
Rimba mengayunkan kunci mobil didepan adik kesayangannya itu.
"Kau menyetir." ucapku yang langsung di tangkap kunci itu dengan gembira. Aku menarik Arka yang akan masuk duduk didepan kemudi meminta di pang ku Aileen.
"Justine kau didepan, biarkan Arka bersamaku."
aku menyeret Arka agar duduk dibelakang bersama ku dan Oliver, "Arka mau sama Kakak?"
Arka tampak menggelengkan kepalanya menolak ajakan dari Oliver, "Mau sama Mamah."
"Arka kamu udah besar. belajar mandiri, lagian Mamah lagi nyetir nanti kenapa-napa malah kalau mangku kamu." ucapku dengan tegas mampu membuat Arka terdiam. Aku mendudukkan Arka di tengah-tengah pahaku.
"Oke kita jalan." Aileen menjalankan kendali mobil. awalanya mobil bergerak dengan lancar dan pelan.
"Justine nanti kamu kenalan sama keluarga Ayah disana."
"Justine takut Mah."
"Ngapain takut? ada Mamah disini." jawab Aileen dengan santai. aku hanya diam duduk bersandar di belakang dengan memangku Arka yang memainkan ponselnya.
"kau sudah cuti bukan?" tanyaku kepada Oliver.
"Sudah."
"Kenapa lamban sekali?" keluhku kepada Aileen yang mengemudi dengan lamban.
"Bagaimana tidak lamban, kita saja berada di paling belakang. Paman Sam sengaja melambangkan laju mobilnya. Baiklah jika begitu, kita harus memimpin jalan kali ini."
Aileen mengambil kaca mata hitamnya lalu memakainya dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat menyelip 2 mobil yang berada di depannya.
Justine terlihat mencengkram salt beat dengan kencang karena ini benar-benar cepat sekali seperti sedang balapan. Lain halnya dengan Arka dan Oliver, mereka berdua bahkan sampai memeluk Rimba.
Oliver yang memeluk lengan Rimba sedangkan Arka yang sudah sepenuhnya bersandar Rimba dengan tangan yang berpegangan pada pintu mobil.
"Ma...mah..." panggil dengan susah payah Arka kepada Mamahnya yang sedang gila-gilaan mengemudikan mobilnya.
sedangkan Nathan yang mobilnya di selip oleh sepupunya memaki karena hampir saja mobil Rimba menyerempet mobilnya.
"Oh shit. siapa yang mengemudi ?" makinya sambil memukul kemudi.
Nathan menggeram frustasi di buatnya. kenapa harus Aileen yang mengemudi? Aileen akan ugal-ugalan jika mengemudi kendaraan dengan jarak jauh. Memang benar Aileen handal tapi tetap saja ia takut nanti terjadi apa-apa dengan mereka semua.
❣️❣️❣️
Aileen dengan bersiul menutup pintu mobil dan berlari menghampiri sesosok pria yang baru keluar dari dalam rumah.
"David..." teriaknya dengan girang tak lupa memeluknya dengan erat.
"Sepupuku tercinta." sambut David dengan riang tak lupa mencium kedua pipi Aileen dengan sayang.
"ih...kok engak pernah ke rumah aku sih? apa sekarang kamu sibuk ya sama karir kamu?"
"Bukan gitu, karirku sedang naik daun jadi aku tidak mau menyia-yiakan kesempatan ku menjadi seorang artis." aku menganggukan kepalaku.
"Mau pergi ke kebun?" aku mengangguk dengan semangat dan mengengam jemari-jemari David.
setelah kepergian Aileen dan David, Alex dan Nathan baru datang bersama rombongannya.
"Dimana Aileen?" Nathan langsung mencari adiknya yang bandel itu.
"Sedang pergi bersama David." jawab enteng Oliver menunjuk Aileen dan David yang masih berjalan tak jauh dari mereka menuju kebun buah.
"Anak itu selalu saja membuat masalah." dengan langkah yang lebar Nathan berjalan mengikuti Aileen dan David.
"Ayo masuk, Alex Lisa di ajak ngobrol kamu gimana sih?" marah Nathalie kepada Alex yang terlihat cuek kepada Lisa.
"Lisa ayo masuk, jalanmu lamban sekali." Lisa buru-buru mempercepat langkahnya mengikuti Alex di belakang.
"Bisa kau membawa Arka? aku mau membiarkan sesuatu yang penting bersama Justine." Oliver mengangguk dan menuntun Arka agar ikut dengannya.
"Bagaimana? apakah kau ingin membunuh keluarga ibumu?"
Justine masih terdiam. ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Bayangkan saja jika kau jadi membunuh keluarga rendah itu, kau akan menjadi keluarga Arthur seperti impian mu. Kau bisa menjadi adik sungguhan dari Aileen."
"Lepaskan saja monster didalam tubuhmu." Rimba berjalan mendekati Justine laku memegang sebelah bahu Justine.
"Jika kau mau aku bisa mendapatkan pak tua itu malam ini."