
"Iya Arka iya. Nanti kita beli es krim. Ayo makannya kamu cepetan dong, mamah capek nungguin kamu dari tadi." Kesal ku saat menunggu Arka lama sekali.
Dia bilang ingin ke karnaval pagi tapi dia sendiri yang membuat semua jadi terlambat.
"Ayo Mamah..." Arka langsung menarik tangan Mamahnya untuk segera pergi.
Selama perjalanan Arka banyak bercerita bagaimana dia sangat antusias untuk pergi ke karnaval pagi. Setelah mereka sampai Arka ingin pergi ke toilet.
Ku antar Arka ke toilet, ku tunggu didepan toilet karena ini toilet khusus pria. Namun disaat menunggu Arka, aku mendengar seorang anak kecil yang menangis.
"Hiks...Ayah..." Ku lihat seorang anak lelaki yang berjongkok, ia menangis. Ku hampiri dirinya dan ku pegang kepalanya membuat ia mendongak. Tiba-tiba ia langsung memelukku.
"Hiks...Arion mau ayah...hiks..." Sepertinya anak ini tersesat, aku harus bagaimana?.
"Ayo kita cari Ayah Arion ya, nak." Aku mengendongnya, sambil menunggu Arka selesai.
"Mamah, siapa?" Arka datang dan langsung bertanya siapa anak kecil yang digendong olehku.
"Sayang kita cari orang tua Arion dulu ya, nanti baru beli makanan sama es krim."
Ku gandeng tangan Arka, sebelah tanganku mengendong anak kecil yang bernama Arion ini. Aku jadi takut melepaskan Arka.
"Tadi Arion sama Ayah dimana?"
"Tadi Arion lagi makan terus mau ke toilet, taunya Arion lupa jalan pulang, hiks..." Tuhan dia menangis lagi, aku tidak tau mau berbuat apa?.
"Arion tenang saja, Tante pasti akan Carikan ayah Arion."
"Benar, Mamah pasti akan mengantarkan Arion ke ayah Arion." Tampak Arka dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Mamah? Arion tidak punya Mamah." Tiba-tiba anak ini bersedih, aku juga ikut bersedih. Tapi aku tidak akan bertanya macam-macam takut dia akan menangis lagi nantinya.
"Kalau begitu Arion bisa panggil Tante dengan Mamah. Bagaimana?"
"Tante tidak marah?"
"Tentu tidak sayang, kak Arka juga panggil Tante Mamah, tak apa."
"Mamah..." Arion memelukku dengan erat, ia terdengar senang saat memanggilku Mamah.
"Kira-kira dimana ya Ayah Arion?" Ku edarkan pandanganku, kata Arion tadi dia makan, berarti dia berada di blok makanan. Ini diblok makanan tapi ia tidak tau seperti apa ayah Arion itu.
"Itu Ayah." Tunjuk ya kepada lelaki yang duduk bersama anak kecil. Ku hampiri pria itu.
Setelah sampai aku langsung menurunkan Arion, "Ayah..."
"Ya Tuhan, kamu kemana aja? Ayah cariin. Ayah kira kamu hilang." Ayah Arion langsung memeluk putranya itu, sungguh ayah Arion terlihat sangat khawatir.
"Iya kakak kemana saja? Azura sudah kenyang ini, makanan Kakak juga Azura makan." Adu anak kecil perempuan itu dengan mengemaskan.
"Loh pak Aldo!" Aku terkejut, karena ayah Arion ini ternyata Pak Aldo.
"Ngapain kamu kesini?" Aldo menatap dingin Arka yang berada disampingnya.
"Saya mau jalan-jalan pak. Mau beli makanan."
"Ow..."
"Pak maaf nih sebelumnya, saya titip Arka sebentar disini ya? Saya mau beli makanan dulu."
"HM..."
"Arka duduk dulu sama Arion, Mamah mau beli makanan dulu buat Arka, oke?" Setelah memastikan Arka terduduk aku segara pergi membeli makanan.
"Jadi tadi kamu kemana?" Tanya Aldo yang masih penasaran kemana putranya pergi? Dan kenapa bisa bertemu dengan wanita aneh itu?.
"Arion tadi ke kamar mandi tapi Arion lupa jalan pulang, lalu ada Mamah dan Kak Arka yang membantu Arion." Siapa yang dia panggil Mamah? Apa mungkin gadis bar-bar itu?.
"Mamah siapa?"
"Mamah itu yang tadi."
Aileen datang dengan membawa nampan di tangannya, "Ayo Arka kita cari bangku kosong."
"Iya Mamah disini saja." Aku mengangguk dan duduk diantara Arion dan Arka.
Aku langsung menyuapi Arka, namun saat aku menyuapi Arka, salah satu anak pak Aldo melihatku.
"Aaaa.....ayo buka mulutnya cantik." Ku arahkan sendok berisi nasi dan ayam didepan mulutnya, ia menerima suapan ku.
"Siapa nama anak cantik ini?" Tanyaku, oh sungguh dia sangat mengemaskan dan juga cantik, bagaimana caranya pak Aldo bisa membuat dua anak sesempurna ini?.
"Azura, apa boleh Azura memangil Tante dengan sebutan Mamah, seperti Kakak?" Aku tersenyum mendengar permintaannya.
"Panggil lah sesuka Azura."
"Mamah, Arion juga mau dipangku dan disuapi seperti kak Arka." Arion tiba-tiba berubah menjadi sebal, ku bawa dia kedalam pangkuanku.
"Ayo Arka buka mulutnya, mau sop-nya juga?"
"HM..." Arka mengangguk, untungnya Arka tidak cemburu saat aku dekat dengan Arion dan Azura. Biasanya Arka akan langsung marah dan ngambek ketika aku memperhatikan orang lain.
"Aaaaa.... pesawat datang." Ku suapi Arka, Arion dan Azura secara bergantian. Bahkan makananku saja habis oleh mereka bertiga, tak apa. Aku senang. Aku suka anak-anak, mereka mengemaskan.
Aldo yang melihat itu tercengang dibuatnya. Apa ini? Kenapa bisa? Mereka seperti anak dan ibu sungguhan.
Ia tidak bisa mengambil kedua anaknya karena kedua anaknya terlihat sangat nyaman berada didekat Aileen.
Bahkan saat Arion ingin dipangku olehnya pun Aileen tidak keberatan, Aileen dengan telaten memberikan minum kepada Azura dan mengelap mulutnya yang sedikit kotor dengan tissue.
Arion tampak nyaman dalam pangkuan Aileen, Azura menikmati suapan Aileen. Tapi, siapa pria disampingnya ini? Pacarnya? Anaknya? Atau suaminya?.
Tapi tadi pria disampingnya memanggilnya Mamah, apa ia salah dengar?.
"Arion kemari, kasihan Tante. Kamu kan berat." Arion tampak menggelengkan kepalanya dan memeluk Aileen dengan erat.
"Tak apa Pak. Mendingan bapa beri aku makanan sebagai upah telah mengurus ke dua anak bapa." Sial, dia berani sekali menyuruhku. Tapi anehnya aku tetap melakukan apa yang dia perintah.
Aldo datang membawakan makanan untuk Aileen, Aileen tersenyum. Ku ambil Arion dari pangkuannya agar ia bisa makan dengan tenang, namun Arion tidak mau dipangku olehku, ia lebih memilih bermain bersama anak Aileen, Arion dan Azura.
Tiba-tiba sesendok nasi dan lauknya berada di mulutku, ia menyodokkan makanannya kepadaku.
"Saya tau bapa belum makan kan? Ayo makan, nanti bapa sakit loh. Ini sendok baru, bapa tenang saja." Aku menatapnya dengan ragu, dan ku makan suapan darinya dengan pelan. Sampai tiga suapan dia menyuapiku.
"Sudah cukup."
"Baru tiga suapan loh, pak. Apa bapak mau makan sendiri?"
"Tidak, saya sudah minum kopi tadi."
"Is...minum kopi sebelum makan itu tidak baik pak, harusnya bapa itu memikirkan kesehatan bapa." Tiba-tiba saja dia marah kepadaku, aku tidak tahu kesalahanku dimana, lagian siapa dia? Berani sekali memarahiku?.
"Ini hidup saya, siapa kamu? Lancang sekali memarahi saya."
"Dasar Duda." Aku jelas dengar apa yang tadi ia katakan kepadaku. Aku hanya diam, melihat dia rasanya naik darahku dan nafsu membunuh muncul saat dia menjengkelkan.
***
Kupeluk si kembar, mereka tidak mau lepas dariku. Ku peluk mereka dengan erat.
"Kalian dengarkan Mamah ya? Jangan nakal, turuti apa kata Ayah. Arion jaga adik kamu baik-baik ya. Nanti kalau ada waktu Mamah janji akan main sama kalian sama kak Arka juga."
Ku cium dahi Arion dan Azura lama, sebagai salam perpisahan. Aldo bersandar di mobilnya. Sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian orang-orang, mungkin orang-orang berpikir kalau ia dan Aileen adalah mantan suami istri dan hak anak jatuh ke Aldo, jadi seperti inilah jika bertemu. Penuh dengan drama perpisahan.
Aileen membukakan pintu untuk Arion dan Azura masuk.
"Hati-hati dijalan ya pak." Aldo hanya berdehem dan pergi masuk kedalam mobil lalu menjalankan mobil pergi meninggalkannya.
"Dasar Duda arogan." Makiku kesal dengan kelakuan bos besar itu.
"Ayo kita beli eskrim Ka." Aileen mengangguk dan berjalan mengandeng Arka. Sepanjang jalan Arka selalu berbicara tentang es krim yang akan ia beli membuat aku hanya mengangguk dan mengiyakan saja permintaanya.
"Mamah Arka ingin eskrim Oreo dengan toping Oreo dan choco..."