The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 8 B



Arion dan Azura menatap aneh kepada kedua orang tua mereka. Mereka berdua menatap anak buah Ayah mereka yang hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh dengan mengandeng Arion dan Azura.


"Paman, Mamahku kenapa?" tanya Arion dengan penasaran.


"Iya, Paman. Kenapa Mamah di gendong Ayah, apakah Mamah sakit?" tanya Azura dengan cerewet. Willy hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan dari dua bocah ini. Sebenarnya ia pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. melihat Bosnya mengendong kekasihnya dan memberikan kedua anaknya dalam pengawasan dirinya tentunya membuat dia kelimpungan di buatnya.


"HM...Mamah kalian hanya sedang ingin dimanja oleh Ayah. ahahahaha....seperti kalian saat bermanja-manja dengan Ayah." dengan miris Willy menjelaskannya. untungnya kedua anak bosnya ini mengangguk paham.


sedangkan sejoli yang sedang dimabuk asmara ini seakan lupa kepada anak mereka yang diserahkan kepada anak buah Aldo. Aileen meminta digendong oleh Aldo. Aldo menyanggupi permintaan kekasihnya itu.


"Apa kau lelah?" tanyaku kepada Aldo. Aldo menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak lelah karena kau selalu menciumiku jadi kekuatanku selalu bertambah." aku tersenyum lebar mendengar gombalannya itu. aku mencium pipinya lagi dengan ganas.


"Nah...apakah kekuatanmu sudah kembali pulih?" tanyaku kembali kepada dia.


"Tentu saja, Tuan Putri. apapun akan aku lakukan untukmu." sungguh aku sangat bahagia sekali malam ini. aku memeluk lehernya erat dan menempelkan pipiku dan pipinya.


aku mengulurkan tanganku didepannya, memamerkan cincin pertunangan kami waktu lalu, "Lihatlah cincin milikku selalu bersinar. itu tandanya cinta kita akan selalu bertambah besar setiap harinya."


"Begitukah?"


"HM..." aku menganggukan kepalaku, aku menyandarkan kepalaku di bahunya dan kembali menatap cincin pertunangan kami dengan lekat.


"Pamanku bilang, cinta datang karena terbiasa tapi yang kurasakan berbeda. Kau datang dengan memaksakan cintamu kepadaku." Aldo terkekeh mendengarnya, mengingat bagaimana dulu dia mengklaim Aileen sebagai miliknya secara sepihak.


"Siapa sangka kau malah terjerat kepada pesona duda dua anak ini, sayang."


"Iya dan anehnya aku mencintai kalian bertiga." jawab Aileen dengan halus.


aku menengok ke arah belakang dan tidak menemukan Arion, Azura, dan Willy. Mungkin Willy mengajak mereka berdua bermain di pasar malam.


"30 tahun."


"APA!!!" jeritku dengan penuh terkejut, "Kau seumuran dengan Kak Rimba?"


"Sudah aku bilang. dulu aku dan Rimba pernah berada dikelas yang sama. Bahkan kami selalu memperebutkan peringkat 1."


"Hei...jarak usia kita sangat jauh sayang. aku baru menginjak usia 20 tahun dan kau 30 tahu. Seharusnya kau aku panggil Paman."


Aldo mengeram marah karena kekasihnya menyamainya dengan om-om, "Sekali kau memanggilku Paman, habis kau di tanganku." ancam ku kepadanya yang mulai menggodaku.


"Tapi kau seharunya menjadi pamanku. Lalu bagaimana ini? apakah aku harus mengubah panggilan ini? apakah kau tidak akan dicap sebagai pedofil karena mengencani anak kecil." Aldo menahan kesal karena kekasihnya sudah mulai menggodanya sebagai pedofil.


"Pedofil gini saja kau mau." jawabnya dengan sinis.


"Ahahahah....kekasihku marah. baiklah-baiklah maafkan aku. tak perduli seberapa jauh jarak usia kita, aku akan tetap mencintai mu. Tenang saja cintaku kepadamu sudah permanen di hatiku."


aku mencium bibirnya dan mengigitnya pelan. Karena Aldo pasti akan ngambek ketika aku goda.


"Udah dong jangan marah-marah lagi. nanti gantengnya ilang loh." Aldo menurunkan ku di sebuah kursi, lalu ia duduk di kursi tersebut dengan melipat tangannya serta menampakkan wajah cemberut.


"Kamu selalu aja gitu tapi di belakang aku kamu godain cowok lain. bahkan didepan aku pun kamu berani banget godain pria lain." Aldo menatap tajam kekasihnya yang sibuk meminum es miliknya dengan mata yang memperhatikan dirinya.


"Tak apa sayang. Mataku untuk semua orang tapi hatiku hanya untuk kamu seorang."


"Tuh kan kamu ngerayu aku lagi, tapi nanti ujung-ujungnya kamu ngulangin lagi." kesal sekali menghadapi kekasihnya yang bocah ini. pikirannya masih bekerja dan mengagumi para pria tampan di luaran sana seperti gadis remaja pada umumnya.


"Kok kamu ngambek sih? aku salah apa? ya udah sini aku beliin es krim ya biar kamu enggak ngambek lagi. Mau?" Aldo membuang wajahnya saat sang kekasih mencoba membujuknya seperti anak kecil dengan di sogok es krim agar tidak ngambek lagi.


Aileen selalu saja memperlakukan Aldo layaknya anak kecil hal itu membuat Aldo malu terkadang di depan umum. karena Aileen selalu memanjakan dirinya dan memperhatikan gerak geriknya.