
Aku dan Aldo berjalan beriringan. Aldo mengantarku sampai keluar dari rumahnya.
"Keluarga kamu unik ya. apalagi ibu dama adik kamu, mereka berdua humoris."
"Iya setiap hari selalu ramai karena Ayah dan aku selalu di marahi Mamah tanpa sebab."
"Hahahaha....sabar dong." aku mengengam tangan Aldo dan menatap matanya.
"Terima kasih untuk makan malamnya. aku menunggu undangan selanjutnya kita makan malam berdua." Aldo terkekeh mendengarnya.
"Ya sudah, pulangnya hati-hati sudah malam." Aileen mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya bersama dengan ke dua adiknya.
namun sebelum itu, ia mengeluarkan kepalanya ke jendela lalu Aldo membungkukkan badannya dan mengecup bibir Aileen.
"Titip ke dua anakku ya." ucapku kepada Aldo.
"Aku akan menjaganya." aku mengangguk mendengar jawabannya. lalu aku menjalan mobil ku meninggalkan Aldo yang masih berdiri memperhatikan aku pergi.
makan malam ini berjalan dengan lancar, keluarga Aldo menerima aku dengan tangan terbuka. Dan mendesak ku agar cepat menikah dengan Aldo.
aku dan Aldo memang berencana seperti itu namun Aldo harus datang menemui keluargaku dahulu. Aku ingin kedua belah keluarga besar di pertemukan dan menemukan jalan yang mereka sepakati.
❣️❣️❣️
Aku keluar dari dalam kamarku, aku memasuki kamar Justine terlebih dahulu. ternyata Justine belum tidur dan masih berdiri di balkon.
aku berjalan mendekati dia dan berdiri di sampingnya.
"Kenapa belum tidur?" tanyaku dengan mata yang menatap ke arah depan.
"Belum ngantuk, Mah."
"Mikirin apa sih? coba cerita ke Mamah."
"Mamah Justine mau tanya."
"tanya apa?"
"Kalau nanti Mamah menikah Justine sama Arka ke mana?" aku terdiam mendengar pertanyaan Justine. aku mengulas senyum lalu menatap ke arahnya.
"Kalian akan tinggal dengan Mamah dan Kak Aldo. Mamah sudah membicarakan ya bersama dengan Aldo. Nanti kalau Arka berangkat sekolah militer, kamu sendirian bersama kedua anak kembar mamah." lalu hening, tidak ada yang berbicara di antara kami.
"Bagaimana perasaan mu saat menjadi Arthur." tanyaku kepada Justine. Justine terdengar tertawa.
"Aku senang, senang sekali." ucapnya dengan nada yang terdengar amat bahagia.
"Aku biasa saja. Aku sudah merencanakannya dari dulu. Aku benci kepada mereka karena selalu menghina ibuku dan menghukum ibuku. Jadi mereka pantas mendapat kematian seperti itu." mendengar jawabannya aku mengembuskan nafas kasar.
"Ayo tidur, sudah malam. besok kalian akan pergi bersama Kak Rimba bukan?" Justine menganggukan kepalanya.
aku membuka selimut lalu Justine masuk kedalam selimut, aku menutup tubuh Justine dengan selimut.
lalu mencium keningnya, "Mimpi indah, Anak Mamah." ucapku lalu keluar dan mematikan lampu kamar Justine.
setelah menutup pintu kamar Justine. Aku masuk ke dalam Arka. Memastikan Arka sudah tidur, aku mencium kening Arka.
"Mimpi indah anak Mamah." lalu aku keluar dan masuk ke dalam kamarku sendiri.
aku melempar tubuhku ke atas ranjang, tubuhku hari ini benar-bebar lelah. pekerjaan yang menumpuk, belum lagi mengurus rumah dan mengurus kedua adiknya.
jujur saja sebenarnya dia lelah dengan semua ini. Tubuhnya butuh istirahat. Setelah kepergian Ayah, Mamah dan Tante Bella. semuanya menjadi tanggung jawabnya.
Ayahnya meninggalkan tanggung jawab yang begitu besar kepadanya. Belum lagi Justine yang datang mengiba kepadanya membuat ia tak tega.
Setidaknya ia bersyukur masih ada 2 orang yang harus ia perjuangkan dan di jadikan semangat olehnya.
"Ayah..."
"Apakah kau tahu Putrimu melewati masa-mada sulit tanpa dukungan dari mu. Tanpa kata-kata penyemangat dari mu." aku meneteskan air mataku.
"Aku rindu dengan nesehat-nasehatmu kepada ku. Aku rindu berapa Ayah sangat sayang kepadaku. Ayah aku berusaha menjadi seperti mu, menjadi orang yang serba bisa serta bisa di andalkan."
aku menangis didalam gelapnya kamar, hanya cahaya dari luar yang menyinari kamarku.
"Mamah...apakah kau bangga kepadaku? aku berhasil mengurus putramu. Putramu akan segera sembuh Mah. Aku merindukan pelukanmu, aku merindukan perkataan halus mu. aku sangat merindukan masakan mu." aku menangis. air mataku keluar dengan deras.
"Andai kalian tahu, disini aku tertekan. Terlalu banyak beban yang kalian tinggalkan. Aku kesulitan berdiri dengan kakiku sendiri. namun aku tidak mengecewakan kalian. aku paksa kakiku berdiri dan belajar bertanggung jawab atas wasiat yang kalian berikan."
"Ayah...aku takut karma mu akan berimbas kepada ku. Aku takut....hiks..."
"Aku tidak merasakan masa remaja yang menyenangkan. aku melewatinya begitu saja demi mengejar pendidikan ku. di saat semua gadis sibuk dengan kuliahnya dan percintaan mereka. Aku meluluskan kuliahku di usiaku yang ke 17 tahun, aku sibuk bekerja dan mengurus Arka."
"Sekarang Justine datang, anak mu yang lain datang kepadaku Ayah. Memelas kepadaku agar aku mengasihaninya. Ayah apakah aku bisa melewati semua ini?"
"Jika aku bisa, aku akan menolaknya. Beban ini terlalu berat untuk aku pikul sendiri. Aku terlalu lelah dan tidak memikirkan masa depan hidupku."
aku terdiam dengan menatap langit-langit kamarku. mataku terasa sakit untuk berkedip.
aku beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan pelan. Beberapa kali berlalu akhirnya aku bisa menutup mataku.