The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 10 {Mantan Aldo}



Aldo menarik lengan Aileen dengan kasar. Sedangkan Aileen berjalan dengan terseok-seok mengimbangi langkah kaki lebar miliknya.


"Lepasin, jangan sentuh aku." hardik Aileen marah saat aku menariknya masuk ke dalam mansion milikku.


"Diam. Cerewet sekali." ucapku dengan tajam.


"Kenapa selingkuhan mu tidak kau bawa sekalian, hah? bukannya tadi kalian sedang bermesra-mesraan?" rasanya telinga Aldo ingin pecah karena ocehan Aileen mengenai mantan pacarnya tadi.


"Kenapa diam? berarti benar kan kau tadi sedang anu-anuan dengan dia?" aku menghentikan langkahku saat dia sudah mulai berteriak.


"Anu-anuan apa maksudmu?" aku menyipitkan mataku saat mendengar pertanyaan ambigu darinya.


"Kau jangan pura-pura munafik ya wahai duda tua." sontak aku memukul bibirnya pelan yang sedang maju-maju karena cemburu buta ya itu.


"Mulutnya." ucapku dengan melototkan mataku.


"Apa? memang dasar duda tua." aku menatapnya dengan datar. Kesal sekali meladeni ABG yang satu ini.


"Pokoknya aku mau pulang. Aku tidak mau disini bersama dengan duda seperti mu." Aileen melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah yang menahan kesal.


"Dengar Aileen. aku tidak selingkuh darimu." ucapku kepadanya seperti sedang memberikan pengertian kepada anakku sendiri.


"Tidak selingkuh? mata mu di taruh dimana? jelas-jelas aku lihat dia memeluk lengan mu dan kau pun menerimanya dengan suka rela." aku menjambak rambutku frustasi dibuatnya.


"Malangnya nasib ku sudah dapat duda, eh ditambah mantan **** boy lagi, huhu..." Aileen menangis dengan histeris namun yang Aldo lihat hanyalah sebuah akting.


"Aileen say-"


"ENGGAK USAH PANGGIL SAYANG SAYANGAN. SAYANGMU SUDAH BASI TAHU." tak kehabisan akal, aku meraih lengannya namun dia langsung menghempaskan ya dengan kasar.


"Jangan pegang-pegang kau pikir aku gadis murahan, hah?" sepertinya nih anak sedang pms sedari tadi marah-marah terus. Padahal aku ingin menjelaskan tentang masalah tadi.


"Kenapa pegang-pegang aku?" langsung saja aku mendapatkan tatapan tajam darinya.


"kenapa tidak suka kalau aku yang pegang? kalau wanita tadi kau suka? iya?" tanyanya dengan nada yang sinis.


"Bukan begitu sayang, maksudnya...akh...sudahlah aku suka sekali saat kau mengandeng tanganku." ucapku diakhiri senyum yang semanis mungkin.


"Aku aduin kau ke Kak Rimba, biar kau dihajar habis-habisan olehnya." ucapnya dengan memperagakan dengan tangannya yang saling pukul.


"Rimba bukan masalah besar untukku." ucapku dengan santai.


"Cih...nanti nangis saat dipukul."


"Siapa? aku? nangis? kami bahkan pernah saling tembak-menembak antara satu sama lain dulu."


"Lalu siapa yang menang?"


"Rimba. Karena saat itu aku kekurangan darah." Aileen berdecak kagum bahkan sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Wah...hebat sekali kakak ku ini. Memang Rimba itu sulit dikalahkan, kau berusaha saja ya Tuan Duda. Semoga kau bisa mengalahkannya suatu saat nanti." Aileen menepuk bahu ku beberapa kali.


"Menurutmu aku dan Rimba tampan siapa?" wajah Aileen tampak berpikir keras.


"Menurutku Kak Rimba lebih unggul di bandingkan dirimu. Dia tampan, tubuhnya seksi, jago bela diri, kaya raya lalu....miliknya juga sangat besar." mendengar kalimat yang terlontar diakhir katanya aku melototkan mataku.


aku mengundang tubuhnya, "KAPAN KAU MELIHATNYA? BAGAIMANA BISA KAU MELIHATNYA AILEEN?" teriakku penuh amarah didepan wajahnya sedangkan dia malah hanya senyam-senyum tidak jelas.


"hehehehe....." bukannya menjawab dia malah tertawa canggung didepan ku.


cobaan apa lagi ini? kenapa aku harus mendapatkan wanita yang begitu unik seperti ini? tidak memiliki rasa takut dan tingkahnya yang unik yang selalu membuat ku pusing.