The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 5 F



Entah apa yang terjadi denganku, perasaan aneh melingkupi hatiku saat ini. entah mengapa aku merasa nyaman bersama dengannya.


melihat wajahnya yang tampan membuat jantungku berdetak dengan cepat. apa aku sakit? sepertinya iya aku sakit. Aku akan segera pergi ke sepupu ku yang berprofesi sebagai dokter untuk mengetahui riwayat penyakit ku itu apa.


"Ada apa?" aku tersadar dari lamunanku, "Tidak ada."


aku tersenyum dan menatap ke arah depan, Pak Aldo mengantarku pulang setelah menghabiskan waktu panjang bersamanya. ternyata Pak Aldo sangat baik, ia membelikan ku banyak makanan tadi. Kalau tahu dia seperti ini sudah dari dulu aku mendekatinya.


"Boleh aku bertanya?"


"Apa?"


"Mungkin ini privasi dirimu tapi boleh aku tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan Arka? maksudku kenapa Arka bertingkah seperti anak kecil padahal dia sudah besar." aku terdiam mendengar pertanyaan Pak Aldo. Aku binggung harus menjawabnya dengan apa.


"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa dia membentuk kepribadian seperti ini."


"Awalnya orang tuaku menikah karena perjodohan. Lalu lahirlah aku, singkat cerita orang tuaku tidak saling mencintai namun lambat laun ibuku mencintai ayah namun Ayah mencintai wanita lain yang adalah anak dari musuh bebuyutan keluarga kami. Diam-diam ayah menikah lagi disaat aku sudah berusia 10 tahun dan Arka 6 tahun, aku, Arka dan Mamah pergi ke pasar malam dan bertemu dengan Ayah dan selingkuhan ayah yang ternyata sudah memiliki anak."


"Di sana Mamah ku terkejut, akhirnya mereka bertengkar di tengah keramaian pasar malam. Untungnya Paman Sam cepat datang saat aku menelfon ya dan membawa kami semua ke tempat aman. Aku di tarik oleh Ayah dan mengancam Mamah mengunakan aku. Ayah sudah mencintai Mamah namun tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Hingga membuat ia nekat menikah diam-diam dengan mantannya itu, rahasia ini sudah ditutupi selama 7 tahun hingga ayah memiliki anak dengan wanita lain."


"Ayah hampir membunuhku jika Mamah tetap bersih keras meminta pisah darinya. Mamah memohon ampun dan tidak akan melakukan itu lagi, Ayah melepaskan ku. Lalu aku melihat Arka yang menatap Justine anak dari wanita lain dengan tatapan tidak suka. Saat itulah Arka selalu bersikap layaknya anak kecil sampai dia besar agar Ayahnya tetap berada disampingnya. Ia tidak mau membagi kasih sayang Ayahnya dengan saudara lainnya kecuali aku. Hal itu berhasil di lakukan. Arka selalu murung jika Justine dan ibunya datang, maka dari itu Arka selalu bersikap kekanak-kanakan kepada semua orang. Lagi pula Mamahku adalah istri pertama jadi harus di utamakan."


"Lalu apa yang terjadi saat kedua orang tuamu meninggal?" aku menghela nafas pelan. Aku menyandarkan kepalaku dan menengok ke arah Pak Aldo, sedikit memanyunkan bibirku terlihat imut namun dengan tatapan yang tajam.


"Orang tuaku dan Ibunya Justine meninggal karena kecelakaan saat pergi urusan kantor. dari dulu Om Sam tidak menyukai keluarga Ibu Justine jadi Om Sam selalu menghalangi Ayah agar bertemu dengan Ibu Justine karena keluarga mereka berdua yang tidak akur. Setelah orang tuaku meninggal Om Sam memasukkan Justine ke panti asuhan karena Justine tidak di terima di keluarga Ibunya."


Pak Aldo terlihat mengangguk mengiyakan, "Tapi tenang saja Pak, Arka akan di masukkan kedalam sekolah militer karena impiannya ingin menjadi idol."


"Baguslah, Omong-omong kau kuat sekali ya, mengendong Arka yang sebesar itu kau kuat sekali untuk seorang wanita." aku terkekeh mendengar pujiannya.


"Mamahku dulu sibuk mencari perhatian Ayah agar tidak pulang ke rumah madunya. Jadi aku sering mengendong Arka saat Mamah sedang bersama Ayah, di saat itulah Arka kecil mengira aku adalah Ibunya dan memangil aku Mamah."


kami berbincang-bincang tentang keluargaku yang tampak aneh di mata Pak Aldo. Aku bercerita semua yang Pak Aldo tanyakan sampai tak terasa sudah sampai di depan rumahku.


aku turun dari mobil pak Aldo, "Terima kasih jalan-jalannya untuk malam ini, lain kali ajak aku lagi ya Pak." ucapku dengan tersenyum manis.


pak Aldo menagacak-acak rambutku, "MAMAH.../ARKA..." aku berbalik ke belakang saat mendengar teriakan Arka dan Justine secara bersamaan.


Arka dan Justine tampak berlari kejar-kejaran. Aku yang binggung berusaha menangkap Arka yang melompat ke arahku. Arka berhasil melompat ke dalam gendonganku.


ia mengeratkan pelukannya kepada ku dan menyembunyikan wajahnya di celuk leherku.


"Kenapa? kenapa kalian lari-larian? kalian bertengkar?" Arka hanya terdiam sedangkan Justine menggelengkan kepalanya.


"Arka mau keluar ke rumah Om Sam, aku sudah melarangnya karena sudah malam tapi Arka malah marah-marah kepadaku dan berlari keluar jadi aku mengejarnya. Maaf Kak." Justine menundukkan kepalanya. Aku mengangguk paham, aku berjalan mendekat ke arah Justine dan mengelus kepalanya lembut.


"Tak apa. sekarang masuklah sudah malam, besok sekolah bukan?" Justine masuk ke dalam rumah aku berbalik menghadap Pak Aldo.


"Pulanglah Pak, titipkan salam ku kepada anak-anak ku bahwa aku rindu pada mereka."


"Baiklah pacarku, aku pulang dulu." Aku memejamkan mataku saat Pak Aldo mencium dahulu cukup lama. Lalu pak Aldo mengelus bahu Arka yang masih tidak mau mengangkat kepalanya, "Baik-baik ya Arka. Kakak pulang dulu." Arka tak bergeming sama sekali.


"Kenapa Arka? enggak boleh begitu sama Kakak Arka, Justine kan Kakak Arka. Arka kok gitu sih?"


"enggak sopan. Apa pernah Mamah ngajarin kamu kaya gini? engak sopan ke yang lebih tua?" aku hendak menurunkan Arka di ranjang namun Arka masih menggantung pada tubuhku jadi aku kembali mengangkatnya dan membawanya ke balkon dan menurunkannya di tepian pagar. Arka masih memelukku dan mengunci tubuhku dengan kakinya.


"kalau Arka kayak gini lagi, Mamah bener-bener bakal kirim Arka ke agensi Kak Rimba." ancam ku kepada Arka yang masih saja tidak mau berdamai dengan masa lalunya.


"IYA-IYA. MAAFIN ARKA...ARKA ENGGAK GITU LAGI...JANJI...HIKS....MAMAH JAHAT...." Arka malah menangis dengan kencang.


ku angkat Arka kembali dan aku duduk di kursi balkon kamarku dengan memangku Arka.


aku memang bahu Arka dan mengarahkan kepalaku ke atas langit, menatap bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.


Arka masih menangis di dadaku, "Mamah tau Arka benci sama Tante Siska tapi Tante Siska juga dulu baik sama Arka. Tante Siska juga Mamah tiri Arka, Arka engak boleh begitu, coba berdamai dengan masa lalu."


"Arka engak boleh gini, liat Mamah?" aku menarik dagunya agar menatap mataku, "Mamah bisa mengurus Arka setelah Mamah dan Ayah meninggal. Justine juga Adik Mamah sama seperti Arka walaupun berbeda ibu tapi Justine tetap anak kandung Ayah yang dalam artian adalah saudara Arka dan Mamah. mamah sayang Arka, Arka tahu itu. Mamah juga sayang Justine seperti Mamah sayang Arka."


"sekarang bisa Arka berdamai dengan mas lalu dan bersikap baik kepada Justine?" Arka tampak mengangguk samar.


tanpa Aileen dan Arka sadari ada Justine didalam kamar Aileen yang berdiri memegangi segelas air putih di tangannya. Ada senyuman di wajah Justine.


Sepertinya ia salah sangka selama ini. Ia benar-benar di anggap oleh Kakak perempuannya selama ini.


betapa senangnya ia mendengar sendiri bahwa Kakak perempuannya begitu menyayanginya seperti Kakak Aileen menyayangi Arka.


"Kakak aku bawakan air minum untuk mu." ucapku dengan riang berlari kecil menuju balkon.


"Kemari Justine." aku melihat Kakak yang sedang duduk memangku Arka yang bersandar di dadanya dengan wajah sembab.


"Ya Kak." Kakak menepuk-nepuk sebelah ruang yang kosong. memintaku agar duduk disana.


"Kakak minum dulu." Kakak mengambil air yang ku bawa dan meminumnya hingga habis.


"Kenapa belum tidur? sudah malam Justine." Kakak menatapku dengan tatapan sayu penuh kasih sayang. Aku tersenyum dengan manis.


"Arka, aku minta maaf kepadaku kalau kehadiran ku membuat mu tidak nyaman." ucapku dengan tulus, Arka hanya diam bahkan membuang wajahnya ke arah lain. aku hanya tersenyum paham, Arka masih belum terbiasa dengan keadaan ini, mungkin.


"Jangan pikirkan Arka, Justine. Arka memang seperti ini." aku mengangguk paham mendengar Kakak berbicara.


"Kakak boleh kah aku-" aku terdiam dan menundukkan kepalaku.


"Apa? katakan saja."


"Bolehkah aku memanggilmu Mamah sama seperti Arka?" ucapku dengan lantang mampu membuat dia terkejut di buatnya.


"Jika kau mau, silahkan. tidak ada alasan untukku melarang mu." aku sangat bahagia mendengar jawabannya, dengan reflek aku mencium pipinya dengan lembut. Hal itu membuat Kakak kembali terkejut dibuatnya. Mungkin dia belum terbiasa dengan perilaku ku kepadanya. aku akan membuat Mamah terbiasa akan sikap ku mulai sekarang.


"Mamah..." panggilku. Mamah menengok dan menepuk bahu sebelahnya. Aku menyandarkan tubuhku di samping bahunya dan menikmati usapan lembut di pipi ku oleh tangan halus Mamah.


berada di dekat Kakak sangat nyaman, aku terasa seperti sedang berada di dekat Mamah. aku memejamkan mataku di sandaran Mamah karena rasa nyaman yang sudah 7 tahun tidak aku dapatkan sekarang aku dapatkan kembali.