
"Kak ini sudah 3 hari Arka pergi? apakah kau tidak bisa menemukannya?" Aku mengeram kesal karena pasukan bodoh Rimba tak kunjung mendapatkan adikku.
"Sialan, apakah sekarang pasukan mu menjadi lemah begini?" tak ku hiraukan makian Kak Rimba disana, aku malah memakinya balik.
"Kau pikir aku pengangguran? ya, mereka berdua bertengkar karena Arka cemburu dengan Justine."
"Tidak."
"Aku tidak pernah pilih kasih kepada mereka berdua."
"Kak, aku sudah bilang ribuan kali masalah Justine. Aku baru melepas Justine setelah dia menikah nanti."
"Aku takut Arka kenapa-napa, kau tahu kan Arka ini anaknya gampangan."
"Baiklah kak, aku akan tunggu kabar baik darimu."
aku mematikan sambungan telfon kami. menghembuskan nafas kasar. Sudah tiga hari Arka hilang.
Aku sudah sibuk mondar-mandir kesana-kemari mencari Arka. menanyakan disekolah bahkan teman-temannya.
"Adikmu kabur lagi?" aku menengok ke belakang ternyata Pak Carlos.
Aku menganggukan kepalaku dengan tak bersemangat.
"Dia ada di rumahku." sontak aku menatap Pak Carlos, aku memegang kedua lengannya.
"Bapak serius kan?" tanyaku dengan tak sabaran.
"Kau pikir aku bohong?"
"Sekarang aku tanya, apa yang kau lakukan kepada adikmu? dia menangis dengan mengetuk pintu apartemen ku tengah malam."
"Maafkan aku Kak, aku tahu aku salah. Ini hanya salah paham antara kami bertiga. Kakak tahu kan Arka dan Justine tidak bisa akur. Arka berpikir aku lebih sayang kepada Justine dan mengabaikannya. Tapi demi Tuhan aku tidak pernah pilih kasih kepada mereka berdua."
Jelas ku dengan cepat, sungguh demi apapun aku sangat ingin bertemu dengan Arka. Meminta maaf, memeluknya dan mencium Arka.
"Jangan temui Arka dulu, dia masih down karena pertengkaran itu. Setelah aku mengizinkan mu bertemu baru ambil Arka." Carlos mengatakan itu dengan nada dingin, lalu melenggang pergi. Bahkan aku tak sampai menahan lengannya agar tak pergi.
Marah.
Kak Carlos marah, lebih tepatnya kecewa. aku tahu dia mungkin kecewa kepadaku apalagi membuat Arka kabur dari rumah tambah membuatnya kecewa.
...***...
Ya, Justine telah tahu dimana Arka berada namun dia memilih diam.
"KAU SELALU MEREBUT PERHATIAN AYAH DARIKU, MEMBUAT AYAH TERASA JAUH UNTUK AKU GAPAI." teriaknya penuh amarah.
"IYA, MEMANG ITU YANG GUE LAKUIN. GUE PENGIN LO HANCUR-SEHANCUR HANCURNYA SAMA IBU LO YANG PELACUR ITU." bentak Arka penuh emosi juga.
"IBU GUE BUKAN PELACUR, BRENGSEK." maki Justine yang tak terima ibunya di hina oleh Arka.
"Oh ya? tidak ada panggilan indah untuk seorang istri ke-2. Perebut suami orang." ucap Arka dengan sinis.
"Gue sama Ibu gue udah sering mengalah untuk mendapatkan perhatian Ayah. Gue diem aja waktu Lo ambil Ayah disaat waktu yang seharusnya milik gue, Lo rebut dengan paksa."
Arka menatap Justine sinis, "Karena gue anak dari istri sahnya, jadi wajar jika gue selalu di utamakan."
"Sekarang Lo mau apa, hah? mau ambil Kakak gue setelah Lo ambil Ayah gue?" Justine mengeram marah kepada Arka, ingin sekali ia menancapkan pisau di mulut berbisa Arka.
"Dia juga Kakak gue." ucap Justine dengan tajam, Arka malah terkekeh dengan keras.
"Lo denger ya, Aileen cuman Kakak gue. Coba Lo pikirkan? kita cuman saudara tiri, Aileen enggak setulus yang Lo kira. Dia terpaksa menampung anak setan kayak Lo itu. Karena janjinya kepada Ayah, kalau dia enggak janji mungkin sampai sekarang Lo masih terkurung di Panti asuhan."
Arka dan Justine saling bertatap tajam, tatapan mereka bagaikan tatapan pembunuh. Arka yang biasanya tampak mengemaskan dan manja entah kenapa sekarang menjadi pria yang liar.
"Kau pikir aku tidak tahu penyakit bipolar mu itu?" ucapku dengan sinis. Sungguh jiwa psychopath ku meronta-ronta sangat ingin di keluarkan namun pikiran waras ku masih mampu menahannya.
"Kau juga memilikinya, anak setan. Jangan sok suci, karena kau lebih hina dibandingkan ku."
"Mau mengatakannya kepada Mamah? silahkan. Dia tidak akan percaya." ucap Arka dengan tersenyum miring.
Bugh....
satu pukulan Arka dapatkan dari Justine. Tak terima, akhirnya Arka membalas pukulan Justine. Mereka saling tinju meninju tubuh. Tak perduli dengan wajah mereka yang sudah babak-belur yang penting amarah Meraka tersalurkan.
Ya, baik Arka maupun Justine mereka berdua memiliki bipolar yang hanya diketahui oleh orang tua mereka saja. Bahkan Aileen tidak mengetahui akan hal ini karena orang tua mereka menyimpannya dengan rapat.
Namun penyakit Bipolar Justine sudah diketahui oleh keluarga besar Arthur. Penyakit Arka ini belum pernah terendus oleh keluarganya sendiri.
Hanya Justine yang tahu bahwa Arka memiliki penyakit bipolar mungkin karena sama-sama memiliki penyakit yang sama jadi dia paham.
Justine akan berubah ketika dihasut berbuat jahat oleh seseorang, awalnya dia pria yang pendiam lalu ketika bipolar nya kumat dia akan menjadi psychopat.
Sedangkan Arka yang selama ini dikenal akan sifatnya yang seperti anak kecil, sebenarnya dia menyembunyikan iblis jahat yang tersegel didalam tubuhnya. Bipolar nya akan kambuh ketika dia sudah diliputi amarah yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.