
"Arka bangun dulu, ayo makan." aku menggoyang-goyangkan tubuh Arka.
Arka menggeliat dan bangun dari baringnya. Mengucek matanya lalu turun bersamaku. Di meja makan sudah ada Justine yang terduduk dengan tenang.
Aku menarik kursi untuk Arka. Arka duduk dan menatap Justine aneh.
"Justine kenapa di sini Mah?" tanyanya kepadaku.
"Iya mulai sekarang Justine bakal tinggal sama kita. Kamar Justine ada di sebelah kamar Arka loh." ucapku seraya mengambilkan mereka berdua lauk dan pauk.
Aku melihat wajah Arka yang tampak tak senang akan kehadiran Justine sedangkan Justine menundukkan wajahnya sedih. Aku hanya tersenyum canggung melihat keadaan ini.
"Ayo cepetan makan, Kita mau ke rumah Om Sam."
...❣️❣️❣️...
"Loh kalian ke sini?" tanya Tante Nathalie yang sedang duduk bersama dengan Om Sam. Nathalie tampak menengok ke belakang, ke arah Justine.
"Arka sini temenin Kak Ara." Arka berlari dengan kecil menghampiri Kakak iparnya yang tengah hamil besar.
Aku menepuk sofa sampingku dan menyuruh Justine duduk, "Justine sini duduk."
Justine duduk di sampingku dengan menundukkan kepalanya.
"Apa maksud kamu datang ke sini dengan membawa dia?" tanya Om Sam dengan datar.
"Om, aku mau merawat Justine seperti aku merawat Arka. Tanggung jawab Justine akan aku yang pegang jadi Om enggak usah repot-repot lagi."
"Kau serius? kau sanggup melihat wajahnya yang membuat ibumu mati?" deg...detak jantungku seakan berhenti. Mataku menatap kosong ke arah meja, ku rasakan Justine mengengam tanganku dengan lembut.
aku memandang wajahnya dengan tatapan tak percaya, "Tidak Om. Dia adikku juga, sudah sepantasnya dia mendapatkan kebebasan sama seperti Arka. Om tidak ada hak mengambil semua kendali kehidupan Justine."
"Oh ya? selama ini aku melindungi Ibumu, aku merahasiakan perselingkuhan ayah mu dengan wanita rendah itu. Apa ini balasan yang setimpal?" aku menatap Om Sam dengan memohon, setidaknya jangan bahas masa lalu didepan Justine. aku takut mentalnya terganggu karena Om Sam mengungkit masa lalu kedua orang tuaku.
"Om lebih baik kita bicarakan di ruang kerja om-" ucapan ku terpotong begitu saja oleh Om Sam, "Kenapa harus di ruang kerja Om? bukannya anak lainnya juga harus tahu kejadian yang sebenarnya? dia tidak bisa hidup tanpa rasa penyesalan begitu saja kepada Mu dan Adikmu."
"Sebagai gantinya karena ibunya telah mati maka Dia yang harus membayar semua penderitaan yang kau alami selama ini."
"Aku akan memberikan mu surat-surat milik bocah itu, namun beri aku 1 hadiah yang istimewa." Rimba datang dan langsung berseru. Om Sam tampak tersenyum miring saat melihat kedatangan Rimba.
Rimba berjalan dan duduk disamping ibunya, Nathalie.
"Apa?"
"Ambil harta Karun milik keluarga Cassano." Hanya itu permintaanya? oh astaga. Ini gila.
"Kalian gila?" ucapku dengan nada tak percaya.
"Om akan kembalikan surat-surat penting miliknya jika kau berhasil merampas semua harta milik keluarga Cassano."
aku menatap ke arah Justine. Justine tampak bergetar, aku mengengam tangannya kuat.
"Om mereka keluarga Justine. bagaimana bisa aku mengahancurkan keluarga Justine begitu saja? ingat dia Justine Cassano."
"Aku tidak perduli. Mau dia Cassano kek mau dia siapa lah. Keinginan Om hanya satu yaitu harta Cassano. Jika kau berhasil mengambilnya maka aku akan ganti nama belakang milik bocah itu menjadi Arthur."
Aku tampak binggung. Sial sekali hidupku ini.
"Disini kalian memintaku mengambil harta Cassano. Dalam artian kalian menginginkanku juga membunuh keluarga Cassano kan? tidak mungkin aku hanya mengambil hartanya, maka aku pun harus mengambil nyawa mereka juga kan?" ucapku dengan sinis. Kak Rimba terlihat terkekeh.
"Kau cerdas sekali, memang benar Ayah Adikku ini sudah dewasa." pujinya kepada ku. Rimba tampak memajukan tubuhnya mendekat ke arah Justine.
"Dengar bocah. keluargamu sendiri telah membuang mu 7 tahun lalu, apa yang kau harapkan dari mereka? kehadiranmu bahkan tidak di inginkan."
"Bunuh saja mereka. Maka kau akan menjadi keluarga Arthur sama seperti marga ayah mu bukan?"
"KAKAK APA YANG KAU BICARAKAN?" bentak ku kepada Kak Rimba yang mengatakan omong kosong kepada Justine. Rimba tampak tak bergeming dengan bentakan Aileen barusan.
"Ini kan yang kau inginkan? Bukannya kau memiliki kelainan seperti ku? bunuh saja merak buat apa kau menahan hasrat menyenangkan ini, hah? kalau kau sudah menjadi Arthur semua yang kau inginkan akan mudah kau dapatkan."
Justine tampak mematung dengan bola mata yang melebar sempurna. Dia tak bergeming dari duduknya, bahkan tangannya begitu mencengkram ku dengan erat.