The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 13 E



aku terbangun dari pingsan ku, saat aku membuka mata aku mencium baru anyir darah dari kaos didepan ku ini.


"Kakak?"


"hmmm..." benar, sesuai dugaan ku ternyata benar kak Rimba.


"Dimana Arka?"


"Dirumah sakit."


"Aku mau bertemu dengannya." ucapku dengan pelan.


"Kita akan kesana."


"Minum." haus, aku merasa sangat haus sekarang ini. Kak Rimba dengan pelan menegakkan tubuh ku dan membantuku minum dengan pelan.


Selesai minum, Kakak kembali mendorongku bersandar ke dadanya yang bidang.


"Kau bau amis." desis ku merasa mual dengan bau ini padahal ini memang darahku yang menempel di baju kakak.


"Diam." ucap tajam Kakak membuat aku langsung membungkam bibirku rapat-rapat.


lalu kurasakan sesuatu yang basah menempel di pipiku. Aku terdiam memejamkan mataku menikmati ciuman kakak di pipi.


"Terima kasih telah berada di sampingku." aku tersenyum lalu menganggukan kepalaku. oh sungguh rasanya aku sangat tersipu malu jika diperlakukan seperti tuan putri. Suara Kakak yang terdengar sangat lembut membuat bulu kudukku meremang.


jika biasanya kak Rimba akan possessive layaknya tahanan kepadaku yang membuat aku takut sekaligus pembangkang maka lain halnya jika kakak berlaku romantis kepadaku aku akan tersipu malu dibuatnya.


aku menyembunyikan wajahku yang memerah didadanya dan memeluk lehernya erat. Terdengar suara kekehan dari kakak yang belas memeluk ku dengan erat.


"Malu eh." aku menggelengkan kepalaku dengan manja.


"ih...kakak...." aku mencium Jakun Kakak lalu menyembunyikan kepalaku di celuk lehernya.


"Kau memang kesayangan Kakak."


********************


Tubuhku sedang di tangani oleh para perawat dan dokter. Mereka membersihkan tubuhku dan mengobati lukaku.


"Dia ada disamping ruangan ini nona." aku mengangguk lalu aku memperhatikan perawat yang sedang mengobati lukaku ini.


"Kau tampan." perawat itu lalu tersenyum kepadaku membuat aku semakin melebarkan senyumanku.


"Terima kasih pujiannya." aku mengangguk dengan antusias. sungguh demi apapun perawat didepan ku ini sangat tampan sekali. Rasanya aku ingin berlama-lama di rumah sakit hanya untuk terus menatapnya setiap hari selama di rumah sakit.


"Sepertinya aku sudah sembuh." ucapku membuat dia bertanya kepada ku, "Kok bisa? padahal ini belum selesai nona."


perawat itu binggung dengan ucapan ku barusan, "Iya soalnya senyum manis kamu udah bikin badan aku kembali normal."


perawat itu terkekeh dibuatnya, membuat aku semakin tersipu dengan ketampanannya itu, "Ekhem..."


suara deheman seseorang membuat aku mengalihkan perhatianku ke belakang.


Mampus.


mati aku hari ini.


dibelakang ada Aldo yang sedang bersedekap dada menatap tajam ke arahku, aku gelagapan dan hanya bisa menyenggir saja dibuatnya.


"Sayang, kau kapan datang." tanyaku dibuat seceria mungkin didepannya.


"Dari tadi." jawabnya dengan singkat namun nada suaranya seperti mengatakan "Sedari kau menggoda perawat itu."


ternyata perawat yang ku goda sedari tadi sudah pergi entah kemana. Aku menatap ke arah Aldo menyuruhnya duduk di sebelahku.


"Sini sih." Aldo menurut walaupun wajahnya di tekuk tapi dia tetap duduk di sebelahku.


Setelah duduk disebelah ku, aku mengengam tangannya dan tersenyum kepadanya, "Maaf, iya aku salah. aku minta maaf."


Aldo hanya terdiam membuat aku geram sendiri dibuatnya. Lalu aku dengan berani duduk di atas pangkuannya dan menjambak rambutnya hingga dia mendongakkan kepalanya menatap ke mataku.


aku mencium bibirnya dengan ganas, menyalurkan rasa kesal ku kepadanya. menyalurkan dengan kenikmatan yang dia suka.


Aldo sempat terkejut dengan kelakuanku barusa namun dengan cepat dia membalas ciumanku dengan menggebu-nggebu dan penuh *****.


tangannya menarik pinggangku membuat tubuh depan kami saling menempel.