
"Aku tau setelah mendengar ini kau pasti berpikir aku gila." Ucapku dengan serius.
"Tidak perlu berpikir, bapa memang sudah gila sejak awal." Dia malah bercanda dengan ucapan ku.
"Dengar ini baik-baik." Aileen menatapnya, ia masih telentang di tempat tidurnya.
"Aku menyukaimu, terserah kau mau bilang apa tentangku. Tapi, aku merasakan ini sejak awal bertemu denganmu."
Aileen bangkit dari baringnya, ia duduk dan menatap manik mata tajam Aldo, "Tapi aku tidak mencintai ah maksudku menyukai bapa. Aku tidak pernah merasakan cinta."
Ku dudukan pantatku di kursi sebelah ranjangnya, "Aku tak butuh balasan cintaku padamu, yang aku inginkan hanya kau jadi milikku."
"Aku milik Rimba, bukan milik Bapa." Aileen berusaha membantah apa yang Aldo bicarakan. Aileen belum tau apa itu cinta? Bagaimana rasanya? Bagaimana harus menanggapinya? Karena Rimba tidak mengizinkannya mencintai pria lain.
Entahlah apa yang dipikirkan rimba, ia pun tak tahu.
"Siapa Rimba?"
"Kakakku." Wajah Aldo berubah menjadi jengkel, wanita ini memiliki selera humor yang sangat rendah.
Aldo bangkit dari duduknya, ia berjalan dengan cepat mengurung tubuh Aileen membuat Aileen telentang kembali.
"Aku tidak perduli dengan dengan Kakakmu yang gila itu."
"Kakakku tidak akan melepaskan aku begitu saja."
"Persetan dengan Rimba Grissham Arthur, segila apa Kakakmu itu. Kami berdua sebelas dua belas. Kau milikku. Akan tetap seperti itu." Manik mata kami berdua bertubrukan.
Aileen menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau dengan seorang duda."
Sialan.
Dia menguji kesabaran ku.
"Aku tidak perduli yang penting kau adalah milikku bukan yang lain." Ku cium bibirnya dengan cepat dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Aileen masih terdiam, bibirnya melengkungkan senyum dengan indah.
"Ah...ah.... dicium cogan dong." Ia kegirangan karena bosnya yang tampan menciumnya dibibir.
Ia berjalan dengan berjingkrak-jingkrak senang menunju kamar Carlos.
Kamarnya tak dikunci, ia langsung saja masuk dan menemukan Carlos sedang duduk dengan memangku laptopnya.
Ia menyembulkan kepalanya dengan badan yang memeluk dinding, "Kakak..." Panggilnya dengan girang.
"HM..."
"Aku habis dicium Pak Aldo dong." Carlos seketika mengalihkan perhatiannya, ia menatap Aileen yang sedang menyentuh bibirnya dengan senyum-senyum tidak jelas.
Secepat kilat Carlos memindahkan laptopnya dan menarik Aileen menuju kamar mandi. Ia membasuh mulut Aileen dengan kasar membuat Aileen berteriak kesakitan.
"KAKAK...A-PA HUH...YANG KAU LAKUKAN." teriaknya saat Carlos menggosok bibirnya di wastafel.
"Ini agar bekas si duda itu hilang."
Carlos mengambil tisu lalu mengusapnya di bibir Aileen hingga kering.
"Sudah aku bilang jangan berdekatan dengan Aldo, kenapa kau nakal sekali?" Carlos menjambak rambutnya frustasi.
Aileen hanya diam duduk di sofa, tidak tau harus apa. Ia masih binggung dengan Carlos. Kenapa respon Carlos seperti itu?.
"Tapi dia tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan mencium ku begitu saja."
"Sialan. Jangan dekat-dekat dengan duda itu lagi, oke?"
"Tapi nanti si kembar bagaimana? Aku kan Ibunya." Carlos semakin frustasi dibuatnya, sekarang wajahnya terlihat bodoh didepan Aileen.
"Anaknya bagaimana? apa maksudmu?"
"Jadi Arion dan Azura memanggilku Mamah karena Arka yang memanggilku Mamah mereka jadi cemburu makanya aku memperbolehkan mereka memanggilku Mamah. Oh sangat imut bukan." Aileen mengerucutkan bibirnya.
"Dengan anaknya tak apa kau dekat asalkan tidak dengan bapaknya oke?"
"KAU INGIN DIBUNUH OLEH RIMBA?" Aileen hanya terdiam seperti orang bodoh. Kenapa Rimba harus membunuhnya? Apakah salah jika ia bersama dengan pak Aldo?.
Aileen tidak tau asal-usulnya. Carlos yang tahu berusaha mencegahnya.
Setelah kejadian tadi Carlos benar-benar menghindari Aldo.
"Minggir aku mau pergi." Didepannya Aldo mencekal tangan Aileen yang menahannya agar tak pergi.
"Aku mau membahas urusan kantor. Dia asistenku jadi kau tidak ada hak untuknya."
"Apa masalahmu? Dia kekasihku, kau yang tidak ada hak kepadanya."
"Jangan mengarang, dia bukan kekasihmu. Ingatlah Kakaknya akan menentang keras ini semua Do."
"Aku tak perduli." Sedangkan Aileen yang tubuhnya ditarik oleh dua orang pria ini hanya mengigit bibirnya menahan senyum.
Dalam pikirannya pasti semua orang yang melihatnya sangat iri kepadaku, lihat saja aku berdiri di pasir pantai dan diperebutkan oleh dua pria tampan. Siapa yang tidak ingin di posisi seperti ini? Ini adalah impian Aileen sejak dulu.
"Aduh, Aileen tau Aileen cantik. Tapi, lepaskan tangan Aileen. Sakit." Sontak kedua pria itu melepaskan tangannya. Karena mendengar suara Aileen yang ke PD an membuat mereka berdua malu sendiri akhirnya.
"Kenapa kalian memperebutkan aku? Aku tidak mungkin menikah dengan dua pria, itu tidak boleh. Kalian harus berlomba mendapatkan ku." Ucap Aileen dengan PD. Ia senang sekali diperebutkan oleh ke 2 pria tampan. Kan bisa pamer kepada teman-temannya.
"Tunggu, kau jangan kege'eran dulu Leen. Aku hanya melindungi kedua keluarga ini saja." Jawab Carlos yang geli mendengar penuturan Aileen barusan.
"Ayo sayang." Aileen melebarkan mulutnya dan matanya berbinar cerah. Tangannya digenggam oleh Aldo dengan lembut.
Carlos dibelakang menatapnya dengan kesal. Ia mengikuti mereka berdua dengan kesal. Ia mengalah lagian Aldo juga susah di nasehatin, sangat keras kepala. biarin lah mau-mau dia.
Aldo, Aileen dan Carlos berbaring di kursi, "Kakak kenapa aku pakai kaos dan celana pendek. Tidak seperti mereka?" Tunjuk ya kepada beberapa wanita berbikini yang sedang bermain voli.
"Kau tidak boleh mempertontonkan tubuhmu didepan pria lain. Nanti saja saat dirumah."
Aileen mengerucutkan bibirnya, tidak suka dengan jawaban Carlos. Ia melirik Aldo yang memejamkan matanya.
"Kenapa Azura dan Arion tidak ikut? Kan rame jika si kembar ikut."
"Mereka sekolah. Nanti saja saat liburan semester mereka berlibur." Jawab Aldo yang masih memejamkan matanya.
"Apa bapa yang merawat mereka berdua sendirian?"
"Tidak, ibuku ikut andil dalam membesarkan kedua anakku."
Aileen tersenyum kecut mendengarnya, "Keinginan terbesar seorang wanita saat melihat anaknya tumbuh besar, sebagaimana hati ibu dan anaknya sudah menyatu menjadi satu. Seorang ibu tahu apa yang dirasakan oleh anak mereka."
"Aku ingin menjadi seorang Ibu yang hebat bagi anak-anakku. Mengandungnya, melahirkan, membesarkan dan melihat mereka tersenyum adalah impian ku menjadi seorang ibu. Bisakah aku lakukan itu?" Aileen melirik Aldo.
Aldo terdiam, matanya menatap lurus ke arah pantai. Kenapa perkataan Aileen seolah menyudutkan Vero mantan istrinya, ibu kandung si kembar.
"Bisa." Jawab Aldo singkat.
"Kau pasti bisa Leen, kau bahkan bisa merawat Arka selama ini. Aku yakin kau akan menjadi seorang ibu yang hebat nanti. Sungguh beruntung pria yang akan menikahi mu suatu saat nanti." Carlos tersenyum dan mengelus rambut adiknya itu.
Aileen sangat berharga baginya. Pikiran dewasanya yang terkadang muncul disaat yang tepat membuat hatinya tenang mendengarnya.
"Arion memiliki kepribadian yang unik sedangkan Azura ia sangat murah senyum. Arion dengan sifat dinginnya kepada sekitar sedangkan Azura dengan sifat hangatnya kepada siapapun, pasti dirumah sangat ramai. Sama denganku jika aku dan Arka bermain."
"Aku rindu Arka kecilku. Dia sudah tumbuh remaja, aku masih ingin mengendong ya dan memandikannya. Sebelum melepaskannya wajib militer." Aldo menatap kesedihan di wajah Aileen saat membahas Arka.
"Kan masih ada Azura dan Arion." Jawab Aldo.
"Tapi aku juga ingin membuatnya. Bapa bisa membuatkannya untukku nanti seperti Arion dan Azura?"
"Itu masalah gampang. Aku jagonya, nanti aku ajarkan." Carlos melempar sandal yang ia pakai kepada Aldo. Membuat Aldo menjerit kesakitan karena sandal itu mengenai matanya membuat pasir masuk kedalam matanya.
"Heh, anak orang jangan ajarin yang sesat. Dasar Duda sesat." Teriak Carlos tak terima. Ini namanya pelecehan.
"Bukannya kau yang mengajarinya hal sesat? Aku binggung kenapa Aileen mau menerimamu menjadi Kakak angkatnya, padahal kau itu sesat."
Carlos terdiam wajahnya tampak menggambarkan ia sedang berpikir keras saat ini. apa iya dia yang mengajarkan hal sesat kepada Aileen? tidak mungkin dia kan Kakak yang baik. Iya kan?