
aku memejamkan mataku, mendongakkan kepalaku ke atas, mempererat pelukanku kepada Justine.
"Ayo pulang Justine. disini tidak aman untukmu." aku melirik ke arah Kak Rimba dan Kak Charles. Charles adalah seorang mata-mata, dia adalah Kakak dari Alya.
"Kakak tolong bereskan semua ini. aku tahu pasti kalian kan yang menyuruhnya." Rimba hanya memutar bola matanya malas sedangkan Charles hanya terkekeh.
"Mona bantu aku memapah Justine. Alex tolong kemudikan mobil, kita pulang sekarang." Alex berlari keluar dari rumah besar ini.
Mona dan aku membantu Justine berjalan. bagaimana mau berjalan sendiri? Justine babak belur, tubuhnya penuh dengan lebam dan luka. Mungkin karena perlawanan dari keluarga Cassano tadi.
aku memasukkan Justine ke kursi belakang, setelah itu aku masuk ke dalam duduk dibelakang bersama Justine. Alex mengemudi dan Mona berada didepan bersama Alex.
Aku terdiam tidak tahu harus mengatakan apa kepada Justine? ini sudah terlanjur sampai aku merasakan Justin memelukku dengan mata yang menatap ke arahku seolah mengatakan ada apa?.
aku menggelengkan kepalaku dan memeluk Justine. Aku melepaskan kemeja yang ku kenakan lalu kembali memeluk Justine.
kemeja yang ku lepas tadi ku gunakan untuk menghapus darah yang menempel di wajah Justine.
dengan telaten aku menghapusnya hingga wajah Justine bersih dari darah. aku tersenyum kepada Justine dan mengelus kepalanya. lalu mencium dahinya dengan sayang.
"Maaf..." ucap Justine dengan sedih. Aku hanya tersenyum kecil, mengelus punggung Justine.
"Tak apa, tenang saja. Mamah tau apa yang Justine lakukan. cukup sekali ini saja ya Justine?"
Justine hanya terdiam bersandar di dada Mamahnya itu, wajahnya terukir senyum sinis. Kepribadian ganda nya muncul dan tidak ada yang menyadarinya bahkan Aileen sekalipun.
❣️❣️❣️
Alex dan Lia telah resmi menjadi pasangan suami istri. Saat ini aku sedang duduk bersama dengan Kak Oliver dan Kak Ara.
aku memikirkan Pak Aldo, kenapa belum datang-datang. katanya mau datang kok sampai saat ini batang hidungnya belum muncul?.
"Kenapa?" tanya Kak Oliver melihat wajah lesu ku.
"Maklum jomblo, jadi kaya gitu kalau ada acara pernikahan kaya gini." yang menjawab malah Kak Ara.
"Ye...gini-gini aku juga punya pacar Ya. Lebih ganteng dari suami-suami kalian." ucapku dengan sombong.
"Siapa namanya?" tanya Kak Ara.
"Aldo Hardin Scoot."
"Uhuk....Uhuk...." Kak Ara tersedak oleh air liurnya sendiri, Kak Oliver memberikan air kepada Kak Ara. setelah di rasa baikan Kak Ara kembali bertanya kepadaku.
"Aldo Hardin Scoot?" aku menganggukkan kepalaku.
"Rivalnya Kak Rimba?" aku mengangguk lagi.
"Si duda anak 2 kembar itu?" lagi aku mengangguk.
"Gila, dia dapet julukan Hot Daddy."
"Wah gila nih anak, sekali dapet duda anak dua lagi, eh tapi enggak papa yang penting duitnya banyak." aku dan Kak Oliver mengangguk menyetujui ucapan Kak Ara.
"Tapi kan Dia juga tampan ya kan?" tanya Kak Oliver, "Iya dia ganteng banget."
"Eh kenalin dong Leen nanti kalau ke sini."
"Iya Leen kenalin ke kita." aku menganggukkan kepalaku.
"Siaplah nanti bentar lagi datang kok."
"SAYANG...." belum lama aku mengatakan Aldo akan datang sudah ada yang memanggilku dengan sebutan sayang lagi.
aku menengok ke belakang dan mendapati Aldo yang berdiri dengan melambaikan tangannya ke arahku.
Aku bangkit dari dudukku dan berlari ke arah Pak Aldo. aku memeluk tubuhnya dengan erat, "Ih...bapak kok tambah ganteng sih 2 hari enggak ketemu?" tanyaku seraya melepaskan pelukan ku.
Aldo terkekeh mendengarnya, baru saja dia datang sudah di hadiahi gombalan manis dari kekasihnya itu.
Oliver dan Ara melongo di buatnya. Tidak percaya lelaki didepannya ini adalah Hot Deddy.
"Wah ternyata lebih tampan dari pada di foto ya?" puji Kak Ara kepada Pak Aldo. dapat ku lihat Kak Ara memuji Aldo sambil mengelus perutnya yang besar.
Aldo hanya tersenyum kecil, "Halo...saya Aldo kekasih Aileen."
Aldo menjabat tangan Ara, "Ara, istirnya Nathan."
lalu beralih ke arah Oliver, "Oliver, istirnya Rimba. Kenal Rimba kan?"
"Kenal. Kebetulan dulu kita satu SMA dan kuliah yang sama."
"Ah begitu, mari duduk dulu Aldo." Aldo duduk disamping Aileen.
Ara tak henti-hentinya tersenyum manis melihat bagaimana ketampanan Aldo yang begitu di puja-puja hingga mendapatkan gelar Hot Deddy seperti ini.
Aldo tersenyum melihat Ara yang tak henti-hentinya tersenyum penuh puja kepadanya.
"Anak aku mana kok enggak ikut?" tanyaku membuat Aldo mengalihkan perhatiannya.
"Di rumah. Besok kan sekolah mereka."
"Yah...kenapa enggak di izinin sehari aja biar ketemu saja aku." tanyaku dengan lesu.
"Heh memangnya kamu yang hanya pengin ketemu sama David sampai bolos sekolah dikejar-kejar Rimba." ucap Oliver dengan memutar bola matanya malas.
Aileen jadi teringat saat bagaimana ia di kejar oleh Rimba dan Oliver karena tidak mau berangkat sekolah karena mau bertemu dengan sepupunya yang sekarang sudah menjadi idol dan jarang bertemu dengannya akhir-akhir ini.
...*Ia terus berlari menghindari kejaran singa di belakangnya itu dengan singa betina nya juga. ...
"AILEEN KEMBALI. BERANGKAT KE SEKOLAH KALAU ENGGAK KAKAK HUKUM KAMU." ia menulikan pendengarannya, tidak memedulikan ancaman dari singa jantan di belakang.
"Tidak....aku mau bertemu dengan para pria tampan di sana. Kesempatan emas ini hanya sekali." monolog ku dan semakin mempercepat larinya walaupun nafas sudah sesak sekali rasanya.
ia tak sanggup lagi untuk berlari, sudah sangat jauh dari rumahnya. Larinya semakin lama semakin lambat karena ia menghirup oksigen yang kesulitan.
tanpa ia sadari Rimba sudah berdiri di belakangnya dan langsung menarik tangannya dengan kuat sekali, Aku langsung menangis di hadapan Rimba memohon agar di izinkan tidak berangkat sekolah satu hari saja.
"Hiks...Kakak satu hari saja Hua....kakak...." rengekan ku tidak berhasil, Kak Rimba malah menyeret ku dengan kasar walaupun aku sudah menangis dengan kencang pun ia tidak perduli.
"KAKAK TIDAK MAU BERANGKAT SEKOLAH. MAU KETEMU DAVID." bentaknya dengan keras serta menahan ingusnya yang hampir keluar dari hidung.
"Diam. Kau hanya akan menggoda teman-teman David saja kan disana?" aku menggelengkan kepalaku tidak setuju dengan tuduhan Kak Rimba kepadaku walaupun itu juga salah satu alasanku.
berteriak sekencang apapun aku tetap tidak di izinkan untuk bolos sekolah, aku bahkan sampai di antar oleh Kakak sampai aku duduk di atas kursi kelasku. Malu sekali rasanya di gandeng seperti anak kecil dan tas yang gendong oleh Kak Rimba.
bahkan Kak Rimba sampai menunggu jam pelajaran pertama di mulai baru dia pergi meninggal kan aku di sekolah.
kejadian seperti ini memang bukan yang pertama atau yang ke dua kalinya melainkan Aileen sering sekali seperti ini entah bersama Rimba, Nathan, Alex, Paman Sam atau bahkan dengan Tante Nathalie*.
mengingat kejadian itu membuat aku menggelengkan kepalaku, "Is aku tidak pernah seperti itu." aku tetap menyangkalnya.
❣️❣️❣️
aku dan pak Aldo berjalan-jalan di pesisir pantai. Berduaan saja.
"Baju aku bagus engak?" tanyaku sambil menunjuk gaun yang ku kenakan ini.
"Bagus." aku tersenyum mendengarnya dan memeluk lengan Pak Aldo.
"Liat Bapak senyum aja udah kayak di hujani permen. manis banget soalnya senyum bapak."