The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 12 A {Pertengkaran Arka & Justine}



"Mamah sudah pulang belum ya?" gumam ku membuka pintu kamarku lalu keluar sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


"MAMAH...MAMAH...." teriakku dengan kencang.


"MAMAH...DIKAMAR ARKA." aku langsung berlari ke kamar Mamah, namun saat aku membukanya, tubuhku langsung lemas dibuatnya.


Di sana, di atas ranjang. Ada Justine yang sedang berbaring di pangkuan Mamah. Pemandangan itu membuatnya cemburu dan marah.


"Kenapa ada dia disini?" tanyaku dengan kecewa kepada Mamah. Aileen dan Justine menoleh ke arah Arka.


"Arka kemari lah." aku menggelengkan kepalaku menolak perintah Mamah.


"Arka tanya, KENAPA ADA JUATINE DI SINI?" bentak ku dengan air mata yang sudah berlinangan.


"Arka kamu ini kenapa? jelas Justine ada disini, kita tinggal bersama Arka." Jelas Aileen yang tidak tahu kenapa adiknya tiba-tiba saja marah.


"ARKA ENGGAK SUKA ADA JUSTINE DISINI."


"ARKA KAMU INI NGOMONG APA HAH?" aku tersentak kaget mendengar bentakan Mamah kepadaku demi membela Justine.


Ku lihat Justine bangkit dari pembaringannya, Mamah dan Justine berdiri.


"MAMAH BAHKAN BENTAK ARKA CUMAN BUAT BELA ANAK SIALAN ITU." tunjuk ku kepada Justine yang hanya terdiam.


"ARKA JAGA BICARAMU, DIA JUGA KAKAK MU."


ku lihat Mamah berjalan mendekat ke arahku, namun akh mundur menjauhinya.


"Mamah enggak adil, Mamah udah enggak sayang lagi hiks...sama Arka. Mamah lebih sayang Justine....hiks....Arka benci Mamah sama Justine....hiks....Arka benci kalian berdua..."


"Arka, Mamah tidak pernah menbeda-bedakan kalian berdua. Dimana Mamah pernah pilih kasih sama kalian berdua HM....?" tanya Mamah dengan lembut, jarak antara kami cukup jauh karena aku selalu mundur berjaga jarak dengan Mamah.


"hiks....kalau mamah sayang Arka, Mamah enggak bakal nampung Psychopath gila itu disini." ucapku dengan terbata-bata kerena menangis.


"Arka, Mamah sudah peringatkan kamu untuk jaga bicaramu." ucap Aileen dengan tajam, ia menatap tajam Arka yang menangis sesenggukan.


"Arka jangan kekanak-kanakan. kalian berdua adik Mamah, tidak bisa Mamah memilih diantara kalian berdua. Mamah sayang kalian berdua, Mamah tidak pernah berlaku tidak adil kepada Arka dan Justine." jelas Aileen berusaha membujuk Arka agar tenang. Masalahnya jika Arka marah, situasi akan semakin kacau.


Arka akan kabur dan sulit untuk ditemukan. Itulah yang akan terjadi.


"Arka cemburu sama Justine. Mamah selalu memperhatikan Justine, menemani dia belajar, mengantar dia sekolah."


"Arka, Mamah juga melakukan hal yang sama kepada Arka, kenapa Arka berbicara begitu?" Aileen tak habis pikir dengan jalan pikiran Arka.


"Memang Tidak Mah, tapi Arka tidak mau kasih sayang Mamah terbagi hanya untuk dia."


"Pokoknya Arka tidak mau di rumah ini sebelum pria gila itu pergi dari rumah." aku berlari keluar dari dalam kamar Mamah.


"ARKA...ARKA...." tak ku dengarkan teriakan Mamah di belakang sana yang memanggil-manggil namaku.


Aku terus berlari keluar dari dalam rumah. Entah kemana tujuanku sekarang, aku tidak perduli yang terpenting aku tidak mau bertemu Mamah dan Justine saat ini.


Sedangkan Aileen tak bisa mengejar Arka pergi, ia berbalik dan mendapati Justine yang memerah diwajahnya seperti menahan tangisnya.


"Justine mau pergi saja, gara-gara Justine, Mamah sama Arka bertengkar."


"Justine hanya beban untuk Mamah dan Arka. Justine tahu dihati Mamah pasti ada sakit kan mengurus Justine? di tambah Justine hanya anak dari istri kedua Ayah." ujar Justine dengan menundukkan kepalanya.


Aileen berjalan mendekat ke arah adiknya itu, ia mengangkat dagu Justine dan menatap wajah tampan Justine.


"Mamah tidak pernah membawa masa dirimu. Jika bisa, sudah dari dulu Mamah lakukan itu. Mamah memang benci kepada Tante Bella namun Mamah tidak membenci kamu."


"Karena kamu anaknya. Kamu tidak meminta dilahirkan olehnya, kamu tidak bisa memilih dimana kamu dilahirkan." ku usap pipinya dengan lembut. Menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Membenci boleh, tapi jangan sampai membenci sampai ke generasinya. Itu tidak baik." Ku peluk Justine dan mengusap punggungnya dengan pelan.


sedangkan Justine menyembunyikan wajahnya di bahuku.