The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 2A {Crazy Woman}



Sudah hampir tiga tahun aku bekerja dengan Kak Carlos. Memang sedikit butuh ketenangan batin bekerja dengan dia.


Carlos yang sangat keras kepala dan sulit dikendalikan, membuat ia terkadang menjadi ibu-ibu hanya untuk menasehati putranya.


"Jadwal hari ini ada pertemuan dengan petinggi perusahaan lainya, mereka akan memperlihatkan badan mobil terbaru tahun ini." Kami berdua melangkah dengan cepat. Ku serahkan tablet berisi tentang dokumen-dokumen yang akan dipresentasikan saat rapat nanti.


"Baiklah." Kami masuk ke dalam lift. Sebelum masuk kedalam ruangan rapat, aku membenarkan dasi dan tatanan rambut pak Carlos. Setelah semuanya rapi kami berdua pun segera masuk dan duduk.


Menunggu sang CEO datang nyatanya membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku baru akan bertemu dengan sang pemilik perusahaan mobil ini, sungguh bagaimana rupanya?.


"Apakah bos kita galak, pak?" Tanyaku dengan berbisik kepada pak Carlos.


"Dia seperti malaikat pencabut nyawa, kejam, sadis, dingin, irit bicara dan tampan. Jangan lupa, dia seorang hot Daddy dengan dua anak kembarnya." Aku membulatkan mulutku, aku baru tau semua ini karena terlalu fokus pada pekerjaan aku sampai tidak sempat mengetahui apa latar belakang CEO perusahaan ini.


"Dan ingat, jangan pernah kau mencari masalah kepadanya, ingat itu. Atau kau akan terkena imbasnya." Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya.


Bos besar datang dengan gerombolan dari team devisi-devisi lainya. Kami semua berdiri dan menunduk hormat. Setelah itu kami langsung memulai rapat ini.


Sedikit ada perdebatan alot dari beberapa team namun akhirnya kami bisa menemukan jalan keluarnya dan mendapatkan desain yang bagus.


"Kita akan adakan sidak ke forum-forum anak perusahaan hari ini." Ucap sang CEO, yang langsung dijawab"Baik" oleh semua anggota rapat.


Beberapa karyawan forum mendapatkan amukan dari bos besar alasanya karena forum ini terlalu kecil dan tidak dapat berkembang serta keramahan, kebersihan yang kurang diperhatikan.


Setelah acara marah-marah bos besar kami tinggal di restoran untuk istirahat lalu setelah itu kembali lagi ke kantor.


Saat sedang makan enak-enaknya tiba-tiba ada seekor kucing yang menaiki meja kami membuat bos besar seketika akan melempar kucing itu.


"TUNGGU." teriakku membuat semua orang menatapku, aku dengan hati-hati mengambil kucing itu dari hadapan bos besar. Aku mengambil kucing itu lalu mengambil daging ayam milikku dan membawa keluar.


Setelah keluar aku memberikan kucing itu ayam milikku, ku temani kucing itu makan sampai selesai.


"Menjauh lah dari situ, nanti kau mandul." Aku terkejut mendengar penuturannya.


"Tidak begitu Pak, kucing tidak menimbulkan mandul atau tidaknya. Semua sudah Tuhan yang mengatur. Kucing ini hanya ingin makan, tidak seharusnya bapak melepasnya seperti tadi, ia juga mahkluk hidup yang butuh makan dan minum. Namun manusia tidak mempunyai rasa belas kasihan, mereka melempar, menendang, menyiramnya dengan air membuat kucing menjadi liar. Kenapa manusia tidak mau berbagi dengan hewan? Hewan saja mau berbagi dengan manusia, ia mengorbankan tubuhnya untuk dikonsumsi oleh manusia sebagai makanan, manusia itu mahluk yang serakah dan egois. Aku-akui itu."


Aldo hanya mematung saat wanita didepannya itu berani berbicara panja  lebar kepadanya dan terdengar sedikit menceramahi nya gara-gara hanya seekor kucing.


Tak sadar aku malah menceramahi bos besar, bodohnya aku.


Aku menunduk.


"Maafkan saya pak, karena telah lancang." Ucapku dengan menunduk didepannya.


"HM...tak masalah ini juga salahku. Ayo masuk, kita akan pulang." Aku mengangguk dan mengikutinya dibelakang. Setelah semua berakhir Pak Carlos mencubit ku, "Sudah kubilang jangan cari masalah."


"Maaf, aku kelepasan tadi. Bisakah aku selamat?" Tanyaku dengan takut-takut.


"Entahlah, semoga saja dia tidak terbawa perasaan oleh perilaku mu."


                                ***


"Mamah pulang?" Teriakku seketika Arka langsung berlari ke arahku dan loncat kegendongan ku seperti kola.


Aku tertawa, manis sekali.


"Mamah lama..."


"Iya tadi Mamah habis beli kue untuk Arka. Dimakan ya?" Ku bawa Arka yang masih dalam gendonganku ke Maja makan. Ku dudukkan dia di kursi lalu ku buka kue yang aku beli tadi.


Kami sangat suka dengan makanan manis, namun tidak dengan jagung, kami benci itu.


Ku potongkan kue itu dan ku berikan kue itu kepada Arka. Aku membeli kue yang topingnya Oreo.


"Enak Mamah." Aku mengangguk dan mengabiskan kue ku lalu aku masukan kedalam kulkas sisanya. Ku tatap isi kulkas ku. Persediaan makanan sudah habis, lalu ku buka lemari makanan dan sudah habis juga, terpaksa aku harus berbelanja malam ini.


"Arka, nanti ikut mamah belanja atau tidak?" Teriakku yang masih berada di dapur sedangkan Arka sudah berada di depan tv.


"MAU..." Teriak balik Arka.


Aku dan Arka sudah berada di dalam mall, Arka terlihat senang. Ia berlarian kesana-sini mengambil apa yang ia mau.


"Loh, pak Aldo?" Sapa ku.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Aldo yang melihat bawahannya berada di mall ini juga.


"Tentu saya belanja pak, memangnya apa lagi?"


"Saya juga belanja bulanan." Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Rasa canggung menyelimuti mereka berdua.


"Bapa mau belanja bersama saya?"


"Boleh."


Aldo mengamati wajah Aileen, cantik. Sifat penyayang ya kepada hewan juga membuat ia kagum.


"Apa reaksi mu jika  ada seorang wanita yang tega meninggalkan anak dan suaminya untuk pria lain?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dadi dalam mulut Aldo.


"Wah,wanita itu sungguh membuat nama baik seluruh wanita rusak. Tapi mungkin wanita itu tidak bahagia dalam pernikahannya dan menemukan kebahagiaan dari pria lain. Aku tidak akan menyalahkan keseluruhan kepada wanita itu karena pasti ada alasan di baliknya. Kenapa bapak bertanya seperti itu?"


Aku tersenyum mendengar jawabannya, "Bagaimana jika wanita itu matre?"


"Jujur saja Pak. Wanita itu memang harus matre sebenarnya, namun matre bukan meminta ini itu dan memeras pihak pria, aku juga matre. Namun terkadang wanita matre itu salah dengan membuang-buang uang milik pria, aku memang matre namun matre ku berbeda. Aku ingin pria yang bisa membuatku bahagia, karena orang tuaku menyekolahkan ku tinggi-tinggi tujuannya agar aku menjadi sukses bukan ikut susah ketika menikah nanti."


"Seharusnya pria itu bisa bekerja keras agar bisa menafkahi keluarganya, walaupun aku juga matre menginginkan pria yang sudah mapan tapi jika ada pria yang mau serius denganku namun dia masih dibawah aku mau menerima dia dari nol, tapi jika dia mau berusaha bersama." Ku ambil lima kotak susu coklat, lalu ku masukan kedalam keranjang. Mendengar pertanyaan pak Aldo sepertinya ia sedang mendapat masalah dengan perempuan.


"Lalu jika dia menikah dengan wanita lain?" Aku berbalik dan menatap pak Aldo.


"Aku hanya bisa ikhlas, mungkin dia bukan jodohku, ya walaupun saat dia susah bersamaku dan bahagia dengan wanita lain. Tapi, aku yakin Tuhan memberikan aku  yang lebih baik dari sebelumnya."


Aldo tersenyum mendengar jawabannya, sepanjang belanja mereka saling bertanya mengenai hubungan. Walaupun terkadang Aldo menanyai pertanyaan yang masuk akal.


"Menurut bapa cewek matre itu seperti apa?"


"Sangat manja, dia tidak bisa berusaha. Kalian pikir cari uang itu mudah?"


"Prianya aja yang kere. Cowo kalo ceweknya minta sesuatu tidak dituruti itu antara cowok itu kere atau tidak mampu."


"Kamu ngatain saya kere?" Ku tatap dia dengan tajam, sedangkan wanita itu hanya senyum-senyum sendiri.


"Tidak, inikan dari kaca mata saya pak. Kok bapa sensi sih? Udah kaya merek masker aja." Collet ku dengan melirik jahil kearahnya.


"Enggak."


"Tuh kan bapa ngambek, jangan ngambek dong nanti gantengnya ilang loh." 


"Biarin."


"Coba sini?" Tiba-tiba tangannya menyentuh pipiku membuat tubuhku menegang kaku, jarak wajah kami sangat dekat.


"Jangan ngambek lagi dong, nanti kalo ketampanan bapa hilang saya jadi engak naksir bapa lagi deh." Setelah mengatakan itu ia melepaskan tangannya dari wajahku. Aku masih tertegun.


"Ayo pak."


Memang banyak wanita yang menyukaiku tapi aku selalu menolaknya dengan kasar, bahkan jika ada yang menyentuhku pun akan aku bunuh wanita itu, karena sudah muak dengan setiap wanita yang hanya menginginkan uang saja.


Namun, kenapa saat ia menyentuh wajahku. Hatiku menghangat, sangat terasa nyaman. Ada apa ini?.


"Pak?" Ku lambaikan tanganku didepan wajah pak Aldo. Karena pak Aldo melamun.


"Eh...iya." sadar pak Aldo langsung menatapku seolah bertanya ada apa?.


"Bapa sehat? Ayo ke dokter kalo  bapa sakit."


"Tidak usah, mendingan kamu pulang dulu, saya mau ketemu seseorang setelah ini."


"Ya sudah, bapak hati-hati dijalan ya...dadah...." Ku tatap tubuhnya yang melambaikan tangan kepadaku.


Tatapanku sungguh tidak bisa diartikan. Aku bahkan binggung ada apa denganku.


"Perasaan apa ini?".