
Aku mengedarkan pandanganku yang terpenting bukan ke arah Aldo. Malas sekali melihat tukang selingkuh sepertinya.
"Ayo ceritakan." desaknya sedari tadi.
"Apa sih? orang cuman kecelakaan doang kok." jawabku dengan kesal.
"Kau mau aku berbuat nekad kepadamu." melihat Aldo yang sudah berdiri dadi duduknya membuat aku terkejut.
"IYA-IYA AKU CERITA." teriakku dengan lantang karena takut dia akan menghukum ku lagi.
"Aku mau melihat adik-adikku dulu sudah tidur atau belum." ucapku hendak beranjak dari dudukku. namun Aldo menghentikan ku.
"Jangan kabur, cepat duduk dan ceritakan." suaranya terdengar memerintah membuat aku menurut.
Aku naik ke atas ranjang dengan wajah yang tertekuk sebal dan duduk diantara kedua paha Aldo laku menyandarkan tubuhku di dada kekasihku.
Aku meraih kedua tangannya, satunya ku taruh diatas perutku satunya lagi ku pegang-pegang seperti mainan.
"Dulu saat aku kecil, aku selalu membuat onar. Sebenarnya Ini bukan salahku tapi salah Kak Nathan."
"Waktu itu Kak Nathan menyuruhku mengambilkan kunci mobil kak Rimba. Saat itu kak Rimba sedang mandi dan Kak Nathan menyuruhku mendobraknya. karena aku masih kecil aku menurut saja. Tiba-tiba saat aku baru saja mau menggedor pintu kamar mandi Kak Rimba, aku terjatuh karena ternyata pintunya tidak terkunci."
"Aku jatuh tersungkur, siku ku terluka. Lalu saat aku mengangkat kepalaku aku melihat ulat besar milik kak Rimba. Aku menatap wajah kak Rimba yang menatapku datar lalu aku menatap ulat kak Rimba lagi dengan Lamat sampai akhirnya tubuhku tertarik kebelakang dan terangkat. Di situ kak Nathan langsung membawaku lari dari kamar kak Rimba."
"Kau tahu disana akhirnya aku dan kak Nathan dihukum oleh kak Rimba. Kami harus membuatnya bahagia dengan cara membuat kami sengsara. Aku dan Kak Nathan setiap pagi harus lari-lari memutari mansion Om Sam sebanyak 5 kali."
"Aku dulu itu gendut ah tidak, bukan gendut tapi sedikit berisi. Setalah kejadian itu aku jadi kurusan dan memiliki tubuh seperti sekarang ini. lalu selesai. TAMAT." setelah selesai aku bertepuk tangan ria.
"Ternyata kekasihku ini anak nakalnya." Aldo menarik pipiku membuat wajahku tertarik.
lalu dia mencium pipiku yang tadi dicubitnya.
"Sayang mau nginep disini?" Aldo tersenyum penuh arti saat kekasihnya sudah memanggilnya dengan sebutan sayang lagi, berarti dia sudah tidak marah kan?.
"Kalau kau mengizinkan, aku akan menginap."
"Baiklah menginap disini saja. lagian besok libur aku ingin mengajak anak-anakku pergi jalan-jalan bersama dengan adik-adikku." Aku bangkit dari sandaran ku pada Aldo.
"Ayo ikut aku ambil pakaian." Aldo bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Aileen.
Sangat besar.
terlihat mewah sekali, ternyata selera Aileen bukan biasa, sangat tinggi. Sepertinya memang dia adalah adik Rimba.
Kekayaan keluarga Arthur memang tidak perlu diragukan lagi, dilihat dari rumah yang Aileen tinggali juga bukan termasuk rumah sederhana melainkan rumah mewah yang terlihat elegan namun saat masuk kedalam tampak seperti istana.
ia pun kagum dengan isi dari rumah Aileen ini. seperti memiliki kesan tersendiri.
"Sayang ini pakaian mu. Gantilah dikamar mandi." Aku mengambilkan baju tidur untuknya lalu menunjuk kamar mandi agar Aldo bisa ganti pakaian disana.
Di kamar mandi pun dia kembali terkagum-kagum lagi, ternyata selera Aileen sangat tinggi sekali. Berkelas.
Setelah selesai berganti pakaian kami pun keluar dari walk-in close bersama-sama, setelah menutup pintu aku berjalan menuju ranjang.
Sekarang Aldo baru tahu kalau kekasihnya ini penyuka warna gelap. Dari kamar tidur sampai kamar mandi ia dimanjakan dengan warna-warna yang gelap, ya terlihat maskulin memang namun sedikit menakutkan juga melihatnya.
Banyak hawa yang tercampur disini, ia bisa merasakannya ada rasa nyaman dan sedikit menakutkan juga.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa." jawab Aldo dengan cepat.
"Ayo tidur aku lelah." kami berdua pun menaiki ranjang bersama lalu mematikan Lampu tidur. Sebelum tidur Aileen sempat mencium pipi Aldo dan berbaring di samping Aldo dengan memeluk guling nya yang langsung menyembunyikan wajahnya.
Aldo berbaring menghadap Aileen, karena ia juga sama-sama lelah, ia pun memejamkan matanya dan tertidur.
mereka berdua tertidur dengan saling berhadap-hadapan, yang satu wajahnya tertutup oleh guling yang satunya tertapampang nyata wajah tampannya.