
Beberapa hari setelah kejadian dimana antara Ayah, Mamah dan Tante Bella berderai air mata dan mulai mau menerima apa adanya. Mereka sudah semakin membaik satu sama lain.
Seperti saat ini Arka dan Justine sedang bersekolah, Bella dan Sarah berada di dapur mereka bilang ingin membuat kue dan puding untuk anak-anak mereka.
Tom benar-benar sangat menyayangi putri satu-satunya itu. Baginya Aileen adalah belahan jiwanya.
pagi ini Tom berada di Pekarangan rumahnya dan duduk di kursi sambil memangku putrinya berjemur. Tom tak henti-hentinya mengelus rambut putrinya dengan sayang. Aileen hanya diam mendapati perlakuan ayahnya itu.
"Sayang?" Aileen mendongakkan kepalanya saat sang ayah memangil namanya.
"Jangan seperti ini lagi ya?" aku menatap raut muka ayah yang terlihat sedih.
"Ayah takut kehilangan kamu, ayah sangat sayang kepada Aileen. Aileen jangan buat ayah khawatir lagi ya?"
"Maaf." ucapku dengan pelan.
"Ayah, Aileen sayang ayah." Tom tersenyum lalu dia memeluk putrinya dengan lembut. Aileen menikmati dekapan hangat sang Ayah yang terasa nyaman ini.
ia sangat-sangat menyayangi ayahnya, seburuk apapun ayahnya dia tetaplah ayahnya. Ia tidak boleh egois kata kak Rimba, kebahagiaan bukan hanya miliknya namun ayah juga butuh bahagia.
"Paman?" Tom menoleh dan menemukan Alex yang berlari ke arahnya.
"Dengan siapa kau kesini?"
"Dengan Ayah dan Mamah. oh ya paman di cariin ayah tuh."
"Oh ya? sebentar." Tom berdiri dari duduknya dengan mengendong Aileen. Saat ia hendak pergi Alex menghalanginya.
"Paman, biarkan Aileen bersamaku biarkan aku yang mengendong Aileen." Tom tersenyum, ia mencium pipi putrinya dengan lembut lalu menyerahkan putrinya kepada Alex, keponakannya.
"Jaga putri paman ya?"
"Siap paman." lalu Tom pergi menghampiri kakaknya yang tiba-tiba datang beserta kakak ipar. Jika mereka berdua datang sudah dipastikan Baik Rimba, Nathan dan Alex pasti akan ikut.
"Mau kemana cantik?" tanya Alex sambil mengendong Aileen yang bersandar di bahunya.
"Aku mau ke dalam, ingin makan buah tapi suapi aku ya?"
"Baiklah Cantik, aku akan kupaskan buahnya terlebih dahulu." Alex melangkah memasuki rumah Aileen dengan mengendong Aileen didepan dadanya.
Ia mendudukkan Aileen disamping Rimba yang sedang menonton televisi, "Tunggu dulu, aku akan mengambil buahnya dahulu."
Aileen hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Alex menghilang dari pandangannya untuk mengambil buah.
Rimba tak menatap adiknya sama sekali. dia fokus menatap televisi didepannya begitupun Aileen yang fokus menatap Rimba.
tiba-tiba saat Aileen mengalihkan pandangannya ke arah televisi tubuhnya terangkat dan duduk dipangkuan Rimba. ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap manik mata tajam milik Rimba.
"Kenapa tidak mencoba melompat ke lantai yang lebih tinggi?" tanya Rimba dengan pelan. Aku mengedipkan mataku beberapa kali.
"Maafkan aku, Kak." aku mendudukkan kepalaku. Setelah itu Rimba tidak berbicara sama sekali. Aku tahu Rimba marah kepadaku, Rimba yang memiliki kelainan mental begitu menjagaku seperti berlian murni.
Ku rasakan tangannya yang besar mengelus bahuku dengan lembut lalu sebelah tangannya menyandarkan kepalaku agar berada di dadanya lalu dia menyandarkan dagunya di atas kepalaku.
"Aileen maaf ya, aku kupas buahnya terlebih dahulu." Alex datang dengan membawa keranjang yang berisikan beberapa jenis buah, piring, garpu dan pisau.
Alex duduk dilantai dia dengan telaten mengupas lalu memotongnya kecil-kecil. setelah selesai dengan pekerjaannya ia duduk disamping kakaknya Rimba.
"Buka mulutmu cantik." Alex menyuapiku dengan sayang, ia juga memasukan potongan buah kedalam mulutnya sendiri.
sampai akhirnya buah telah habis dan Alex bermain game di ponselnya dengan membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
aku masih duduk dipangkuan Kak Rimba, kak Rimba juga masih fokus menonton berita sampai ku rasakan tubuhku terangkat.
"Oh putriku...Om rindu sekali kepadamu." aku tersenyum lembut saat mendapati kecupan manis di pipi kananku.
"Om Sam. Aileen rindu..." ucapku lalu memeluk lehernya dengan erat.
"Paman juga rindu. semenjak Aileen sakit, rumah jadi sepi karena Aileen tidak pernah mengunjungi rumah Om."
"Benarkah? Aileen janji, setelah Aileen sembuh Aileen akan kembali main ke rumah Om." ucapku dengan lantang.
Om Sam membawaku ke arah dapur, ternyata disana ada Nathan yang ikut membantu Tante dan ibunya memasak.
"Lihat apa yang Tante Nathalie bawakan kepadamu?"
"Wah ikat rambutnya keren. Ayo paman pasangkan kepadaku." dengan perasaan senang teramat senang karena mendapatkan hadiah dari Tante Nathalie.
Tom dan Nathalie yang tidak memiliki seorang Putri sudah menganggap Aileen seperti putri mereka sendiri. Mereka beberapa kali mencoba namun yang lahir terus seorang Putra dan saat mendapati adik iparnya Sarah, istri Tom melahirkan seorang Putri mereka berdua sangat bahagia.
Mereka juga ikut andil dalam mengurus Aileen. Mereka akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya mengurus seorang Putri, awalnya mereka terkejut karena berbeda dengan mengurus seorang Putra.
Sam dan Tom bahkan sampai handal memakaikan kuncir rambut untuk Aileen. seperti saat ini dengan telaten Sam menyisir rambut Aileen dengan jari-jari tangannya lalu memasangkan kuncir rambut baru di rambut Aileen.
Dulu dia mendambakan seorang Putri, karena istrinya Yang sudah lelah memiliki anak lagi akhirnya dia mengalah dan lebih mau memanjakan keponakan tersayangnya ini.