The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 3B



"Anna bukannya  gaun ini sangat pendek?" Tanyaku sambil bercermin didepan kaca.


"Tidak, itu pas. Lihat gaunku? Pendek mana sama kamu?" Goda Anna kepadaku dengan tersenyum.


"Hmm...pendek gaun mu, aku merasakan udara yang menyentuh kulitku saat memakai ini." Candaku membuat ia tertawa.


"Hey apakah benar rumor tentang kau dan Pak Aldo?" Anna mendekati temannya itu yang sedang bercermin.


"Rumor yang mana?" Tanyaku seraya memperbaiki kunciran rambutku.


"Yang itu loh, katanya kalian pacaran? Dan anak Pak Aldo memanggilmu Mamah."


"Anaknya memang memanggilku Mamah tapi kami tidak pacaran kok, mana boleh Kakakku mengizinkan aku berpacaran. Bisa ditembak aku nanti."


"Ih.. jangan bercanda dong." Anna mengentak-hentakan kakinya sebal.


"Siapa yang bercanda? Aku serius. Kau tau Kakakku bukan?" Anna menggelengkan kepalanya tidak tahu. Belum pernah ia bertemu dengan Kakak Aileen yang katanya ada tiga walaupun itu sepupu.


"Ri-Rimba Statham Arthur?" Anna terkejut bukan main.


"Kau jangan becanda Leen."


"Aku tidak becanda Anna."


"Kau tidak mungkin adik dari seekor serigala hitam yang lepas dari gerombolannya. aura penyendiri yang menutupi tubuhnya. sosoknya yang terlihat kesepian itu adalah Kakak mu, lebih tepatnya Kakak sepupu mu?" Tanyaku memastikan.


"Jika kau tidak percaya akan aku buktikan kalau Rimba adalah Kakakku, ku buktikan saat di bandara nanti." Ucapku dengan kesal. Ku tatap diriku dipantulkan cermin.


Gaun yang sangat pendek, dengan tali spaghetti di bahu.  Membuat bahuku terekspose dengan jelas sekali. Rambut yang ku kuncir.


Warna hitam bling-bling sangat terlihat mewah di badanku yang tinggi ini. Setidaknya menurutku aku ini tinggi, tidak tau dengan pendapat orang.


Aku dan Anna memasuki club'. Anna bilang semuanya berkumpul disini. Anna menggandengku menuju salah satu kursi.


"Hai gaes...perkenalkan dia Aileen, teman kantorku."


"Hai Aileen, aku Zack." Zack menuntunku agar duduk didekatnya.


"Itu Aram." Tunjuk Anna kepada lelaki disamping Zack. Ara hanya mengangkat tangannya saja.


"Kau mau minum?" Tawar Aram kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak minum."


"Ayolah Leen, minum saja satu tengukan." Tawar Daniel, kekasih Anna.


Ku ambil botol alkohol itu dan meminumnya satu tengukan.


"Kau sudah punya pacar?" Tanya Zack.


"Ini enak." Aram hanya tersenyum saat Aileen kembali menengguk berkali-kali kembali.


"Apa?"


"Kau sudah punya pacar?" Tanya Zack sekali lagi dengan sedikit kencang.


"Belum." Kepalanya pusing, tubuhnya panas. Entah kenapa malam ini ia seakan ingin menari.


"Kau mau menari denganku?" Zack tersenyum saat Aileen mengajaknya menari.


Aileen dan Zack menari dengan panasnya, dimana Aileen meliuk-liuk kan tubuhnya.


Zack memeluk pinggang Aileen, ia menempelkan pipinya dengan pipi Aileen, mereka berdua tertawa bersama. Menikmati irama lagu yang menggema.


Menari, minum dan berjalan-jalan disekitar area club' ini.


"Ya Anna. Aku sekarang menjadi komandan." Anna dengan kesusahan merangkul tubuh Aileen, ia mabuk. Mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah sangat malam Bahkan sudah memasuki waktu pagi.


"Kemana Daniel? Lama sekali dia?" Daniel izin akan ke kamar mandi sebentar tapi lama sekali.


"Anna? Aku ingin pulang. Oh lihat siapa yang datang?"


Aileen melepaskan diri dari rangkulan Anna, ia berjongkok bersembunyi saat seseorang datang.


"Hei, kenapa kau disini? Ayo pulang." Daniel datang dan langsung berjongkok disamping Aileen. Saat hendak menggendongnya, seseorang menghentikan niatnya.


"Biar aku saja. Jangan sentuh sembarangan kekasihku." Daniel menengok dan mendapati bosnya Aldo berada dibelakangnya dengan wajah datarnya.


Ia langsung menyingkir dan memberi Aldo ruang, "Yuhuuuu....aku terbang." Teriak kegirangan Aileen saat digendong olehnya. Tangannya terbentang lebar saat ia mengendong ya ala bridal style.


"Apa mereka berkencan?"


"Aku juga tidak tahu." Sepasang kekasih ini melihat aneh Aldo dan Aileen. Dimana Aldo sangat pengertian kepada Aileen, membuat mereka berpikir apakah benar mereka sepasang kekasih atau bukan?.


"Biarlah, lagian aku yakin pak Aldo tidak akan mencelakai Aileen." Anna dan Daniel hanya menatap mereka berdua dari belakang.


"Hiks...kepalaku sakit, Kakak." Aileen membolak-balik badanya saat sudah berada di atas kasur.


"Hiks...Kakak, mau pulang." Aku hanya menghembuskan nafas, ini efek mabuknya.


"Berapa gelas kau minum?" Aileen tampak menghitung dengan kedua tangannya.


"Satu botol milik Aram."


"Kenapa bisa kau minum sebotol?" Tanyaku dengan nada marah, namun Aileen malah terkekeh.


"Ah kenapa bajunya sangat pendek? Gatal tubuhku." Aldo diam tak bergeming dengan wajah datarnya, saat Aileen membuka bajunya didepan matanya.


Hanya menyisakan dalaman saja, lalu mulai kembali berbaring dan tertidur. Aldo bangkit dari duduk, mengangkat tubuh Aileen memposisikan posisi yang nyaman lalu menarik selimut menutupi tubuh setengah telanjang Aileen.


Tanpa ia duga satu kecupan dibibir ia dapatkan dari wanita yang mabuk ini, "Terima kasih."


Ia tertegun dan tersenyum. Ikut berbaring disamping Aileen, memeluk tubuh Aileen yang berbalut selimut.


"Kenapa kau nakal sekali? Aku tidak mau kehilanganmu. Tidak mau." Lalu ia pun ikut memejamkan matanya.


Pagi harinya Aileen terbangun jam lima pagi, ia membuka matanya dan melihat ia sedang berada diatas seseorang.


Pandangan matanya buram, "Pak Aldo?" Ucapnya dengan lirik. Ia meletakan kepalanya kembali dan memeluk tubuh Aldo semakin erat.


Aldo bergerak dan dan memeluk pinggang Aileen yang berada diatasnya, memposisikan tubuhnya dengan nyaman.


"Nyaman sekali." Ucap Aileen dengan lirih.


Sepertinya Aileen sadar kalau ia berada diatas tubuh Aldo, bosnya sendiri. Tapi, Aileen terlanjur nyaman dengan posisi ini.


Apakah Aileen besok akan malu? Atau berpikir bahwa Aldo telah berani macam-macam dengannya?.


Bagaimana dengan Aldo? Seranjang dengan wanita yang hanya mengenakan dalaman saja, orang pasti akan berpikiran macam-macam walaupun ia masih berpakaian lengkap.


Entahlah itu hanya mereka yang tahu, bagaimana respon kedua manusia ini saat tahu keadaan mereka yang terbangun saat tidur nanti.


Sedangkan dikamar sebelah, Carlos sudah kelimpungan mencari dimana Aileen berada. Daniel dan Anna juga ikut mencari keberadaan Aileen. Mereka juga kalut masalahnya Aileen tidak ada di dalam kamarnya.


"ALDO BUKA PINTUNYA..." Carlos mengebrak pintu kamar Aldo dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"HM...Bapa ada yang mencari." Aku turun dari atas tubuh pak Aldo dan pindah berbaring di sebelahnya dan kembali tertidur.


Plak


Aldo merasakan tamparan di pipinya, ia terbangun, "Siapa yang ganggu?"


Aldo bangun dari tidurnya dan berjalan mendekat ke arah pintu, Carlos langsung masuk ke dalam kamar Aldo.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Carlos langsung mengangkat Aileen dan menatap Aldo tajam, begitupun dengan Aldo yang menatap tajam Carlos.


"Turunkan kekasihku sekarang juga."


"Berani sekali kau menyentuh kekasihku?" Aldo menarik tubuh Aileen namun Carlos menahannya.


"Dia adikku sialan. Bukan kekasihmu. Urusi saja urusanmu, kita akan pulang sekarang." Carlos membawa Aileen pergi dari kamar Aldo. Carlos marah kepada Aldo, berani sekali dia bermacam-macam kepada Adiknya, walaupun adik angkat namun dia benar-benar sayang kepada Aileen seperti adik kandungnya sendiri.


Aldo mengerang marah, bisa-bisanya Carlos membawa kekasihnya dengan keadaan seperti itu? Sialan.


Dalam pesawat Carlos terus merangkul dan mengengam tangan Aileen, seolah tidak mengizinkan Aileen berbaur bersama yang lain. Mau kemana pun Carlos akan mengantar Aileen.


Membuat Aldo menatapnya marah, ia tau Carlos menyayangi Aileen seperti adiknya. Tapi, ini sungguh berlebihan. Carlos seperti Kakak yang takut kehilangan adiknya saat menikah nanti.


❣️❣️❣️


mereka telah sampai di bandara. Didepan bandara Rimba sudah menunggu kepulangan adiknya itu.


Aileen berlari ke arah Rimba, diikuti Daniel dan Anna dibelakangnya. Setelah keluar dari bandara Carlos meminta Aileen untuk langsung pulang karena ia tidak bisa mengantar Aileen karena akan menemui seseorang.


"Kakak..." Teriak Aileen saat melihat Rimba yang berdiri dengan mengunakan kaca mata hitam. Ia langsung melompat ke dalam gendongan Rimba.


"Wah, memang benar Aileen adik Rimba itu." Daniel menatap mereka berdua dengan takjub.


"Tampan, sempurna." Anna takjub dengan ketampanan yang Rimba miliki.


"Memang dibandingkan denganku tidak ada apa-apanya." Tanpa sadar Daniel memuji pria lain, padahal dia selalu memuji ketampanannya sendiri.


"Kakak kenalkan dia Temanku, ini Anna dan dia Daniel." Anna dan Daniel berjabat tangan dengan Rimba.


"Dan Anna, Daniel ini kakakku Rimba. Lebih tepatnya Kakak sepupuku." Aileen tersenyum dengan lebar.


"Kalian akan pulang? Mau aku antar?" Anna dan Daniel terkejut mendapat tawaran tumpangan dari Rimba.