
"Sayang coba lihat Ayahmu itu seperti anak kecil, suka ngambek. padahal kan umurnya sudah tidak muda lagi." aku hanya diam mendengarkan kekasihnya dan anak perempuannya berbicara mengenai keburukannya.
"Masa sedari tadi mamah di cueki oleh ayahmu."
"Kenapa? mamah ada salah apa sama Ayah?" tanya Azura sambil memakan pop corn miliknya yang barusan di belinya tadi.
"Mamah tidak melakukan apapun. Tapi ayahmu seperti itu kan kesel mamah jadinya." Aileen merenggut kesal dengan memangku anak perempuannya dipangkuannya.
"Pukul aja Mah Ayah biar enggak marah lagi sama Mamah."
"Begitu ya? nanti Mamah pukul biar Ayah bisa berubah jangan cuek sama Mamah ya. Boleh?"
Azura mengangguk dengan semangatnya, "Boleh Mah, pukul saja Ayah Pukul." lagi anak kandungnya sendiri malah mengompori membuat kepala Aldo rasanya mau pecah mendengarkan ocehan dua wanita yang sangat konyol.
padahal sedari tadi dia tidak mencueki Aileen hanya saja ia marah karena Aileen menggoda setiap pria tampan yang lewat dan terlalu ramah dengan mengumbar senyum manis milik Aileen kepada pria yang menatap Aileen.
Puas menghabiskan malam ini dengan anak-anak. Aldo membawa kedua anaknya pulang terlebih dahulu lalu baru mengantar Aileen ke rumah.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Boleh." aku melangkahkan kakiku memasuki rumah Aileen. aku duduk di sofa.
tiba-tiba terlintas di pikiranku kenapa tidak bersenang-senang dengan Aileen saja malam ini.
"Boleh aku menginap?" Aileen menengok ke belakang, ia kembali fokus menata sepatu yang baru dia pakai tadi.
"Boleh tapi semua kamar disini sudah terisi, tidur dengan ku tak apa?"
Aldo tersenyum sinis, "Tidur dengan mu juga aku tidak keberatan." ada 2 artian untuk perkataan yang Aldo ucapkan tadi.
"Ya terserah." Aldo mengikuti kekasihnya memasuki kamar. ia melihat banyak foto yang terpajang disana.
ia fokus pada bingkai-bingkai yang membuatnya berdiri didepan dinding yang banyak bingkai foto.
"Ini acara liburan keluarga besar tahunan. kita akan mengadakan liburan ke luar negeri setiap tahun baru." aku menganggukan kepalaku paham. Memang benar rumor di luaran sana. jika keluarga Arthur adalah salah satu keluarga terkaya yang pernah ada.
kekayaannya tidak perlu di ragukan lagi, walaupun dulu pernah jatuh namun sekarang bisa bangkit lagi karena keturunan mereka yang jenius.
semua keturunan keluarga Arthur berhasil menjadi orang sukses mau dari pengusaha, dokter, ataupun artis.
Yang paling menonjol dari keluarga Arthur adalah Rimba. Rimba sedari kecil sudah mendapat perhatian publik karena kejeniusannya sama halnya dengan dirinya. makannya mereka berdua selalu di banding-bandingkan oleh publik walaupun bisnis yang mereka jalani berbeda hanya satu bisnis yang sama yang mereka jalani.
Aku menarik pinggang Aileen untuk mendekat. Ku kecup bibirnya dengan lembut, dia hanya terdiam. lambat laun ciuman yang ku buat terasa liar karena Aileen yang membalasnya dengan liar juga.
aku menarik tengkuknya dan melempar tubuhnya ke atas ranjang tanpa melepas ciuman bibir kami. tanganku masuk ke dalam bajunya mengelus perutnya lalu lambat laun naik ke atas menyentuh buah dadanya.
meremasnya dengan pelan, ku rasakan Aileen mengigit bibirku kecil saat tanganku mempermainkan buah dadanya dengan ganas.
ciumanku turun ke lehernya, menggigitnya bahkan menghisapnya sampai memberikan bekas merah keugu-unguan.
"Akh...jangan sekarang...ak-aku...tidak bisa...ada sesuatu yang menghalangi." aku menghentikan ciumanku lalu memandang dirinya yang sudah berantakan dengan wajah frustasi.
"Apa?"
tubuhku ambruk menindih tubuhnya, ia mendekap tubuhku yang berada di atasnya, "Hahahaha..." ia tertawa tepat ditelinga ku lalu mencium pelipis ku dengan sayang.
aku memejamkan mataku, rasanya kepalaku pusing sekali. Hasrat yang akan ku salurkan nyatanya tidak bisa ku salurkan karena dia sedang halangan. Aku menyembunyikan wajahku di celuk lehernya.
mencium lehernya membuat dia geli lalu dengan sengaja Aileen membalik posisinya menjadi dia yang di atas, duduk di atas perutku.
dengan pelan membuka kemejaku hingga memperhatikan tubuh bagian atas ku.
"Aku sangat suka melihat pria bertelanjang dada seperti ini." ucapnya lalu berbaring di atas ku dengan mengecup jakunku dengan sensual.
aku hanya mengeram frustasi karena dia yang beraninya mempermainkan nafsuku saja.