan Alex.
Ku menggelengkan kepalaku, "Tidak aku tidak pernah pacaran dengan dia, dia bos ku Alex. Hanya kau kekasih yang aku miliki."
Tatapan mata Aldo semakin tajam, bahkan berkilat amarah. Dadanya bergemuruh hebat. Ia menatap tajam kepada Aileen yang menyeret pria itu pergi dari hadapannya.
"Kau bermain-main denganku gadis kecil." ia menyunggingkan senyum sinis.
...***...
Dalam perjalanan Alex mengemudi mobilnya dengan kesetanan, walaupun ia hanya diam namun aku cukup peka jika Alex sedang marah saat ini. Aku bahkan sampai berpegangan pada sabuk Pengaman saat mobil kami hampir tertabrak truk. Aku ketakutan, tentu saja aku takut.
Tidak mau mati konyol seperti ini bersama dengan Alex.
"ALEX...BERHENTI...AKU TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN DIA." bentak ku ketakutan saat dia hampir saja membanting stir kemudi, Untungnya ia hanya mengerem mendadak hingga tubuhku terdorong ke depan.
"Apa? kau mau menjelaskannya bagaimana? kau selingkuh dibelakangku. Mau apa lagi kau?" suara Alex terlampau tenang, membuat aku mengepalkan tanganku.
"Kenapa jadi aku yang seperti tersangka?" tanyaku dengan tajam.
"Kau memang tersangka. Kau berselingkuh dibelakangku, namun kau mengajukan diri mau menjadi kekasihku selama satu Minggu." Panas sekali telingaku, susah sekali berbicara dengan Alex dalam keadaan seperti ini. Aku mengeram frustasi mengacak rambutku.
"DENGAR YA? AKU TIDAK BERSELINGKUH DI BELAKANGKU, YANG SELINGKUH ITU KAU!!!"
"AKU INI SELINGKUHAN MU SIALAN. KAU SELINGKUH DIDEPAN KEKASIHMU SENDIRI. KAU MENGHAMILINYA TAPI KAU TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB."
"DIA BOS KU BUKAN KEKASIHKU, DIA TEROBSESI KEPADAKU DAN AKU JATUH CINTA KEPADA KEDUA ANAK KEMBARNYA. SAMPAI SEKARANG AKU TIDAK MENGANGGAPNYA KEKASIH. JIKA AKU MENGANGGAPNYA KEKASIH MANA MUNGKIN AKU MEMINTA ANTAR JEMPUT KAU KE KANTOR? KAU...ARGK...." dadaku naik turun menjelaskan semua ke salah pahaman yang Alex buat.
"Di-dia hamil?" Alex bertanya dengan terbata-bata.
"Ak-aku tidak mencintai dia." lirih Alex yang seperti bisikan halus.
Aku menggelengkan kepalaku, "Kau mencintainya Alex, aku tahu itu." Alex menatapku dengan tanda tanya.
"Kau melakukan hubungan badan dengannya, kalian kelepasan dan menumbuhkan buah cinta kalian. Anak yang di kandung kekasihmu. Dia adalah cinta kalian berdua yang bersemi, kau mencintainya Alex."
"TIDAK!!! AKU TIDAK MENCINTAINYA, AKU HANYA MENCINTAIMU!!!" Alex membentak ku, aku menangis saat ia kembali kambuh seperti ini.
"JIKA KAU MENCINTAIKU KAU TIDAK AKAN MELAKUKAN HUBUNGAN SEPERTI ITU ALEX. KAU TIDAK MENCINTAIKU KAU MENCINTAI DIA, TERBUKTI DIA MENGANDUNG ANAKMU. KAU MENCINTAI HIKS...DIA ALEX...JUJUR SAJA PADAKU HIKS...." aku balik membentak dirinya.
"Maaf...ak-aku akan...akan mengugurkan anak itu." kedua mataku membulat sempurna, menggelengkan kepalaku tak percaya.
"KAU GILA? KAU AYAH MACAM APA, HAH?kau gila Alex kau gila. Jika kau mencintaiku kau harus bertanggung jawab kepadanya, aku tidak mau anakmu...."
"Hidup tanpa figur Ayahnya." lirihku sedih dengan menunduk.
Alex memukul stir kemudinya, lalu menancapkan gasnya dan pergi ke apartemennya.
Ia masuk ke dalam apartemennya dan langsung mencium kekasihnya itu dengan penuh nafsu dan membawanya ke dalam kamar. Ia menjatuhkan tubuh kekasihnya itu diatas ranjang.
Aileen tak bisa mengimbangi ciuman Alex. Ia tahu Alex sedang marah dan ia tidak mau menambah kemarahan Alex lagi. Biarkan saja dia menciumnya dan melampiaskan semua kekesalannya kepadanya.
"Alex....jangan lakukan aku tidak mau memiliki anak cacat karena perbuatan kita." Alex menatapku dan aku menggelengkan kepalaku saat tangan Alex berniat membuka bajuku. Alex kembali mencium ku dengan ganas dan tangannya meremas lekuk tubuhku tidak lebih.
pagi harinya Alex terbangun pagi-pagi sekitar jam 4 pagi. Ini adalah hari terakhir Aileen menjadi kekasih miliknya, perasaan tidak rela menyeruak didalam hatinya. Entah kenapa ia jadi ingin menangis dan memohon kepada Aileen agar tetap berada di sisinya lagi, ia sudah nyaman dengan statusnya saat ini dengan Aileen.
Ku tarik Aileen kedalam pelukanku, ku lihat wajahnya yang terlihat cantik saat tidur. Ke kecup bibirnya.
lalu ikut masuk kedalam mimpinya kembali. Menikmati masa-masa akhir bersama dengan Aileen. Disaat Alex menutup matanya dan tertidur kembali, Aileen membuka matanya.
Ia memandang wajah Alex, kenapa Alex bisa memiliki penyakit tak lazim seperti ini? kenapa penyebabnya? sedari dulu ia sangat binggung dengan Alex.
Awal ia bersekolah saja Alex selalu mengawasinya, jika aku ketahuan berjalan dengan seorang pria maka Alex akan memukuli pria itu hingga babak belur. Kejam sekali.
Bahkan harus Rimba yang mengambil alih diriku dari pengawasan Alex, karena Alex tidak bisa melawan Rimba dan Ayahnya yang memiliki kuasa paling hebat. Ditambah dengan penyakit kelainan yang diderita Rimba membuat Alex semakin tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku.
Rimba terobsesi menjadikanku sejenis sepertinya, membuat Rimba juga selalu mengawasi ku layaknya Alex.
"Kakak dan adik sama-sama gila." ku tutup kembali mataku dan tidur karena masih sangat pagi untuk beraktivitas.