
"Wah anak Ayah dapat ikat rambut baru." Tom yang baru kembali dari tugas yang diberikan oleh Sam langsung mengambil alih Aileen yang sedang dipangku oleh Sam.
"Kemari dulu, Ayah cium dulu manis." Tom dengan gemas mencium pipi Aileen yang putih hingga memerah.
Bella yang melihat bagaimana Tom begitu menyayangi Aileen. Tom tidak pernah memperlakukan Justine semanis ini, kata Sarah juga Tom tidak pernah belaku manis seperti itu kepada Arka.
Sarah juga bilang, jika Tom disuruh memilih antara Sarah, Bella atau Aileen dan Tom akan memilih Aileen.
Ia jadi teringat perkataan Sarah waktu itu, "Mungkin cinta pertamanya adalah kau, Bella. Tapi Aileen, Putri ku adalah cinta pandangan pertama Tom, suami kita." terlihat jelas bagaimana mimik wajah Sarah saat menceritakannya, sedikit cemburu saat menceritakannya.
"Tom jatuh cinta kepada putrinya, pada pandangan pertama saat Aileen lahir. Tom terpana dengan mata indah Aileen, lain kali kau harus mencoba menatap mata putriku, aku yakin kau akan langsung terhipnotis seperti Tom."
"Sejak kelahiran Aileen, yang biasanya Tom akan mencari ku, Tom berpaling dariku dan mencari Aileen lalu menciumnya dulu lalu mencium ku. Sejak saat itu aku cemburu karena Tom begitu memanjakan Aileen dan terkadang lupa dengan ku, jika saja aku tidak merengek didepannya pasti Tom akan lupa dengan kehadiranku di sampingnya."
Aku tersenyum mendengar ceritanya, Tom menang pria yang memiliki kehangatan untuk wanita. Dia sangat bersikap manis dan lembut kepada wanita.
"Saat Aileen menangis dan tidak mau berhenti, Tom lalu menggendongnya seketika Aileen berhenti menangis. Memang benar adanya, Anak perempuan adalah milik Ayahnya. Cinta pertama anak perempuan adalah Ayahnya."
"Kau coba saja ya nanti, bagaimana Tom melupakan ku ketika sedang bersama dengan Aileen. Kau mungkin akan cemburu dan menangis didalam kamar nanti." aku tertawa saat Sarah memperingatinya.
"Baiklah aku akan berjaga-jaga dahulu saat ini."
"Kau tahu Bella, suami kita pernah membuat aku naik darah saat usia Aileen 5 tahun." tiba-tiba mimik wajah Sarah menjadi marah saat menceritakan kembali Tom.
"Kenapa Sarah?"
"Tom pernah tidur dengan Aileen, 1 bulan lamanya dan meninggalkan aku didalam kamar sendirian. Aku tidak pernah diberi jatah olehnya." Aku melototkan mataku, ah ya dia ingat. Saat itu juga Tom tidak mengunjunginya selama 1 bulan itu membuat mereka berdua bertengkar ternyata ini alasannya.
"Kau serius?" tanyaku menyakinkan.
"Kau pikir aku bohong. Aku sampai mengadukannya kepada orang tua Tom. Dan Tom di marahi habis-habisan karena hal itu, lalu Tom Akhirnya kembali lagi namun dia sering sekali diam-diam pergi ke kamar Aileen dan tidur disana atau membawa Aileen agar tidur bersama kami bertiga. Tom bilang, memeluk Aileen rasanya sangat nyaman seperti memeluk nyawanya sendiri." Sarah lalu tersenyum tulus.
"Disitu aku tahu, bahwa ini adalah cara Tom mencintai putrinya. Aileen adalah belahan jiwa Tom. Aileen adalah copy an Tom versi wanita. Kecantikan dan aura yang Tom miliki menurun kepada Aileen. Bahkan Tom sendiri terpikat dengan aura yang dia turun kan kepada Aileen."
"Kau pasti sangat cemburu kepada Aileen dulu kan?" tanyaku, Sarah memutar bola matanya malas.
"Sampai sekarang pun aku masih cemburu. Apalagi Tom yang tidak terlihat seperti memiliki anak gadis sama sekali, lebih pantas dianggap kakaknya." aku menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Sarah.
"Dulu Aileen banyak menjadi rebutan, mereka meminta ku agar mau memberikan Aileen. aku tentu menolak, aku sudah susah susah melahirkan eh mau rebut orang lagi."
...***...
Begitulah cerita yang Sarah ceritakan kepadaku, beberapa hari tinggal di rumah Sarah aku sekarang merasakan cemburu yang Sarah rasakan juga. Seperti yang Sarah katakan, Tom suka tidur bersama Aileen.
bahkan Tom sendiri tidak memilih tidur dengan istri tua atau mudanya. Tom memilih tidur bersama Aileen. Ia sering memergoki suaminya mengendong Aileen kesana-kemari seolah takut Aileen kekacepean.
namun walaupun aku juga cemburu hatiku menghangat melihatnya. Selain bertanggung jawab Tom juga sangat perduli kepada anak-anak mereka walaupun terkesan berlebihan.
...***...
Malam harinya Aileen meminta untuk ikut bersama dengan Sam pulang ke rumahnya. Tom sudah melarangnya namun Aileen menangis membuat Tom dengan terpaksa mengiyakan permintaan putrinya.
"Jaga putriku dengan baik." ucap Tom dengan terpaksa.
"Apa aku ikut menginap saja ya?" beo Tom membuat Sam melototkan matanya.
"Mansion ku, bukan tempat penginapan." ucap Sam dengan penuh peringatan agar adiknya tidak macam-macam.
"Sudahlah Sam, dia hanya akan menginap tidak pergi dari hidupmu. lebay sekali dirimu ini." ucap Nathalie yang jengah dengan kelakuan adik iparnya itu ketika putrinya di pinjam oleh mereka.
"Ish...kakak ipar ini. baiklah besok putriku harus berada disini sebelum aku berangkat kerja." ucap Tom dengan penuh penekanan.
Sam dan Nathalie mentulikan telinganya dan lebih memilih masuk ke dalam mobil mereka dari pada mendengarkan peringatan tidak masuk akal Tom.
mereka telah sampai di mansion megah milik Sam, jika dibandingkan dengan rumah Tom maka mansion Sam berkali kali lipat lebih besar. Ya iyalah, ini mansion sedangkan Tom hanya memiliki rumah disalah satu perumahan mewah. Itu karena Tom tidak suka keramaian dan lebih memilih rumah sederhana.
"Kakak turunkan aku, aku mau berjalan sendiri." sedari tadi Aileen terus merengek agar diturunkan dari gendongan Rimba. Rimba yang mengendong ya didepan dadanya hanya diam tanpa mendengarkan rengekannya.
sampai akhirnya mereka satu persatu memasuki kamar mereka masing-masing. Rimba masuk kedalam kamarnya dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi memangku Aileen.
ia menatap Aileen tajam, "Kau berani dengan ku?" ucapnya dengan suara lirih.
Aileen hanya menundukkan kepalanya, tidak mau menjawab Rimba, walaupun ia tahu mendiami Rimba sama saja mencari masalah dengan Rimba.
Ia merasakan kuku jemari Rimba yang mencengkram pinggangnya, Ia mendongakkan kepalanya dan menatap sendu Rimba.
"Tidak, Mana berani aku padamu Kak." Rimba menyunggingkan senyum miring. Ia melepaskan cengkeramannya dan menepuk kepala Aileen beberapa kali.
"Bagus. itu baru adik kesayang ku. Besok ikut Kakak ke markas. Sekarang ayo tidur." aku hanya menganggukan kepalaku patuh.
Rimba menjatuhkan tubuh adiknya dan dirinya diatas ranjang yang empuk. Ia mendekap hangat sang adik dan mengusap punggung adiknya. Ia dengan pelan bersenandung kecil, agar Aileen cepat tertidur. Jarang sekali Rimba mau melakukan ini, namun untuk Aileen ia akan melakukannya.
Sedangkan Aileen, ia memeluk pinggang Rimba dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Rimba, lalu kakinya melilit kaki Rimba sudah persis memeluk guling saja.
Aileen sangat suka bau badan pria. disaat ia tidur dengan ayahnya juga obat tidur paling manjur adalah bau badan pria, baginya bau badan pria memiliki ciri khasnya sendiri, baunya menenangkan membuat dia nyaman.
lalu ia terlelap karena usapan hangat Rimba di punggungnya. Rimba masih saja bersenandung dan menepuk-nepuk punggung Aileen dengan pelan.
ia juga mengantuk dan menghentikan senandungnya, lalu mencium rambut Aileen.
"Mimpi indah, Leen." Rimba menutup matanya. Mereka berdua tidur dengan saling memeluk tanpa ada selimut yang menghangatkan mereka.
ruangan Rimba yang gelap hanya mendapatkan cahaya dari luar yang terkena pancaran dari lampu luar.