The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 7 F



"Pagi Pak Carlos." sapa ku saat melihat Pak Carlos baru datang.


"Pagi." sapa ya balik, aku mengikuti Pak Carlos dari belakang. saat dia duduk aku juga ikut duduk di depannya.


"Aku tadi malam makan malam dengan keluarga Pak Aldo." mata Carlos langsung membulat.


"Kau serius? kenapa tidak mengajakku?" tanya dengan kesal Carlos kepada adik angkatnya itu.


"Ah, semalam aku lupa dengan mu Kak. kau tau kedua adikku selalu saja bertengkar membuat aku terkadang lupa." curhat ku kepada Kak Carlos.


"oh..maksudmu Justine?"


"Iya."


"Kenapa bisa Justine bersamamu?"


"Marganya sudah berubah menjadi Arthur. Dia sudah diterima oleh keluarga besar Arthur."


"syukurlah, aku harap kau selalu ikhlas menerima masa lalu mu." aku mengangguk mendengar ucapan Kak Carlos.


"Aku selalu ikhlas menerimanya. namun ada kalanya aku merasa lelah dengan situasi yang aku jalani setiap hari."


Carlos tersenyum dan menatap teduh adiknya itu. ia berdiri dari duduknya dan berjongkok didepan adiknya sembari mengengam tangan sang adik.


"Percayalah, kau adalah salah satu wanita beruntung di dunia ini. jika kau merasa lelah atau sedih datang lah kepadaku, jangan di pendam sendirian."


Carlos memeluk adiknya dengan sayang.


"Terima kasih Kak."


❣️❣️❣️


Nathan bersama dengan Ara. Ia mengelus perut besar istrinya.


"Sebentar lagi melahirkan kan, sayang?"


"Iya kata dokter sekitar 2 Minggu lagi, itu bisa maju atau mundur."


"Nanti kalau aku lahiran, kamu temenin aku ya didalam." Nathan langsung menegang. ia menyembunyikan wajahnya di bawah perut istrinya.


"Apakah harus?" tanyanya dengan pelan.


Ara mengelus rambut suaminya dengan pelan. ia terkekeh melihat suaminya yang menyembunyikan wajahnya di bawah perutnya. ia tengah duduk sementara suaminya berbaring di pahanya.


"Apa kau tidak mau?"


"Tak apa, semuanya akan baik-baik saja." uca? Ara dengan lembut.


"KAKAK...." pintu kamar Nathan terbuka dan menampakkan Arka yang masuk dengan berderai air mata. Nathan bangun dan melihat Arka yang berlari dan naik ke atas lalu langsung memeluk istirnya dengan erat.


"Ada apa Arka?" tanya Ara mencoba menenangkan Arka yang menangis dengan kencang.


"Arka kenapa? apa yang terjadi?" tanya Nathan dengan panik.


Arka melepaskan pelukannya pada Kak Ara. lalu ia menunjukkan lututnya yang berdarah.


"Aku jatuh saat main tadi, Hua....sakit sekali....Kakak...." Arka kembali menangis dengan kencang. Lalu kembali memeluk Ara dengan kencang.


"Tunggu sini biar Kakak ambilkan obat untuk lukamu itu." Nathan berdiri dan keluar dari kamarnya untuk mengambil obat luka untuk Arka.


sedangkan di dalam kamar Arka sudah terlihat tenang, "Kakak apa aku menyakiti Adek bayinya?" tanya Arka dengan polos tanpa melepaskan pelukannya pada Kakak iparnya itu.


"Tidak Arka. Tunggu sebentar lagi ya, kak Nathan pasti mengobati lukamu." Arka menganggukan kepalanya. sampai akhirnya terjadilah keributan didalam kamar Nathan.


teriakan kesakitan Arka memecah keheningan di rumah mewah ini. Arka menjambak rambut Nathan dengan kuat dengan berteriak kesakitan.


Nathan yang sedang mengobati Luka Arka jadi tak fokus karena ia juga kesakitan karena jambakkan maut Arka kepadanya.


Ara yang berada disana mencoba melepaskan tangan Arka yang menjambak rambut suaminya. ia menutup mata Arka dan mendekap tubuh adiknya itu agar sang adik tidak melihat lukanya di obati.


❣️❣️❣️


"Kerja bagus. Minggu depan kita latihan lagi." Justine mengangguk dan membereskan alat panahnya yang berserakan di lantai.


"Kau harus bisa seperti Ayahmu. Arka tentu tidak bisa menjadi seperti Ayah mu itu. Jadi kesempatan besar ada pada dirimu dan Kakakmu itu. Karena darah Paman Tom mengalir pada diri kalian berdua."


"Iya Kak, aku akan bekerja keras agar bisa menjadi seperti Ayah."


"Aileen sangat hebat dalam berkelahi. Coba kau berlatih kepadanya karena dulu aku juga yang melatih dirinya."


"Kakak juga bisa berkelahi?" tanya Justine dengan sedikit terkejut.


"Hah...kau baru tahu?" tanya Rimba, Justine menganggukkan kepalanya.


"Dia bisa membuat musuh bertekuk lutut dihadapannya tanpa menodongkan senjata." Justine terdiam, Kakaknya benar-benar hebat sekali.


benar kata Kak Rimba. ia harus berlatih bersama dengan Kakak perempuannya itu.