
Kepulangan ku dari kantor, aku mengajak kekasihku untuk belanja bulanan rumahku. Aku mendorong troli yang sudah terisi penuh oleh kebutuhan-kebutuhan rumah.
"Sayang, apa kau tidak ingin membeli sesuatu?" Aldo tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kebutuhan rumah sudah Bibi Anne yang urus."
"Baiklah. Aku saja yang belanja." aku berjalan kesana-kemari mencari kebutuhan yang aku cari.
Dari mulai peralatan mandi, peralatan dapur, bumbu dapur, sayur dan makanan ringan pun aku beli.
Mengamati setiap produk sampai kapan kadal luarsa, baru setelah itu memasukkannya kedalam troli.
"Mantanmu yang tadi lumayan oke." ucapku dengan mengambil beberapa kotak susu.
"Oh ayolah, Aileen. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya." ucap Aldo dengan suara lelah.
"Ya...ya aku tahu kok. Tapi jujur saja padaku, Body ku lebih aduhai kan dibandingkan dia?" Aldo malah menatap dirinya dengan aneh, mungkin tidak maksud dengan apa yang aku katakan atau pura-pura polos.
"Seperti pantat ku seksi." aku meremas pantatku dengan terang-terangan didepan kekasihku.
"Pinggangku ramping." aku menyentuh pinggangku lalu terakhir aku menyentuh payudaraku dengan sedikit meremasnya.
"Payudaraku besar juga." aku terkejut saat Kekasihku tiba-tiba memelukku.
"Sayang, sudah. Jangan dipegang-pegang depan umum malu." aku menyipitkan mataku aneh.
"Kau yang aneh, disini sepi. kenapa kau malah memelukku? mencari kesempatan dalam kesempitan ya?" tuduh ku dengan mengacungkan jariku didepan wajahnya.
"Tida...."
"ALDO?" Aldo menengok ke belakang saat ucapannya terpotong dengan teriakan seseorang yang memangilnya.
Seorang wanita.
Wanita itu langsung menghambur memeluk Aldo dengan kuat, Aldo hanya menghela nafasnya.
"Ih....kangen banget tau ngak sih? kok enggak ada kabar sih?" rengek wanita itu dengan manja. sang wanita melepaskan pelukannya.
"Aldo kenalkan dia suamiku, Daren. Daren kenalkan dia mantan pacarku dulu." kedua pria itu saling berjabat tangan dengan senyum tipis mereka.
"Dan ini adalah kekasihku, Aileen. Aileen beri salam." perintah Aldo seperti memerintah anak kecil.
Aileen menurut dan menyalami kedua pasangan suami istri tersebut.
"Wah ternyata kau sudah memiliki kekasih? kenapa tidak bilang?" Aldo berdecak malas mendengar penuturan mantannya itu.
"Aku menikah dengannya karena sebuah perjodohan. Kita tidak saling mencintai Aldo. aku masih mencintai mu." ucap Silvia dengan sedih.
"Kau bohong Silvia. kau mengandung anaknya mana mungkin kau tidak mencintainya." hardik Aldo dengan tajam.
"Ah kau ini, kami hanya saling membantu masalah kepuasan ranjang. Anak ini hanya akan menjadi pion agar keluargaku mengira aku bahagia menikah dengannya." aku tercengang mendengar penuturan wanita di depanku ini. Tega sekali dia mengatakan itu kepada calon bayinya dan didepan suaminya sendiri.
Aldo membuang pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba Silvia menarik pipi Aldo dan melabuhkan ciuman di bibir Aldo dengan pelan. Sontak Aldo mendorong bahu Silvia dengan pelan.
"APA YANG KAU LAKUKAN SILVIA? KAU GILA?" bentak Aldo dengan marah.
"SUDAH AKU BILANG AKU MASIH MENCINTAI MU ALDO." bentak Silvia balik juga tak kalah emosinya. mungkin hormon ibu hamil.
"Kau gila, mencium pria lain didepan suamimu sendiri? dimana otakmu itu?"
"Aku tidak perduli." disaat mereka berdua berdebat karena kelakuan gila Silvia yang tiba-tiba mencium Aldo.
aku pun terkejut dan marah kepada ibu hamil itu yang tidak memiliki urat malu. Aku menatap ke arah suami sah Silvia mantan kekasih Aldo.
"Kenapa kau diam saja? apakah kau mencintai wanita itu?" tanyaku dengan lirih seperti sebuah bisikan.
Daren hanya terdiam memandangi wajahku. Disini ku lihat Daren seperti mayat hidup, kulitnya yang sangat putih dan mulus dan tatapan matanya yang seperti tidak memiliki gairah hidup membuatnya terlihat seperti Mannequin.
Aku menarik kedua pipinya dengan pelan lalu, "Mau membalasnya bersamaku?" Daren tampak menganggukan kepalanya dengan samar, aku tersenyum kecil lalu menempelkan bibirku tepat diatas bibirnya.
awalnya hanya menempel lalu ku beranikan diri ******* bibirnya yang disambut hangat olehnya. Ini pertama kalinya aku berciuman dengan lelaki asing bahkan yang tidak ku kenali sama sekali. Hanya Aldo yang aku cium dibibir nya. Hanya dia lelaki satu-satunya namun karena aku terbakar api cemburu aku jadi mencium bibir lelaki lain tepat didepan matanya. begitulah caraku membalas dendam atau melampiaskan amarahku.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" bentak Aldo terkejut saat melihat kekasihnya sedang saling ******* bibir satu sama lain dengan suami kekasih mantannya itu.
Aku melepaskan tautan bibir kami lalu tersenyum manis kepada Daren, "Membalas kelakuan kalian berdua tentunya."
jawabku dengan senyum lebar seperti tidak berbuat kesalahan. Aldo mengeram marah mendengar jawaban simpel kekasihnya itu.
"kenapa kau lakukan ini Aileen?" tanyanya dengan sura tegas.
"Karena kau melakukannya dengan mantanmu. Kak Rimba selalu mengatakan padaku, balas dia seperti dia melukai mu. Karena aku cemburu kau mencium wanita lain jadi aku membalasnya dengan mencium lelaki juga. Selesai." aku bertepuk tangan dengan riang.
"Kau murahan sekali, bocah." maki Silvia kepadaku membuat aku menghentikan tepuk tanganku. Aku menatap Silvia dengan remeh.
"Bukankah kau yang murahan Tante. mencium laki orang didepan suaminya sendiri bahkan merendahkan diri suaminya sendiri. Lagian kami berciuman atas dasar mau sama mau tidak seperti Tante yang asal sosor seperti bebek saja." ejek ku kepadanya.
ku lihat Silvia mengeram marah, "Cukup Aileen. Ayo pergi." dengan kasar Aldo menarik tanganku, aku mengerutkan keningku binggung dengan perlakuannya itu.
aku menengok ke belakang dan melambaikan tangan kepada Daren, "Daren bibirmu rasanya manis, aku suka. lain kali kita lakukan lagi saat bertemu ya?" teriakku kepada Daren yang terlihat tersenyum simpul.
sedangkan Silvia semakin mengeram marah, ia menatap tajam wajah Daren namun Daren hanya menatapnya dengan datar.
Aldo semakin menarik tanganku agar semakin mendekat ke arahnya, "Aduh sayang belanjaan ku kau tinggal?"
"Persetaan dengan belanjaan mu Aileen." teriak Aldo dengan marah, padahal kita sudah menjadi pusat perhatian. Namun aku hanya acuh saja.
Aldo memasukkan ku ke dalam mobil lalu menjalankannya dengan tak sabaran.
"Sayang pelan-pelan saja aku tidak akan kabur." ucapku dengan lembut.
"Diam Aileen." bentak Aldo membuat aku memajukan bibirku sebal.
hingga akhirnya aku diam tidak mengganggunya mengemudikan mobilnya. Dirasa sedari tadi hanya muter-muter tidak jelas, aku berbicara kembali dengan megodanya membelai dada dan lengannya yang tertutupi kemeja hitamnya.
"Sayang apakah kita akan ke hotel?" ucapku dengan menggoda, dia menepis tanganku kasar.
"Au...kau kasar sekali. Tapi aku suka yang kasar." ucapku sambil terkekeh.
"Wah aku tak sabar menuju hotel." ucapku dengan gembira.
benar saja, Aldo benar-benar membawaku ke hotel yang kita temui di jalan. aku keluar hotel dan mengikuti langkahnya yang lebar dengan sedikit berlari.
Setelah selesai boking salah satu kamar, aku mengikuti langkah lebar Aldo. Aldo membuka salah satu kamar hotel. aku masuk dan menutup pintunya.
"Kita akan melakukannya disini? sekarang?" ucapku dengan antusias.
"argh....apa yang kau katakan sedari tadi Aileen?" teriak Aldo dengan. frustasi bahkan sampai menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia frustasi dengan kekasihnya itu yang seenak jidat mencium lelaki lain selain dirinya, padahal dia tau yang mencium itu Silvia bukan dirinya tapi kenapa dia yang dibuat emosi dengan kecemburuan Aileen yang membalasnya langsung tepat didepannya.
ajaran Rimba memang tidak pernah main-main.
"Ah sayang aku tau kau juga sudah tidak sabar kan? aku juga sama. sebentar ku lepaskan dulu." pikiran Aldo semakin dongkol dibuatnya dengan tingkah aneh Aileen.
Ia melototkan matanya saat melihat Aileen melempar kedua sepatunya dan membuka kancing kemejanya dengan tak sabaran.
Seketika ia menengguk ludahnya kasar melihat aktivitas Aileen yang membuatnya panas.