
Seolah sepasang kekasih Rimba membelikan begitu banyak barang kepada Aileen. Mereka habis berbelanja bersama disebuah Mall. Rimba tak membawa adiknya pulang melainkan membawa adiknya jalan-jalan dahulu.
"Kakak jadi rapat di hotel?"
"Jadi, nanti kamu di kamar hotel aja ya. Nanti Kakak pesankan." Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Kemari kan tanganmu." Rimba mencium punggung tangan Adiknya dengan halus. Mengelusnya seperti sepasang kekasih. Aileen hanya diam.
Sepupu-sepupunya memang gila dan hanya Nathan yang waras. Alex mencintainya dan Rimba terobsesi akan dirinya namun tidak mencintai layaknya pria dan wanita. Terkadang ia binggung dengan Rimba dan Alex kenapa seperti ini?.
"Cincinya bagus ya?"
"Iya." Tadi Rimba sempat membelikannya cincin.
Kami telah sampai di hotel bintang lima yang Rimba maksud. Rimba menggandengnya menuju lift.
Tanpa Aileen sadari, Aldo dan Carlos juga berada di hotel ini untuk membahas rencana kerja sama.
Carlos dan Aldo tentu melihat Aileen dan Rimba.
"HEI, KAU APAKAN KEKASIHKU?" bentak Aldo membuat Rimba berhenti dan berbalik badan dengan tangan yang tetap merangkul bahu Aileen.
"Kekasih?" Rimba binggung, kenapa Aldo membentak dirinya?.
Buk
Satu pukulan melayang oleh Aldo, ia menonjok rahang Rimba. Rimba tak tinggal diam ia kembali membalas Aldo.
"Bangsat kau." Mai Rimba memukul Aldo dengan membabi buta. Walaupun mereka sebelas dua belas. Tapi tetap saja Rimba lebih brutal daripada Aldo.
Rimba memukul perut Aldo dengan kencang, Aldo balik memukul rahang Rimba kembali dengan kencang. Suasana seketika riuh.
"Kakak berhenti, malu." Dengan tarikan kuat Aileen mampu menarik Rimba menjauh dari Aldo. Carlos membantu Aldo berdiri.
Rimba dan Aldo masih bertatap tajam, Rimba menepis tangan Aileen yang memeluk pinggangnya dengan kuat namun Aileen tidak Melepaskannya.
"Kenapa ini? Kita akan bekerja sama bagaimana mungkin kalian malah berkelahi?" Tuan Kim datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar laporan keributan antara Tuan Aldo dan Tuan Rimba yang akan menjalin kerja sama dengannya, ia langsung berlari keluar.
Ucapan Tuan Kim tidak didengarkan oleh ke dua pria itu yang masih dengan wajah beringasnya, "Kakak sudah hentikan, dia Bos ku."
"Sialan kau, jika ingin mendapatkan restu berbaik lah. Dia Kakaknya bodoh." Aileen dan Carlos masih sama-sama menahan Aldo dan Rimba, karena keduanya seakan masih terus ingin berkelahi.
"Tak akan ku biarkan Adikku menikah denganmu." Ucap tajam Rimba menatap permusuhan kepada Aldo.
"Suka tidak suka dia milikku, kau tidak bisa menyangkalnya." Aldo melirik Aileen yang masih memeluk Rimba dari belakang.
"Kita bicarakan ini baik-baik." Final Tuan Kim menengahi lalu pergi meninggalkan urusan keluarga ini.
"Ayo Kak..." Aileen menyeret Rimba menjauh dari sini.
"Sialan Lo Do, gue takut banget sumpah. Pokoknya Lo harus tanggung jawab sama gue, gue takut ya tiba-tiba mati dicincang sama Rimba." Carlos bergidik ngeri. Ia sayang kepada Aileen sebagai adiknya dan Rimba tahu itu, tapi siapa tahu tiba-tiba nanti Rimba datang dan membunuhnya.
"Kita batalkan saja meeting nya hari ini, lain kali saja." Ucap Carlos kepada asisten Tuan Kim yang masih menunggunya. Asisten Tuan Kim mengangguk.
***
Ku seret tubuhnya menaiki tangga, ku masukan kedalam kamar membuat ia ketakutan dibuatnya, "Kakak dengarkan aku dulu."
"Apa yang perlu didengarkan? Kau menjalin hubungan dengannya. Sudah cukup. Kau masih saja keras kepala, selalu saja melanggar apa yang Kakak katakan." Ucapku tajam.
"Sudah berapa kali aku bilang, kau itu milikku. Kenapa kau susah sekali diatur?" Aku sudah mengeluarkan pisau kebanggan ku.
Aileen menatap pisau itu horor, pisau yang sudah tujuh tahun lalu tidak pernah ia lihat sekarang kembali terlihat dimatanya.
"CUKUP KAKAK, AKU JUGA INGIN MEMILIKI KEKASIH. KENAPA TIDAK BOLEH? INI HIDUPKU KENAPA KAKAK SELALU BERKUASA ATAS DIRIKU?" bentaknya meluapkan emosi, namun ia malah memundurkan tubuhnya saat aku berjalan mendekat.
"KARENA KAU MILIKKU. SIALAN." Emosiku sudah berada di ubun-ubun, sudah tidak sabar memberikan hukuman kepada gadis kecilku yang membantah.
"Kakak jika kau mendekat aku akan lompat." Ancamnya kepadaku. Aku tentu tidak takut dengan ancaman konyolnya.
"Takut, eh?"
"Kakak aku akan bunuh diri jika Kakak melakukannya." Saat bersamaan itu, aku berlari kearahnya memegang bahunya hingga tubuhnya mundur ke pagar balkon. Mendorongnya kuat hingga tubuhnya sedikit melengkung ke belakang.
"Sini Kakak bantu." Kekeh ku semakin kuat mendorong bahunya agar terjatuh ke bawah kolam renang.
"KAKAK BERHENTI." bentaknya ketakutan. Lihat? Gadisku sangat takut dengan ketinggian apalagi kolam renang, ah gadisku tak bisa berenang apalagi kolam renang dibawahnya sedalam 10 meter.
Dengan gerakan tak terbaca, Aileen menarik lengan Rimba hingga ia tidak jadi terjungkal ke bawah. Rimba memukul tenguk Aileen membuat Aileen sedikit terjengkang kebelakang, namun tak mau kalah Aileen balik memukul Rimba.
Rimba mengunci pergerakan Aileen saat Aileen hendak memukul perutnya, ia tersenyum miring. Namun belum sampai disitu tiba-tiba tubuhnya terbanting dan terjatuh kebawah kolam.
Byur
Tubuhku terjatuh dari atas, terlempar kedalam kolam yang memiliki kedalaman sepuluh meter. Saat terjatuh aku tersenyum sinis sebelum tubuhku menyentuh permukaan air.
Azra, Alex, Nathan, Violet, Ara, Nathalie dan Sam terkejut saat melihat dengan jelas tubuh Rimba terjatuh kebawah dan terjebur kolam renang. Mereka mengalihkan perhatiannya ke atas dan menemukan Aileen yang terlihat bernafas dengan kasar wajahnya terlihat kesal dan marah.
"Mereka bertengkar lagi." Kekeh Nathan yang membuat Violet dan Ara terkejut dibuatnya.
Rimba muncul dipermukaan air dan menyapa istrinya yang terlihat pucat, "Hei sayang?" Rimba tersenyum manis membuat Violet jatuh pingsan dan untungnya Alex langsung menangkapnya.
Ara menatap Rimba dengan horor yang berjalan mendekat ke arah Alex dan mengambil Violet kedalam gendongannya.
"Ara nanti matamu lepas, mau menjadi koleksi mataku tidak?" Baru saja Rimba tersenyum Ara sudah pingsang saja dibuatnya, membuat Nathan memaki Kakaknya dengan kesal.
"Bisa tidak jangan pakai seringai itu, istriku lagi hamil nanti anakku jadi anakmu lagi, kan engak bagus nanti."