
Aku masuk bersama dengan Alya, aku terkejut saat mendapati Justine yang duduk dengan tegang di tengah-tengah keluarga besar Arthur.
"YA....APA KALIAN LAKUKAN KEPADA JUSTINE?" teriakku sambil berlari dan langsung melindungi Justine dari tatapan tajam mereka semua.
"Lalu, apa yang kau lakukan pada anak itu, Aileen?" tanya Kakek Aston. Aku meneguk ludahku susah payah. mau menjawab apa kali ini? ini Kakek, orang yang paling berkuasa di kediaman Arthur, ucapannya tidak akan bisa di bantah oleh siapapun termasuk Nenek Halma sekalipun.
"Dia adikku, apa salahnya aku tinggal dengannya?" jawabku dengan gugup, aku bahkan tidak berani memandang Kakek, aku menatap Paman Sam meminta pertolongan namun Paman Sam menggelengkan kepalanya samar.
aku menatap paman-paman ku yang duduk namun mereka hanya diam dengan menatapku dengan tajam.
"Kau lupa? orang tuanya menikah dengan cara yang tidak sah. kehadirannya hanya membawa sial bagi keluarga di tambah dia memiliki darah yang mengalir dari darah Cassano. sungguh aku membenci ibunya yang memiliki darah Cassano hingga merusak keturunan keluarga Arthur." ucap tajam Aston dengan menatap marah ke arah cucunya yang terlihat melindungi anak haram itu.
"Kakek...Justine tidak-" baru saja Arka akan berbicara, Kakeknya sudah membentaknya membuat ia memeluk erat neneknya yang sedang memangku nya.
"ARKA DIAM." bentak Aston kepada cucunya yang manja itu.
"Ayah, aku sudah memberikan pilihan kepadanya. Jika dia mau tinggal disini maka dia harus membunuh keluarga Cassano terlebih dahulu baru dia akan menyandang nama Arthur." jelas Sam kepada ayahnya yang sudah sangat marah. bisa-bisa jika ini tidak di hentikan akan terjadi pertumpahan darah.
"Lagian Justine sendiri yang mengatakan akan membunuh keluarga Cassano." timpal Rimba yang menatap kukunya dengan kaki yang terangkat satu di atas sofa.
"Ah iya. benar kan Justine kau yang akan membunuhnya?" aku ikut berbicara dan menatap Justine serta mengkode dirinya agar mengatakan 'iya' dihadapan kakek.
"Iya." jawab Justine dengan lirih.
"Heh...tak ku sangka ternyata anak dari Tom begitu mendambakan nama Arthur di belakangnya. baguslah kalau kau tahu Arthur selalu lebih unggul dari Cassano." ucap bangga Aston dengan menampakkan wajah arogan.
"Kak Rimba akan membantuku membunuh Cassano nanti malam." aku menatap terkejut ke arah Justine. bukannya ini hanya main-main yah agar Kakek tidak marah lagi? ah mungkin memang seperti ini alur ceritanya.
"Iya-iya Justine, udah Yah Kek aku mau bawa Justine ke dapur." aku menyeret Justine pergi dari gelombang gelap di sana. aku biarkan Arka bersama dengan nenek mungkin Arka rindu dengan kakek dan neneknya.
aku mendudukkan Justine di kursi, "Justine mulai saat ini kau harus terus berada di sampingku jangan pergi dengan orang lain selain aku, Paham?" ucapku dengan tegas.
Justine mengangguk, aku menghembuskan nafas kasar lalu berbalik badan mengambil kue kering, coklat dan susu. Mengambil Blender dan mulai membuat pasta coklat.
tanpa Aileen sadari Justine yang berada di belakang mengambil pisau dapur. Justine memperhatikan bagaimana tajamnya pisau itu. memegangnya dengan lembut dengan tatapan kosong.
lalu beralih menatap Aileen yang sibuk menghaluskan kue kering. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengembalikan pisau itu ke tempat asalnya.
"Nah Justine tolong kau potong apel dan jambu ya. Begini caranya." aku memperlihatkan cara memotong menjadi 8 bagian. Justine mengangguk paham, lalu aku dan Justine memotong apel dan jambu bersama.
Aileen tersenyum melihat Justine yang menurut kepadanya, Aileen menyuapi adiknya itu jambu dengan pasta coklat lalu menghapus noda coklat di bibir adiknya itu.
"Jangan di pikirin ucapan kakek ya, kakek emang orangnya gitu. pokoknya Justine rajin belajar aja masalah ini biar Mamah ya urus. Oke?" Justine hanya mengangguk patuh.
"Mamah janji bakal ubah nama kamu jadi Arthur. Jangan gunakan tangan kamu buat hal kejam cukup Mamah aja, kamu jangan." Aileen menyentuh pergelangan tangan Justine.
Justine menatap sendu tangannya yang di sentuh Aileen, ia menatap Aileen dengan pandangan sedih.
"Iya, Mah."
❣️❣️❣️
"Kau sudah siap?" tanya Rimba kepada Justine yang masih terlihat tegang.
"Ya, aku siap." saat ini mereka telah berada di kediaman Cassano. Disini hanya ada 5 anggota keluarga. Sepasang suami istri yang sudah berumur, dan dua pasangan suami istri yang memiliki anak seusia dengan Justine.
Rimba membuka gerbang untuk Justine di bantu oleh Charles yang meminta ikut dengan Rimba.
"Ayo, gunakan insting monster mu itu, gelapkan matamu saat melakukannya." Justine mengangguk dan berjalan dengan pelan, lalu Justine mengambil pisau dapur yang tadi ia ambil di dapur.
Rimba dan Charles hanya tersenyum miring melihat bagaimana Justine lebih cepat tanggap dari yang mereka pikirkan.
❣️❣️❣️
"Alex kau lihat Justine?" tanyaku kepada Alex yang duduk di ruang tamu.
"Tidak, kemana dia?"
"Itu dia. sedari tadi aku tidak melihatnya. Rimba dan Charles pun tak ada. Bantu aku mencarinya." pintaku kepada Alex yang tampaknya tengah santai. besok adalah hari dimana Alex dan Lisa akan mengucapkan janji tapi Justine malah hilang.
"Lisa kau sedang hamil dan besok adalah hari besar mu, ini sudah malam lebih baik kau tidur saja ya." pintu dengan memegang bahu Lisa.
Setelah itu aku berlari ke luar rumah, mencari Justine berada. Aku sudah meminta bantuan beberapa body guard kakek untuk mencari Justine.
Sudah 2 jam aku mencari Justine dan tak kunjung ketemu. Alex bahkan sudah kelelahan dan menyerah mencari Justine. Pengawal pun sudah mencari sampai di pesisir pantai.
Aku, Alex dan Mona duduk di teras rumah dengan keringat yang bercucuran.
"Kemana Justine, enggak mungkin dia pergi kan?" tanya Mona yang sudah membaringkan tubuhnya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Aku juga enggak tahu." terdengar bunyi telfon, aku membuka ponselku dan ternyata Charles yang menelfon.
aku mengangkatnya dan langsung menanyainya, "Yak...kemana saja kau? apa bersama jus-"
"*Ya...datang lah ke kediaman Cassano. Justine tidak terkendali."
"Dia menggila. Rimba tak bisa mengendalikannya."
"Cepat ke sini Leen sebelum Justine benar-benar hilang kesadarannya. RIMBA*...." Panggilan berakhir begitu saja dari Charlos.
aku langsung berdiri, "Justine sepertinya mengalami sesuatu di Rumah Cassano."
kami bertiga berlari menuju mobil. Aku menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Diriku cemas sekali dengan Justine. apa yang Justine lakukan?.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Alex yang duduk di sebelahku.
"Aku tidak tahu. mendengar nada khawatir dari Charlos membuat aku jadi tidak ingat. sepertinya terjadi sesuatu dengan Justine."
"Kita harus cepat Leen. sebelum semuanya berakhir." aku mengangguk lalu semakin menambah kecepatan lajuku.
❣️❣️❣️
"Sialan..." Rimba memaki karena tak berhasil mengendalikan Justine yang menggila.
Justine tertawa dengan keras ketika menyiksa pamannya yang sudah tak berdaya itu. Justine terus saja mencabik-cabik pamannya itu dengan pisau.
"Mati kau...mati....sebentar lagi Arthur akan menjadi margaku....ahahahaha....." Justine tertawa keras.
"JUSTINE HENTIKAN DIA SUDAH MATI." bentak Charlos yang tak di dengarkan oleh Justine.
sedangkan sepupu Justine masih hidup namun sudah tak berdaya lagi. Rumah sangat berantakan di buatnya, banyak darah yang berceceran dimana-mana.
Justine bangun dan beralih kepada sepupunya yang sudah sekarat itu. Justine menyayat pipi sepupunya dengan pelan.
Rimba yang tergeletak karena dorongan kuat dari Justine tadi hanya tersenyum bangga dengan apa yang telah ia buat kepada Justine. ia bangga dengan perkembangan Justine yang sangat cepat.
Justine melayangkan pisau itu tepat di jantung sepupunya itu, membuat sepupunya menjerit kesakitan, "Ugh..." lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
"JUSTINE."
❣️❣️❣️
Aileen berlari memasuki rumah Cassano, disana ia melihat bagaimana kejamnya Justine menancapkan pisau itu tepat di jantung pemuda seumuran Justine.
"JUSTINE." teriakku, Justine menengok ke arahku dengan senyum mengerikan. aku berlari dan menerjang tubuh Justine hingga Justine menjauh dari mayat itu.
"Tidak Justine....tidak..." aku memeluk Justine dengan erat serta bergumam tidak di telinga Justine.
❣️❣️❣️
Aku merasakan pelukan yang akhir-akhir ini membuatnya nyaman. Kesadarannya pulih dan dia sudah berubah menjadi Justine yang sebenarnya bukan monster lagi.
Ia melihat tangannya yang berlumuran darah itu dan tubuhnya bergetar melihatnya. Ia menangis ketakutan.
"Hiks....ha...ha...hiks....apa....ini?" Justine menangis meraung ketakutan. Aileen mencoba menenangkan Justine yang berteriak histeris.
"Tidak mungkin aku, Mah." Justine menyangkal bahwa dia yang membunuh keluarganya sendiri.
"Iya bukan Justine." Aileen tetap menengakan Justine. Aileen mendekap Justine dengan erat sedangkan Justine memejamkan matanya kuat-kuat.