
Langit terlihat mendung, se kerumunan orang-orang berbaju serba hitam satu persatu mulai pergi dari tempat pemakaman. Matanya yang merah dan bengkak, wajahnya pucat membuatnya tidak bisa dinyatakan dari baik-baik saja.
Pandangannya kosong menatap makam kedua orang tuanya, baru kemarin Ibunya meninggal sekarang Ayahnya pergi meninggalkannya juga, kenapa duka ini ia rasakan dua hari berturut-turut?.
Ia mengelus kedua batu nisan kedua orangtuanya dan menciumnya lalu pergi dari makan dengan perlahan. Didepan area pemakaman, Kakaknya Alex menunggunya didepan mobil.
Alex membukakan pintu mobil untuk Adiknya itu, ia membiarkan adiknya masuk terlebih dahulu. Lalu setelah itu ia masuk kedalam dan duduk disampingnya. Supir pun menjalankan mobilnya menuju rumah Aileen.
Sepanjang perjalanan Aurel hanya terdiam dan menatap jendela menikmati pemandangan walaupun sebenarnya pandangannya kosong. Ia rasakan Alex mengengam tangannya, ia menengok ke arah Alex, Alex tersenyum kepadanya dan ia membalas senyuman Alex dengan kecil. Alex mengelus tangannya dengan lembut.
"Tak apa, masih ada aku disini." Tak ku balas ucapan Alex. Ku palingan wajahku kembali ke arah jendela mobil.
Setelah kepergian orang tuanya, ia hanya hidup dengan bergantung kepada warisan yang Ayahnya tinggalkan. Sebenarnya Ayahnya meninggalkan warisan yang sangat banyak mungkin mampu menjamin hidupnya sampai ia tua nanti, tapi ia harus berusaha menjadi mandiri dan tidak bergantung kepada harta warisan orang tuanya.
Di umurnya yang baru menginjak tujuh belas tahun, dua bulan yang lalu. Ia baru saja lulus kuliah, ia memang pintar makanya ia bisa lulus dengan cepat dan mendapatkan gelar S1 di usia yang muda.
Ia memiliki seorang Adik berusia 12 tahun yang memiliki mental seperti anak-anak, karena sejak kecil adiknya selalu dimanja membuat sifat itu terbawa hingga ia besar. Namanya Arka.
Arka selalu dimandikan, dipakaikan baju dan disuapi olehnya. Arka pun selalu meminta digendong kepada Kakaknya, namun dia tidak memanggil Kakaknya dengan sebutan Kak melainkan Mamah, aneh bukan? Tapi tak masalah selagi ia merasa nyaman.
Saat ini aku sedang menghadiri pesta acara pernikahan Kakaknya Rimba dan Violet. Ia duduk bersama kedua saudaranya yaitu Alex dan Nathan. Arka bersama dengan Paman Sam dan Bibi Nathalie. Kami berdua bercanda bersama.
Sedangkan Rimba yang sedang menerima tamu dan sedang mengobrol dengan kolega bisnisnya tiba-tiba membahas Aileen.
"Apa dia Adikmu?" Tanya salah satu teman Rimba. Rimba mengangguk.
"Entah mengapa sepertinya ia memiliki aura pemikat, ya walaupun ku akui dia biasa saja penampilannya tapi entah mengapa ia memiliki aura yang tidak biasa." Rimba mengamati adiknya yang sedang bercengkrama dengan Alex dan Nathan.
"Pandanganmu saja mungkin." Bantahku yang tidak merasakan aura yang Aileen pancarkan.
"Kau Kakaknya bodoh jadi kau sudah terbiasa dengannya. Aku sekali melihatnya beberapa detik langsung tertarik dengannya, kau tau bukan setiap orang memiliki aura yang berbeda. Dan adikmu sepertinya memiliki aura yang langka. Tidak semua orang memiliki aura pemikat seperti itu.
Rimba menatap sekelilingnya dan ia menemukan beberapa pria yang juga sama menatap adiknya dengan wajah yang seakan tertarik, apakah benar ucapan temannya itu?.
"Kau yakin Hiro?" Tanyaku memastikan. Hiro menghela nafasnya, "Kau bodoh sekali, aku ini dokter psycholog. Jadi aku tau."
"Mungkin aku bisa membesarkan klan ku bersama dengan dia, kau tau aku sangat possessive kepadanya dan setelah kau mengatakan itu seketika obsesi ku muncul kepada adikku. Terima kasih bung...." Ia pergi meninggalkan temannya dan berjalan menghampiri adiknya itu.
"Hei, apa maksudmu obsesi? Dia adikmu bodoh." Teriak Hiro namun tak didengarkan oleh Rimba.
Rimba berjalan ke arah adik sepupunya itu dan mengecup kening adiknya itu, membuat kedua adiknya berteriak tidak terima, "Apa yang kau lakukan? Kau baru memiliki istri tapi kau malah mencium perempuan lain." Teriak Nathan tidak terima dengan tingkah Rimba barusan.
Rimba duduk di bangku Adiknya itu membuat mereka berbagi tempat duduk, rimba menatap Adiknya itu dengan tajam, "Aku begitu mencintainya..." Ucap Rimba dengan memeluk adiknya dan mencium pipinya.
Ya memang rimba sangat sayang kepada Aileen, bahkan waktu dulu ia pacaran dengan violet, ia selalu membawa Aileen pergi bersama bahkan saat pergi ke rumah orang tua violet pun Aileen ia bawa. Pernah Violet merasa cemburu kepada Aileen karena setiap pergi bersama dengan Rimba dan mengajak Aileen dirinya selalu diacuhkan oleh Rimba, namun lama kelamaan ia terbiasa dan cinta Rimba untuknya dan untuk Aileen itu jelas berbeda. Rimba mencintai dirinya sebagai wanita dan perempuan sedangkan kepada Aileen cinta yang Rimba berikan itu cinta Kakak kepada Adik. Violet juga baru tahu kenapa Rimba sangat mencintai Aileen karena Rimba yang menginginkan adik perempuan namun yang terlahir adalah Nathan dan Alex, jadilah Rimba menyayangi adik sepupunya seperti adik kandungnya.
"Sudahlah Kak, hentikan semua ini." Keluh Alex yang melihat Rimba begitu perhatian kepada Aileen.
"Kau masih mempunyai perasaan itu?" Tanya Rimba dengan sinis.
"Diamlah." Ujar Alex dengan malas.
"Tidak. Kenapa kau risih bersamaku?" Rimba beranjak namun Aileen menahannya kembali dan membuatnya duduk kembali.
"Bukan begitu, Aileen hanya tanya."
"Kau sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Kakakmu ini Leen." Ucap seseorang dari belakang, yaitu Tante Nathalie.
"Kau tau dia pria gila. Jangan sampai kau menjadi obsesi selanjutnya." Ucap Tante Nathalie.
"Apa yang Mamah bicarakan?" Tanya Nathan yang tak paham dengan ucapan Mamahnya barusan.
"Mamah memiliki tiga anak pria yang berbeda sifat. Rimba dengan sifat obsesinya, Nathan dengan sifat hangatnya dan Alex dengan sifat dinginnya. Mamah tau sisi gelap kalian semua dan Mamah hanya memperingatkan saja " setelah itu Nathalie pergi meninggalkan putra dan keponakannya.
"Apa maksud Tante? Aileen tak paham lah, Kak." Ucapku dengan cemberut.
"Tak usah dipikirkan kau tau sendiri bukan Mamah seperti apa?" Ucap Alex.
"Kau disini aku mencari mu kemana-mana." Tiba-tiba Violet datang setelah kepergian Nathalie tadi. Ia melihat Rimba yang duduk bersama dengan Aileen hanya dengan satu kursi.
Nathan mengambilkan ia kursi untuk duduk dan ia duduk di kursi itu.
"Teman-temanku ingin bertemu denganmu dan berfoto denganmu." Ujar Nathalie.
"Ya, nanti aku kesana."
"Alex kembalikan Kue ku?" Teriak Aileen saat Alex mengambil kue yang tadi ia ambil dan memakannya.
"Ah, sudah habis bagaimana dong?" Ucap Alex dengan nada sedih. Hal itu membuat Aileen marah dan mengambil kue milik Nathan dan langsung memakannya, padahal kue tadi sudah hampir masuk kedalam mulutnya namun dengan kurang ajarnya adiknya itu menarik tangannya dan memasukan kue itu kedalam mulutnya.
"Hei? Itu kue ku, kenapa kau yang memakannya?" Amuk Nathan kepada Aileen.
"Salahkan saja Alex, kak. Dia yang memulainya dulu." Ku limpahkan kesalahanku untuk Alex.
"Kau berani sekali memulai ini?" Ucap tajam Nathan, mereka Alex dan Nathan bertengkar dengan saling memukul bahkan saat Aileen akan melerai mereka dengan menjambak rambut keduanya malah ia ikut terbawa kedalam lerkenalahian itu saat tiba-tiba Alex tidak sengaja menumpahkan ah, lebih tepatnya menyiram air ke gaun yang Aileen kenakan. Membuat mereka bertiga saling memukul dan menjambak satu sama lain.
Bahkan Tamu-tamu yang melihat tidak berniat melerai karena mereka pikir mereka hanya masih anak kecil dan wajar akan hal itu jika bertengkar.
Setelah perkelahian itu, keluarga besarnya mengambil sesi foto bersama dengan pengantin baru Rimba dan Violet. Nathan, Aileen dan Alex berada dibarisan belakang pengantin. Keadaan mereka bertiga jauh dari kata baik-baik saja. Rambut yang acak-acakan, baju yang lusuh dan beberapa noda makanan dan minuman. Namun mereka tetap berpose layaknya tidak terjadi masalah apa-apa, sungguh aneh dengan mereka bertiga.
Bahkan saat Rimba dan Violet berfoto dengan pose ciuman hal itupun dilakukan balik oleh Nathan, Aileen dan Alex yang tiba-tiba masuk kedalam jepretan foto dengan Nathan yang mencium pipi kiri Aileen dan Alex yang mencium pipi kanan Aileen.
Mereka bertiga telah merusak sesi foto pengantin baru itu, yang membuat Rimba mengamuk dan menghukum mereka bertiga dengan menyuruhnya membersihkan kekacauan yang telah mereka lakukan.
"Ini semua salahmu." Tuduh Aileen kepada Nathan.
"Hey ini ulahku? Kau sendiri yang merencanakannya." Elak Nathan saat Aileen menuduhnya.
"Ini semua ulah Alex." Ucap mereka berdua bersamaan. Mereka sedang mengambil makanan yang berjatuhan karena perkelahiannya tadi.
"DIAM. Lanjutkan pekerjaan kalian." Mendengar nada teriakan Rimba membuat mereka bertiga dengan cepat membersihkan kekacauan ini dengan cepat takut akan dihukum lagi oleh Rimba.