The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 3E



Aileen dan Aldo berjalan beriringan. Tas Aileen yang berada di punggungnya sedangkan di bagian depan ada Arion yang sedang ia gendong. Tadi Pak Aldo datang dan berniat membawa Arion pulang namun Arion tidak mau lepas jadilah Aileen mengantar putranya itu sampai mobil Ayah Arion yang tak lain adalah Aldo.


"Maaf Arion merepotkan mu." Aldo mengucapkannya dengan tulus, sebenarnya ada rasa tidak tega melihat Aileen yang kesusahan dan kelelahan bekerja seharian tanpa istirahat, istirahatnya ia gunakan untuk menyuapi makan dan minum obat Arion. Ia tahu semua dari Carlos yang mengatakannya tadi, padahal Carlos sudah meminta Aileen istirahat dulu dan memberikan Arion kepada Carlos, namun Aileen tetap tidak mau dan melewatkan jam makannya. Bekerja sambil mengurus anak yang sakit memang sangat melelahkan.


"Tak apa Pak, jangan sungkan. Lagian sudah tugasku menjaganya saat sakit, aku kan Ibunya." Aileen menatap Aldo dengan senyum hangatnya.


"Aku ibunya kan?" tanya Aileen sekali lagi padaku.


"Yah kau ibunya." balasku membuat ia tersenyum lebar.


"Biasanya jika Arion dan Azura sakit siapa yang mengurus?"


"Kalau Arion yang sakit ia akan meminta ditemani oleh Neneknya dan Azura akan meminta ditemani oleh Ku. Azura sekarang sedang bersama dengan Neneknya didalam mobil karena tadi si Kembar meminta ikut aku ke kantor." ku lihat wajah Arion yang tertidur dengan pulas, saat tadi di bangunkan Arion tidak bangun sama sekali.


"Wah berarti sekarang ada Nyonya Margaret?" pekiknya dengan girang saat mengetahui ada Mamah disini sedang bersama dengan Azura.


"Kau mau menemuinya?" Aileen langsung mengangguk dengan antusias. Saat sudah berada diparkiran aku membuka pintu mobil belakang di situ sudah ada Mamah, Azura dan supir.


"Lama sekali sih Do." gerutu Mamah langsung saat aku membuka pintu mobil. Mamah menatap ke arah belakangku dengan terpaku, membuat ia turun dari mobil.


Margaret berjalan mendekati Arion yang sedang digendong oleh wanita asing. Ia melihat bagaimana nyamannya Arion tertidur, ekspresi wajahnya sama saat Arion tidur bersamanya. Ia mendongak menatap gadis manis yang mengendong cucunya, gadis itu membukukan nadanya tanda salam dan hormat kepadaku.


ku pegang pipinya dan ku usap pipinya yang lembut bersih tanpa make up, "Siapa namamu?"


"Aileen nyonya." sepertinya dia anak yang hiperaktif, terlihat jelas bagaimana ia menjawab pertanyaannya dengan antusias.


"Terima kasih telah menjaga cucuku seharian ini. Kau pasti Lelah kan? kemari kan Arion biarkan kau istirahat ya." ku ambil Arion dalam gendongannya.


"Tidak sama sekali nyonya, Arion dan Azura sudah seperti anak saya sendiri. ah, maaf lancang mengatakan itu nyonya." Ia menunduk dan meminta maaf kepadaku. Margaret menggelengkan kepalanya.


"Tak apa, asalkan kau tulus kepada ke dua cucuku aku tidak mempermasalahkannya. Aku malah senang ada yang mau menganggap cucuku sebagai anaknya, terlebih kau."


"Terima kasih nyonya." Ia tersenyum dengan lebar, Sepertinya memang Aileen ini anak yang baik. Ia sering mendengarkan cerita ke dua cucunya tentang wanita yang cucunya panggil Mamah akhir-akhir ini, akhirnya ia bertemu juga dengannya hari ini.


"Mamah..." panggil Azura didalam mobil. Aileen tersenyum dan mendekati Azura yang duduk didalam mobil. Dengan sedikit membungkukkan badannya Aileen menyentuh kening Azura, panasnya sudah turun.


"Azura sehat?" tanya Aileen dengan lembut.


"Azura sehat, Azura kangen Mamah." Azura merentangkan tangannya meminta digendong. Aileen langsung mengendong Azura dalam gendongannya. Wajahnya menampakkan raut khawatir.


mengelus rambut Azura dan mengecup dahi Azura berkali-kali, "Azura sama Kakak kenapa sakit hmm? pasti engak rajin minum susu sama vitamin yang Ayah beli ya?"


"Azura engak suka, Mah. Rasanya tidak enak." adu nya kepada Aileen sang Mamah.


"Azura tidak kasihan sama Mamah, Ayah dan Nenek ya? Ayah kan kerja banting tulang buat Azura sama Kak Arion, biar kalian sehat. Kenapa susu sama vitamin yang Ayah belikan tidak pernah diminum? kan sia-sia uang Ayah." ucapnya dengan raut sedih. Azura juga sikut sedih jadinya.


"Ayah juga nih!" Aldo terkejut saat Aileen menoleh ke arahnya dan memanggilnya Ayah. Begitupun dengan Margaret yang sama terkejutnya.


"Ayah harusnya memantau Anak-anak dong, Kok malah sibuk cari uang terus, kalo gini kan anak-anak sakit Ayah engak tahu penyebabnya. Iyakan sayang?" Azura mengangguk mengiyakan ucapan Mamah.


"Iya bener itu Ayah." Azura ikut-ikutan.


"Iya maafin Ayah." ucap Aldo meminta maaf kepada keduanya.


Aileen menggelengkan kepalanya, "Ayah tidak bisa dimaafkan sebelum mendapatkan hukuman. Ayo pukul Ayah biar tidak melakukan kesalahan lagi sama Azura dan Kak Arion." Aileen dan Azura memukul Aldo walaupun tidak keras namun Aldo tetap saja menjerit agar mereka berdua puas.


"Ayah harus janji ya sama Azura?" Azura mengacungkan jari kelingkingnya didepan Ayahnya itu, Aldo menautkan jarinya dengan Azura, "Iya Ayah janji."


"Oke, sekarang waktunya Azura pulang. Jangan lupa vitamin sana obatnya diminum oke? Ayah juga harus memantaunya ya?" Aileen masih saya menyalahkan Aldo.


Aldo masuk ke dalam mobilnya dan mengambil Azura agar duduk dipangkuannya, "Semoga Azura dan Kakak cepat sembuh ya, nanti Mamah janji kalo kalian berdua sembuh nanti Mamah ajak main ke rumah sama Kak Arka, ya sayang ya?" Aileen mencium pipi Azura.


"Janji Azura bakal cepet sembuh." jawab Azura dengan semangat. Aldo masih terpaku karena jarak antara wajahnya dengan wajah Aileen sungguh sangat dekat, apalagi Aileen yang saat ini sedang menatapnya balik dengan tampang garangnya sepertinya Aileen sangat pandai membuat mimik wajah dan pandai bermuka dua.


"Apa? mau dicium juga?" tanyanya garang kepadaku, aku menggelengkan kepalaku pelan. Lalu Aileen mempersilahkan Margaret masuk dengan memangku Arion.


"Hati-hati ya nyonya." Margaret hanya tersenyum, Aileen menutup pintu mobilnya dan mobil yang ditumpangi Aldo pun pergi.


Dalam mobil tidak ada yang berbicara sama sekali, Margaret yang masih tersenyum senang sedangkan Aldo yang masih dalam pikirannya.


"Kalian berasa mantan suami istri ya tadi?" Margaret terkekeh mengingat kejadian tadi saat Aileen dan Azura memukuli Aldo.


"Apaan sih Mah?" kesal ku saat Mamah membuyarkan pikiranku.


Margaret melihat wajah anaknya yang terlihat bodoh saat mendengar ucapannya tadi membuat ia menghembuskan nafas panjang, "Maksudnya umur boleh kecil tapi pikirannya udah tua tandanya ia sudah dewasa. Begitu saja tidak tahu, dasar tidak niat jadi Ayah kamu."


Aldo menggerutu kesal, Mamahnya suka sekali membully dan membuatnya kesal. kalau adiknya saja itu selalu dia puja-puja karena menuruni wajah Mamah, sedangkan dirinya yang menuruni wajah sang Ayah selalu menjadi bahan Omelan seperti ayahnya. Huh andai saja ia tidak mirip ayahnya pasti akan selalu dimanja oleh Mamahnya.


Karena mata Mamahnya itu wajah papahnya kalau dilihat seperti orang minta dihujat, walaupun tampan. Mamah sering sekali memarahi Papah dan aku tanpa alasan, ya walaupun alasannya katanya wajahmu seperti mengajak Mamah berkelahi.


aduh, dasar emak-emak.


\*\*\*


Malam harinya Aileen dan Arka sedang belanja bulanan pakaian di sebuah mall. Aileen sibuk memilih pakaian untuk dirinya sendiri sedang Arka juga sibuk memilih pakaian untuk dirinya sendiri.


"Mau yang mana Ka?" tanyaku kepada Arka yang sepertinya binggung mau memilih yang mana, Arka sangat suka warna ungu dan biru langit. Seperti saat ini ia sedang binggung memilih warna ungu atau biru?.


"Menurut Mamah yang mana?" Arka menunjukan pakaian yang ia inginkan.


"Ya udah kalo Arka suka dua-duanya ambil aja ga papa."


"Hore...." Arka memberikan beberapa pakaian kepada ku, aku dan Arka berjalan menuju kasir. antrian cukup panjang membuat aku meminta Arka agar duduk di kursi tunggu didepan toko yang disediakan tampat duduk.


Arka duduk sendirian sembari menunggu Mamahnya antri membayar baju, ia hanya memainkan ponselnya, tentunya bermain game.


sedangkan di tempat yang sama Alex sedang bersama dengan seorang wanita, mereka habis menonton film di bioskop yang ada di mall ini.


"Kau yakin tidak mau apa-apa lagi?" tanyaku kepada Lisa yang hanya diam sepanjang jalan membuat aku frustasi sendiri sebenarnya berhadapan dengan wanita pendiam.


Lisa hanya menggelengkan kepalanya membuat Alex hanya menghembuskan nafasnya. Alex mengalihkan perhatiannya ke depan dan melihat sesosok lelaki yang ia kenali, langsung saja ia berjalan mendekati pria itu yang sedang memainkan ponselnya.


"Arka?" panggilnya membuat Arka mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang memangilnya.


"Kakak."


"Kamu sama siapa kesini?" Alex mengisyaratkan agar Lisa duduk disamping Arka sedangkan dirinya berjongkok disamping Arka.


"Sama Mamah, tapi Mamah lagi antri bayar baju." aku menganggukkan kepalaku.


"Lisa ini sepupuku Arka. Arka ini pacar Kakak namnya Lisa, panggil dia Kak Lisa oke?" ku perkenalkan Arka kepada Lisa dan kuperkenalkan Lisa kepada Arka.


"Halo Kak Lisa." sapa Arka dengan senyum yang lebar.


"Halo juga Arka." sapa balik Lisa kepada Arka.


setelah itu keluarlah Aileen dari toko dengan pakaian yang membuatku naik darah melihatnya.


"Loh ada kamu disini?" bukanya menjawab aku malah mendekatinya dan mencekal lengannya dengan kuat.


"Kamu pakai apa ini? baju kuranggan bahan kaya gini kamu pakai, apa baju yang kasih masih kurang?" desisnya dengan tajam.



"Ih apaan sih ini kan bagus, lagian aku tuh juga pengin tampil feminim kali." Aileen semakin mendengus kesal saat Alex membuka kemejanya dan memakaikannya kepada Aileen.


"Pakai nanti masuk angin." ucapku dengan datar. Ku ambil paper bag yang dibawa oleh Aileen.


"Ayo Lisa kita makan dulu." Alex bukannya merangkul Lisa malah merangkul Aileen yang sepupunya. Membuat Aileen mengerutkan keningnya dan menoleh ke belakang melihat Lisa yang berjalan beriringan bersama dengan Arka.


"Lah..."


"Kamu engak kerja?" tanya Aileen kepada Alex.


"Engak aku sengaja ambil cuti sehari buat pergi sama Lisa."


"Pacarmu itu?"


"Iya, gimana?" tanya Alex dengan mengangkat kedua alisnya.


"Cantik kayaknya dia anak baik, jangan sia-sia in ya Lex, kasihan. Sepertinya dia bener-benar Sayang deh sama kamu. Cobalah buka untuknya jangan jadikan dia pelampiasan kamu seperti yang dulu-dulu." Alex hanya mengangguk.


Alex menatap Aileen dengan tatapan penuh arti yang dalam sedangkan Aileen menatap Alex dengan tatapan penuh harap.