The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 5A { Debaran Aneh}



Aku jalan-jalan di sekitar rumah sakit setelah pulang dari kantor. Kak Nathan masih dirumah sakit, sudah agak baikan dan semua orang sedang mengurus pernikahan Lisa dan Alex.



Aku berjalan keluar dari area rumah sakit lalu mendengar suara orang berlari dan aku menengok ke belakang.


"ARION..." teriakku keras saat melihat Arion yang berlari dengan di belakang dikejar oleh Ayahnya dan beberapa pengawal.


Arion memeluk kakiku dengan erat dan menyembunyikan tubuhnya yang kecil dibelakangku.


"YA...APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA PUTRAKU?" bentak ku kepada Pak Aldo, tak perduli siapa yang sedang berada di hadapanku ini.


"Diam. berikan Putraku kepadaku." aku menggelengkan kepalaku. Ku ambil Arion dan ku gendong dia. Tubuhnya hangat, apa dia sakit lagi?.


"Kenapa dia?"


"Dia sakit karena memikirkan mu. Ingin bertemu dengan mu tapi aku tidak mengizinkannya." aku terkejut mendengarnya, Putraku sakit karena memikirkan ku?.


"Arion kenapa sakit? maaf ya Mamah sibuk akhir-akhir ini. Ayo Pak bawa anak saya ke rumah sakit." Aku mengajak Pak Aldo saat melewatinya namun Pak Aldo malah mencekal lenganku.


"Berikan Putra saya, anda bukan siapa-siapa disini." aku menggelengkan kepalaku dan mengeratkan pelukanku kepada Adam.


"Kita jangan berdebat disini, setidaknya prioritaskan Arion dulu, ya. Ayo kita ke dokter dulu." ku sentuh lengan Pak Aldo dengan lembut dan menariknya agar mau membawa Arion ke dokter bersama.


Aldo menatap pengawalnya memberikan isyarat agar tidak mengikutinya.


Dari kejauhan Rimba melihat adiknya yang berjalan cepat dengan mengendong seseorang.


"Ai-" ia tidak melanjutkan ucapannya karena Aileen melewatinya begitu saja dengan tergesa-gesa terlebih ia melihat rivalnya berada bersama dengan adik kesayangannya itu.


ia menatap kepergian adiknya itu dengan datar.


...❣️❣️❣️...


"Jadi Putra saya engak kenapa-napa kan Dok?"


"Hanya demam ringan dan kecapean. Saya berikan resep dan vitamin nya ya Bu. ibu bisa tebus obatnya di apotik dan pastikan obatnya habis di minum." aku mengangguk dan mengambil resep dokter.


"Terima kasih ya Dok." Aku dan Pak Aldo keluar dari ruangan.


Aku masih mengendong Arion, Arion terlihat lemas. Ku cium pipi Arion dengan lembut.


"Berikan Arion kepadaku." Arion mengeratkan pelukannya kepadaku saat mendengar Ayahnya.


"Pak Arion masih sakit, bisa lembut sedikit tidak?" ucapku dengan tegas.


"Ikut aku." aku mengalah dan mengikuti Pak Aldo, ia menyuruhku naik kedalam mobilnya. aku menurut dan masuk.


ternyata dia membawaku ke rumahnya. Saat aku masuk kedalam rumahnya Azura menghampiri ku dengan memeluk Kakiku.


"Mamah....kangen..." aku berjongkok dan menurunkan Arion.


"Mamah juga kangen sama kamu. Maaf ya Mamah banyak kerjaan akhir-akhir ini Mamah juga lagi ngurus Kakak Mamah yang sakit."


"Kak Arion juga sakit." aku mengangguk dan mencium kedua pipi putriku yang cantik ini.


"Mamah gendong." Walaupun berat aku mengendong si kembar di kedua sisiku. Ternyata ada Ibu pak Aldo.


"Nyonya." sapa ku kepada Nyonya Sarah.


"Duduk Nak. Pasti cape ya?" aku mengangguk dan duduk bersama dengan Nyonya Sarah.


"Maaf ya ngrepoti kamu lagi."


Aku menidurkan Arion dengan pelan karena ternyata Arion sudah terlelap. sedangkan Azura yang tampak mengantuk.


"Azura tidur sama Kakak ya?" Azura mengangguk lalu aku menidurkan Azura di ranjang dan mencium dahinya lembut.


"Kamu temuin Aldo aja, biar saya yang jagain si kembar." aku mengangguk dan keluar dari kamar si kembar.


Namun baru tiga langkah keluar dari kamar sikembar seseorang menarik lengannya lalu membawanya kedalam suatu ruangan rahasia.


"Apa sih Pa di bawa ke sini segala." kesal ku karena ruangan ini cukup mengerikan.


Tiba-tiba Pak Aldo menubruk tubuhku membuat aku limbung dan Terjatuh ke atas ranjang.


"Kau mencintai ku?" aku menatap manik mata hitam Pak Aldo.


"Atau kau mencintai pacarmu itu?"


"Dia sepupuku namun dia mencintaiku lalu menghamili pacarnya dan dia tidak mau lalu aku mengajukan syarat kepadanya. aku mau menjadi kekasihnya selama satu Minggu dengan syarat dia harus menikahi pacarnya dan bertanggung jawab pada janin yang di kandung pacarnya itu. namun aku sudah putus dengan Alex, Minggu lalu." terang ku kepadanya. Karena aku pikir alasan pak Aldo marah kepadaku karena ini.


"Sepupu ya?" aku menganggukan kepalanya.


"Kau cinta aku tidak?" aku terdiam, pertanyaan macam apa ini? aku baru mendengarnya.


"Bapa ini ngomong apa? mana mungkin saya mencintai bapa. Aku tuh sebel bapa asal mengklaim aku jadi Kekasih bapa tapi aku engak pernah merasa di tembak oleh bapa sama sekali." kesal ku yang teringat bagaimana Pak Aldo mengklaim ku seperti itu. Seperti barang saja.


"Kau masih menjadi kekasihku mulai saat ini."


"Turun Pak, bapa kira bapa ini ringan, berat sekali. Turunkan pantat bapa dari pahaku." ya si gendut Pak Aldo duduk di atas pahaku dengan badan yang menindih tubuh depanku.


"Beri aku ciuman baru aku turun."


"Dasar gendut." ejek ku karena memang Pak Aldo gendut terbukti dia berat.


"Hei aku tidak gendut. mau lihat?" ini tawaran kan? tidak baik menolaknya, jadi aku menganggukan kepalaku. aku sudah jarang melihat roti sobek ketiga Kakakku karena mereka sudah menikah jadi selalu berpakaian rapi.


Aldo menegakkan badannya dengan posisi masih duduk diatas paha kekasihnya itu. Dengan gerakan menggoda ia membuka kemejanya, lalu terpampang lah tubuh yang membuat wanita berteriak histeris di buatnya.


Aileen yang terkagum melihat perut six pack Aldo pun mengerakkan tangannya dan menyentuh roti sobek itu dengan pelan. Ia mengarahkan tatapannya kepada wajah rupawan Aldo.


Sepertinya Aldo sudah mampu menghipnotis kekasihnya itu hanya dengan cara begini. Ia merasakan sapuan halus di wajahnya lalu menikmati bagaimana sang kekasih mencium Pipi dan matanya lalu menempelkan bibir mereka.


Memangut nya dengan pelan, menyesap dengan dalam. Sudah lama ia mendambakan hal ini, Akhirnya tercapai juga.


ia memegang tengkuk kekasihnya dan membalas ciuman itu dengan panas. Membiarkan kekasihnya berada di bawahnya. Lalu ia membalik posisi menjadi Kekasihnya berada dipangkuannya.


Jago juga kekasihnya bercumbu. Rasanya baru kemarin-kemarin masih amatir. Tangannya masuk kedalam baju yang di pakai dan melepaskan ikatan bra yang kekasihnya pakai.


lalu meremas dua bukit itu dengan cepat dan kasar. Ia mendengar suara erangan dari sang Kekasih namun ia masih menciumnya dengan ganas.


"Akh...sss...top..." tentu sayang tidak akan lebih hanya pemasaran selanjutnya akan kita lakukan saat kita menikah nanti. aku yakin kau masih perawan.


masih ku cumbu dan ku remasi buah dadanya yang besar. Tak ku sangka akan sebesar ini, dulu aku yang selalu curi-curi pandang kepada dadanya sekarang bisa merasakan betapa kenyalnya benda itu.


anggap saja aku brengsek tapi memang siapa yang akan tahan dengan body seksi milik Aileen ini? melihat Aileen memakai pakaian kurang bahan saja sudah membuat ia horny apalagi di saat berdua begini, ia bisa hilang kendali rasanya.


begitu kuat ia mencengkram pinggangnya Aileen. Sehingga membuat tubuh depan Aileen begitu menempel dengan dada telanjang Aldo.


Aldo masih belum ingin menyudahi ciuman panasnya.