
"Ayo Arka?" Ku gandeng tangan Arka masuk kedalam Mansion. Kulihat wajah bahagia Arka hari ini.
Kami cukup lelah bermain di mall tadi dari mulai belanja pakaian, makan dan bermain di timezone.
Sedangkan di dibelakang Rimba membawa sebagian belanjaan mereka berdua dengan susah payah.
Wajahnya terlihat biasa saja namun tidak dengan isi hatinya.
"Wow...Kakak belanja banyak sekali?" Takjub Aileen yang melihat barang belanjaan mereka.
"Iya lah, Kakak juga membelikan baju kerja untukmu loh..."
"Wah serius Kak?" Violet mengangguk dan mencari tas belanjaan milik Aileen lalu menyerahkannya kepada Aileen.
Aileen langsung membukanya dan terlihat sangat senang dengan tujuh setel jas dan celana.
"Huhu...terima Kasih Kakak." Kupeluk ka Violet. Sungguh Kak Violet sangat baik kepadaku.
"Kak Rimba?" Panggilku kepadanya, ia menengok dan melanjutkan melipat bajunya yang tadi ia beli.
"Aku mau pulang, ke rumah ku." Seketika Rimba mengalihkan perhatiannya dan menatapnya tajam.
"Kenapa? Ada yang mengusik mu? Alex berbuat macam-macam?" Tanyaku meminta penjelasannya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin pulang saja." Ucapku dengan kukuh.
"Tidak." Jawab Rimba dengan tegas.
"Iya."
"Tidak."
"Iya." Mereka berdebat karena keputusan mereka yang berbeda bahkan Aileen dan Rimba sampai melemparkan tatapan tajam.
"Kenapa pindah Leen? Disini kan ada yang menjaga Arka nantinya." Tanya Violet dengan lembut.
Ku hembuskan nafasku, sebelum menjawab Kak Violet, "Sayang aja kalo rumah Papah tidak terpakai. Lagipula aku tidak mau merepotkan Om Sam dan Tante Nathalie."
"Alah mau kamu tinggal disini ataupun tidak sama-sama merepotkan." Celetuk Rimba.
"Berisik." Jawab Aileen dengan melirik ke arah Makanya itu.
"Pokoknya tidak bisa. Kakak tidak mengizinkan bahkan Ayah pun tidak akan mengizinkanmu."
"Terserah apa Kata Kakak tapi Aileen tetap akan kembali ke rumah bersama Arka." Ucapku dengan sebal lalu pergi ke kamar dengan membawa baju pemberian Kak Violet.
Namun sebelum benar- benar pergi aku melihat kemeja bagus milik Kak Rimba yang sudah terlipat rapi, aku langsung mengambilnya satu dan melangkah pergi, "Buatku."
"HEI." teriak Rimba saat kemejanya diambil begitu saja oleh Adiknya. Sebelah matanya berkedut melihat Aileen yang berjalan dengan santai begitu saja.
Sedangkan Violet istrinya hanya meringis melihatnya.
***
Aileen berbaring didalam kamar, ia sibuk chatingan dengan Carlos yang akan menjadi bosnya.
Ia menanyai kabarnya sudah membaik apa belum? Dan bertanya masalah pekerjaan agar nanti jika ia sudah berangkat tidak terkejut nantinya.
"Mamah..." Panggil suara lirih seseorang. Aileen menengok ke arah pintu dan mendapati Arka yang berada didepan sana.
"Kemari lah?" Ku rentangkan tanganku agar Arka masuk kedalam pelukanku.
Arka memelukku dan mencari posisi yang nyaman. Ku letakan ponselku laku ke usap kepalanya ya g tertidur di lengan ku.
"Kau lelah?" Arka mengangguk.
"Jika nanti Mamah kerja Arka jangan bandel ya?" Arka mendongak kan kepalanya menatap sang Mamah.
"Mamah kerja? Terus Arka sama siapa dong?" Tanyanya dengan sedih.
"Loh Arka kan pagi sampai sore sekolah, berangkat jam setengah delapan sampai jam dua siang. Terus Arka harus les sampai jam empat. Mamah akan mengantar dan menjemput Arka nanti. Arka tak perlu khawatir dengan itu, Mamah tidak akan meninggalkan Arka kok."
"Mamah janji?"
"Ya Mamah janji, tapi jika nanti Mamah ada tugas diluar kota ataupun lembur, Arka akan Mamah titipkan kepada pengasuh nanti, oke?" Arka mengangguk dan memejamkan matanya. Sepertinya ia mengantuk karena lelah pergi tadi.
"Tidurlah, Arka pasti lelah." Ku usap punggungnya agar ia nyenyak tidur.
Aku tidak akan pernah meninggalkan Arka. Arka adalah hidupku sekarang, tidak ada yang lebih berharga darinya sekarang. Setiap hari aku selalu berdoa untuk ketenangan orang tuaku.
Aku berharap Arka cepat sembuh karena otak Arka itu bersifat anak kecil namun tubuhnya dewasa membuatnya kadang menjadi bahan Bulian dari teman seusianya karena mereka beranggapan kalau Arka itu idiot atau autisme padahal bukan itu sebenarnya.
Ia hanya mengalami gangguan karena otaknya yang lambat dalam pertumbuhan, ini bisa sembuh Namun dalam waktu yang lama. Karena ini lah salah satu kesalahan orang tuanya yang selalu memanjakan Arka dan membuat Arka seperti ini.
Harusnya sedari kecil Arka di didik dengan keras karena dia pria bukan dimanja dan disayang-sayang seperti balita. Sekarang kebiasaan itu masih melekat padanya.
Ia juga berusaha untuk membuat Arka normal kembali dan bisa berbaur dengan anak seumurannya. Hanya ada satu anak yang mau bermain dengannya dan mengerti keadaanya. Yaitu Leon anak dari salah satu bodyguard Paman Sam, yang satu sekolah dengan Arka.
Maka dari itu Arka selalu menempel kepada Leon.
Pagi harinya setelah memandikan Arka, Arka meminta digendong. Ku gendong dia seperti koala. Ku usap punggungnya lalu membawanya turun ke meja makan. Semua keluarga sudah berkumpul tinggal aku dan Arka. Aku pun bergabung bersama mereka.
Rimba mengecup pipi adiknya itu. Membuat Alex mengeram marah, "Kau kecup sendiri istrimu itu jangan adikmu terus."
Rimba hanya terdiam tidak berniat membalas pertanyaan Alex, Alex memang begitu selalu cemburu dengan apa yang ia lakukan untuk Aileen. Memang bocah gila.
"Alex sudahlah, mungkin Rimba sudah terbiasa mencium Aileen. Kalau kau mau kau bisa menciumnya. Lagian Rimba juga Kakaknya kan?" Bela Violet yang menengahi pertengkaran Alex dan Rimba.
Ia tidak marah Rimba mencium adiknya sendiri, toh dia Adiknya bukan selingkuhannya. Rimba juga sudah mengatakannya kepada dirinya bahwa Rimba sangat possessive kepada adik perempuannya itu walaupun sepupu tapi bagi Rimba Aileen itu adik kandungnya. Karena Rimba sangat ingin punya adik perempuan walaupun paman yang lainnya juga memiliki anak perempuan namun hatinya tertuju kepada Aileen seorang.
"Sudah-sudah. Lanjutkan makan kalian." Tengah Sam yang jengah karena Alex selalu berkomentar kepada Rimba.
Mereka pun makan dengan tenang tanpa ada yang membuka suara sama sekali. Aileen sibuk menyuapi Arka makan dan menyuapi dirinya sendiri.
Arka tidak mau turun dari pangkuannya dan lebih nyaman duduk dipangkuan sang Mama.
Setelah acara makan selesai, semua pria dikeluarganya bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Aileen hanya terdiam sambil menonton televisi bersama Arka dipangkuannya.
"Aileen, pasangkan dasi untukku." Pinta Nathan yang sudah berjongkok didepannya.
Aileen mengambil dasi itu dan memasangkannya dileher Nathan, "Apakah terlalu kencang?"
"Ya sedikit kencang."
"Tunggu aku longgarkan dulu." Aileen melonggarkan dasi Nathan. Dibelakang mereka Alex melihatnya, ia mengepalkan tangannya tidak terima. Buru-buru ia mengambil dasi dan akan menyuruh Aileen memasangkannya. Ia ingin juga seperti Kakak-kakaknya diperhatikan oleh Aileen.
"Baiklah terima kasih." Ku kecup dahi Aileen dan pipi Arka yang sedang memeluk Aileen. Setelah itu aku pergi untuk berangkat ke kantor.
Datanglah Alex dan ia langsung menodongkan dasinya. Aileen mengerutkan dahinya.
"Kau gila?" Tanyaku memastikan.
"Tidak."
"Kau memakai kaos Lex, mana mungkin kau ingin mengunakan dasi. Rasanya aku ingin menangis melihatmu seperti ini, hiks...TANTE..." Teriaknya yang sudah memulai drama.
"Hey kau tau ini fashion. Jadi cepat pasangkan di leherku." Alex berjongkok dan Aileen memasangkan dasi untuk Alex walaupun sebenarnya ia sedang menahan tawa.
"Kakak gila?" Tanya tiba-tiba Arka yang masih dalam gendongan Aileen.
"Kau jangan dengarkan apa kata Janda itu, Arka." Aileen langsung menjambak rambut Alex yang mengatainya janda.
"Akh...hei...hei....oke-oke." teriak Alex kesakitan. Aileen melepaskan rambut Alex dan memasangkan kembali dasi untuk Alex.
Tanpa bersalah wajah Aileen begitu ceria sedangkan Alex ia masih meringis kesakitan sambil mengusap rambutnya membuat Arka tertawa terbahak-bahak.
"Cih...modus." umpat Rimba yang melihatnya. Alex menatap kepergian Rimba dengan sinis, "Cih...pengangu."
Alex binggung, kenapa Violet mau menikah dengan Rimba? Padahal kan Rimba sangat Kaku dan dingin?.
"Kau mau bekerja bukan? Ikut aku, aku berikan baju yang kau inginkan nanti."
"Wow...5 boleh?" Tanyanya kepadaku. Ku anggukan kepalaku.
"10 boleh?" Ku anggukan kepalaku kembali, "Ambil saja sesukamu, bagaimana?"
"Oke, aku akan berpamitan kepada Tante dulu." Aileen langsung pergi meninggalkan Arka yang sudah ia dudukkan.
Aileen berdiri didepan kamar paman dam dan Tante Nathalie. Ia mengetuk pintunya beberapa kali dengan keras karena tak kunjung dibukakan pintu.
"PAMAN, TANTE SEDANG APA KALIAN? KENAPA LAMA SEKALI?" teriaknya dari luar.
Sedangkan didalam kamar Sam menunda apa yang ingin ia lakukan untuk istrinya itu, rencananya gagal karena Keponakannya yang kurang ajar itu mengganggunya.
Ia dengan cepat merapikan bajunya dan keluar dari kamar meninggalkan Nathalie yang bersembunyi di dalam selimut.
Pintu terbuka dengan kasar menampakan Sam yang menahan emosi.
"Apa?" Bukannya menjawab Aileen malah menengok ke belakang dirinya dan hampir masuk kedalam kamar namun Sam langsung mendorong tubuh keponakannya itu untuk menjauh.
"Jangan masuk, Tante sedang sakit."
"HAH, APA? SAKIT?" tamatlah riwayatnya, Sam salah berbicara. Membuat mereka akhirnya saling dorong karena Aileen ingin masuk kedalam.
"Hey-hey, sayang. Dengarkan Paman, Tante sedang flu nanti kalau Aileen masuk tertular laku tidak bisa bekerja bagaimana?" Aileen terdiam, wajahnya menampakan bahwa ia sedang berpikir.
"Ow iya yah paman, baiklah titipkan saja salam ku kepada Tante agar cepat cepat sehat ya."
"Ah, iya oke-oke." Jawabku dengan gugup. Setelah itu Aileen berbalik badan pergi, Sam bisa bernafas lega akhirnya.
Namun ia kembali lagi membuat ia marah kembali, "Apa lagi?"
"Aku ingin pergi bersama Alex, mungkin akan pulang bersama Alex nanti. Apakah boleh?"
"Ya-ya pergilah, jika perlu menginap saja sana sama Alex. Nah, cepatlah pergi Alex pasti sudah menunggumu lama, cepat-cepat." Ku dorong tubuh Keponakanku agar cepat pergi. Setelah kepergiannya aku masuk kedalam kamar dan menutupnya, aku bersandar di pintu lalu melirik Nathalia yang masih bersembunyi didalam selimut.
Wajahnya memancarkan kegugupan sama sepertiku.
"Anak itu." Geram Nathalie karena Aileen suka sekali menganggu dirinya maupun Sam.