
"Ku dengar kalian resmi berpacaran?" tanya Anna kepada ku. Saat ini kami sedang nongkrong bersama di salah satu kafe setelah pulang kerja.
"Iya, aku melamarnya di atas kapal."
"Maksudmu pak Aldo yang melamar mu?" Koreksi Karina atas perkataan yang di lontarkan Aileen tadi.
"Bukan dia yang melamar ku tapi aku ya g melamar dia."
"Yak...kau tidak boleh begitu. Kau begitu merendahkan harga diri seorang pria jika begitu." nasehat Daniel yang tadi barusan tersedak saat minum dengan mendengar apa yang di katakan oleh temannya itu.
"Mana aku tahu, saat itu aku sangat terpesona kepadanya dan di sana juga aku menyatakan cintaku kepadanya dengan disaksikan oleh bulan." Karina dan Anna yang mendengarnya merasa tersentuh mendengar kisah romantis yang diceritakan oleh Aileen.
"Ow...romantis sekali dirimu ini, lalu bagaimana dengan respon Pak Aldo?"
Aileen tersenyum mendengar pujian dari kedua temannya.
"Dia tampak senang dengan pernyataan ku kepadanya, dia menerima lamaran ku lalu aku di undangnya makan malam bersama dengan keluarganya. Malam itu aku sungguh membuat suasana sangat romantis bagiku dan kekasihku. Kami berlayar bersama sambil makan malam bersama. Aku langsung mengenalkannya kepada keluarga besar ku begitupun dengan kekasihku." jelas ku panjang lebar didepan mereka.
"Tuh Aileen aja cewek berani memperkenalkan pak Aldo kepada keluarga besarnya, kamu kapan?" Daniel meringis dibuatnya.
"Nanti ya sayang. Aku belum punya nyali buat kenalin kamu ke orang tua aku." jawab Daniel dengan nada memelas.
"Gue dengernya seneng banget. Gue sebagai sahabat Lo selaku dukung apapun yang Lo lakuin selagi itu benar."
"Ow...makasih...." aku memeluk Rafael dengan sayang. Mereka berempat adalah sahabatku namun mereka malah berpacaran, seperti Daniel dan Anna sedangkan Karina dan Rafael.
Anna dan Karina tidak cemburu ketika aku bergelayutan manja kepada Daniel dan Rafael karena dalam persahabatan kami aku adalah yang paling kecil.
Jadi mereka selalu menganggap ku adalah anak terkecil di sini dan selalu memanjakan aku.
setelah selesai makan dan berbincang-bincang cukup lama akhirnya kami pulang dengan memakai mobilku karena mereka berempat adalah orang biasa saja.
Aku mengemudi dengan pelan dengan sesekali ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.
"Aku pengin deh belajaran nyetir mobil." ucap Karina dengan nada serius.
"Nanti sama gue di ajarin." ucap Daniel, yah Daniel juga bisa mengemudikan namun karena agar tidak bolak-balik pindah tempat jadilah aku sendiri yang mengendarai.
"Seriusan?"
"iya, tapi pake mobil Aileen ya."
"Siap deh." jawab ku dengan senyum yang lebar, "Nanti kabarin aja nanti gue siapin mobilnya."
"makasih ya Leen." ucap Karina dibelakang yang duduk bersama dengan Anna dan Daniel sedangkan Rafael duduk didepan bersamaku.
"Kayaknya sedari tadi kita di ikutin deh." aku melirik ke arah Rafael yang melamun namun terlihat jelas wajahnya menampakkan raut khawatir.
sontak Daniel, Anna dan Karina menengok ke belakang dan benar saja mereka diikuti oleh 1 mobil berwarna hitam.
aku melajukan mobilku dengan kecepatan yang tinggi lalu sedang dan benar saja mobil di belakang benar-benar mengikuti ku rupanya.
Aku mengambil ponselku didalam tas dan menelphone Rimba secepatnya, " Halo..."
"Kakak aku di ikuti oleh seseorang."
Dor...
Terdengar suara tembakan pistol dari belakang membuat aku mengalihkan perhatianku kebelakang dan mendapati kaca mobilku berlubang.
"AKH...." jerit Anna dan Karina ketakutan.
"Sial."
"Kakak, aku membawa teman-temanku sekarang. bagaimana ini? aku tidak bisa melakukannya didepan mereka." ucap ku dengan sedikit gemetaran karena takut mereka akan melihat aku sebagai pembunuh nantinya.
"Aileen sebenarnya apa yang terjadi?"
"Apa yang mereka inginkan?"
"kenapa mereka mengincar kita?"
"Aileen jawab, kenapa mereka membawa pistol?"
pertanyaan beruntut membuat aku binggung sendiri di buatnya. Tanganku terkepal dengan kuat.
"DANIEL AMBIL KEMUDI." teriakku yang kalang kabut.
Aku mengambil pistol yang aku simpan di bawah jok mobil.
"Yak...kau gila, dapat darimana benda itu?" tanya Rafael dengan horor saat melihat aku mengambil senapan.
"YAK...AKU TIDAK BISA MENGEMUDI DENGAN KEADAAN BEGINI." teriak Daniel yang juga sama ketakutan dengan lainnya saat suara tembakan pistol terus menggema di jalanan yang sepi.
"SIALAN JIKA KAU TIDAK MAU MAKA KITA SEMUA AKAN MATI MALAM INI JUGA. PERCAYA LAH KEPADAKU AKU AKAN MENYELESAIKAN INI."
Aku berteriak dengan lancang dengan mencengkram pistol ku dengan kencang.
"Baiklah." ucap Daniel dengan pasrah.
"Anna, Karina kalian bersembunyi di bawah. Anna pegang ponselku dan Sherlock tempat ini kepada Kak Rimba cepat." aku melempar ponselku kepada Anna yang sudah meringkuk ketakutan di bawah.
"Rafael pegang aku." aku duduk di pangkuan Rafael dan menyembulkan badan atas ku ke jendela mobil.
aku memegang pistol ku dan menembakkannya ke arah mobil yang mengikutinya itu.
Dor...
Dor...
Dor...
suara sahut-sahutan senapan terdengar membelikan telinga.
"Aku takut sekali Aileen." ucap Daniel yang mengemudi dengan kesetanan. Sedangkan Rafael dengan gemetaran memegangi Aileen yang semakin lama semakin mengeluarkan tubuhnya dari dalam jendela mobil.
"Aileen kakak mu menyuruhnya membawa mereka ke tempat biasa." ucap Anna dengan terbata-bata.
"Sialan jumlah mereka semakin banyak." maki ku saat melihat beberapa mobil yang sama mengikuti ku lagi.
aku masuk ke dalam dan melempar pistolnya ke sembarang arah.
"Karina ambil koper hitam yang berada di bawah." Karina tampak celingak-celinguk mencari dimana koper itu berada.
"Ini." Karina mengambil koper yang ia lihat lalu membukanya dan ternyata itu adalah pistol lagi.
Ia menyerahkannya kepada kepada Aileen, " Daniel aku mohon fokuslah ke depan dengan tujuan yang Kakakku berikan, Anna terus pantau lah ponselku dimana Kakak ku berada, Karima terus cari satu koper lagi yang berisi pistol tenang saja aku sudah mengisi nya dengan peluru."
Yang terakhir aku menatap ke arah Rafael yang aku kangkangi, Wajahnya tampak pucat karena Rafael memiliki trauma dengan suara pistol dengan kejadian masa lalu yang menimpanya.
aku menepuk-nepuk pipinya beberapa kali, "Hei...percayalah kepadaku. aku janji kau tidak akan lecet sedikit pun." Rafael mengangguk samar.
lalu aku mulai keluar lagi dari jendela, dan terus melumpuhkan lawan. Aku menghindar saat satu peluru hampir mengenai kepalaku.
Sialan, Daniel mengemudi mobil seperti orang kesetanan aku bahkan hampir terjatuh karenanya untungnya Rafael tetap memegangginya.
"Sialan, jumlah mereka semakin banyak." maki ku kesal karena mereka terus saja mengepung ku setiap kali aku melumpuhkan mereka.
"Kak Rimba sudah sampai, kita sebentar lagi sampai. Daniel di persimpangan belok kanan kau akan menemukan bangunan tua, masuk ke dalam sana." jelas Anna dengan panik, sedangkan Daniel hanya menganggukan kepalanya dan sesekali menengok ke belakang mengecek ke adaan di belakang seperti apa.
"Tidak ada pilihan lagi, aku harus naik ke atas."
"kau gila?" tanya Rafael dengan wajah yang frustasi. Aku hanya mengacuhkan Rafael dan membuka atap mobil.
sebelum aku benar-benar keluar tanganku di genggam oleh Karinaa, "Hati-hati."
aku menatap mereka satu persatu dengan wajah Yang serius serta marah, "Aku janji akan menjaga kalian berempat sampai akhir."
Aku mengangkat tubuhku naik ke atas keluar dan mengambil pistol ku yang di berikan Karina. wajahku sudah memar karena terus menghindari peluru hingga wajahku membentur badan mobil beberapa kali.
bajuku juga sudah berantakan karena Rafael yang beberapa kali menariknya dengan kuat saat tubuhku hampir jatuh.
Sedangkan seorang pria yang mengikuti Aileen menyunggingkan senyum sinis nya. Ia juga ikut keluar melalui atap mobilnya.
Secara bersamaan antara Aileen dan Pria misterius itu saling berpandangan secara bersamaan.
Aileen yang hendak menembakkan senapannya mengurungkan niatnya dan tersenyum sinis.
"TERNYATA ITU KAU CLAUDE." teriaknya dengan nyaring. Wajahnya tertutupi oleh rambut nya yang panjang karena hembusan angin.
pria misterius yang bernama Claude itu tersenyum sinis, "YA INI AKU. KAU TIDAK RINDU KEPADAKU?"
"TENTU AKU MERINDUKAN MU APALAGI RIMBA DIA SANGAT MERINDUKAN RIVAL NYA INI."
jadilah antara Aileen dan Claude tetap pada posisi seperti ini hingga sampai tujuan.
Aileen yang terus menyibak rambutnya yang terus menempel di wajahnya sedangkan Claude yang terus menatapnya dengan tatapan penuh puja.
namun keduanya saling melemparkan senyum sinis.
Akan terjadi dimana dua iblis saling bertemu yang akan menimbulkan bencana bagi keduanya demi memperebutkan satu orang yang mereka incar.