
Didalam ruangan penghukuman. Justine meringkuk dipojok dengan menutup telinganya. Dia ketakutan saat ini, Alter egonya tiba-tiba muncul karena ia frustasi sendirian di ruangan hampa seperti ini tanpa yang menggoda dirinya untuk melakukan kejahatan.
Matanya terpejam erat. Saat ia mendengar suara pintu yang terbuka, mata merahnya langsung menatap ke arah pintu.
...***...
Malam harinya aku mau melihat Justine terlebih dahulu sebelum tidur. Aku melangkah ke arah ruangan hukuman yang dibuat oleh ayah.
Dulu saat aku melakukan kesalahan Ayah akan memasukkan ku kedalam sana. Memang itu hanya ruangan namun entah kenapa saat masuk kedalam sana aku merasa sangat ketakutan.
Tidak ada benda-benda seperti Tv, bingkai, Kain dan samacam nya. Hanya ada ruangan yang benar-benar kosong tanpa perabotan.
Apalagi disaat malam hari Ayah selalu mematikan lampu membuat aku semakin ketakutan dibuatnya.
Hanya ada satu lampu yang menyala. Tidak ada jendela ataupun ventilasi udara semuanya full dengan tembok putih.
Ku buka dengan pelan pintu besi ini. Berat memang harus didorong dengan kuat baru akan terbuka.
Kuncinya pun mengunakan sandi. Saat aku membuka pintu Justine langsung berlari keluar seperti sedang dikejar-kejar.
Aku menghembuskan nafasku kasar melihat kelakuan Justine barusan, "Hah...dia kambuh sepertinya."
Aku melangkah mengikuti kemana Justine pergi. Ku lihat dari atas, Justine kebingungan mencari jalan keluar.
Tentu saja dia kebingungan karena semua pintu dan jendela aku kunci semuanya. Justine berlari kesana-kemari kebingungan.
Aku turun mengikuti kemana Justine mau pergi. Ternyata dia ke arah dapur. Saat aku tiba, dia langsung menyerang ku.
Memukulku dengan kuat, membuat tubuhku oleng kesamping.
"Buka pintunya, Brengsek." kerah bajuku tertarik dengan kuat oleh Justine. Ia menarik tubuhku semakin dekat dengan dia.
"Mau keluar dengan keadaan seperti ini Justine? kau bisa membantai satu kompleks jika begini." ucap ku dengan sinis.
Justine hendak memukul ku lagi namun aku berhasil mengunci pergerakan tangannya ke belakang. Ku dorong tubuhnya hingga terbaring di meja makan.
Justine bergerak gesit, dia melepaskan kucian ku lalu mendorong ku hingga membentur dinding. Aku menangkis pukulannya untuk kesekian kali.
kami berkelahi tak kenal siapa kita. Aku yang mencoba mengembalikan kewarasan Justine sedangkan Justine yang mencoba lepas dariku.
ku kepalkan tangan ku dan memukul kepalanya dengan kuat 3 kali. Terlihat Justine mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menatap ku dengan tatapan satunya.
lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Sontak aku memejamkan mataku, lelah. Aku menghembuskan nafasku dengan pelan.
Ku dorong bahu Justine hingga Justine telentang di lantai. aku mengatur nafasku yang mulai ngos-ngosan.
Aku memejamkan mataku, tertidur.
...***...
Sam dan Nathan berjalan memasuki rumah Aileen yang tidak terkunci.
"Kemana mereka kok sepi?" tanya Nathan kepada ayahnya.
"Entahlah. Padahal dia sendiri yang menyuruh kita kesini."
Sam duduk di sofa sedangkan Nathan berjalan kesana-kemari mencari adiknya. Saat memasuki dapur ia berdecak kagum, tampaklah dapur yang sangat berantakan.
"Wah kalian habis berkelahi ternyata?" Nathan jongkok di depan Justine, mengecek nadinya takutnya mati kan.
"AYAH, LIHATLAH KEMARI." teriak Nathan dari dalam dapur.
Sam sontak bangkit dari duduknya, berjalan ke arah sumber suara dimana putranya itu berteriak.
Baru saja memasuki dapur, ia sudah melihat sang putra mengendong Justine.
"Mereka berkelahi. Ayah urus putri kesayangan ayah saja ya." Sam hanya menggedikan bahunya acuh, Nathan melewatinya begitu saja dengan membawa Justine.
Sam menyenggol kaki Aileen, "Heh bangun." tak perlu repot-repot membangunkan Aileen, nyatanya Aileen sudah bangun sendiri dengan hanya kakinya di tendang.
"Apa Om?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kau menyuruh Om kesini tapi kau malah enak-enakan tidur." Aileen masih mencoba membuka matanya agar terbiasa dengan cahaya lampu yang terang.
ia menatap Om Sam dengan binggung, "Lah, iya yah."
"Sebentar paman, aku cuci muka dulu."