The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 4F



Alex sudah sembuh dan saat ini Alex sudah mulai bekerja kembali. Alex mengantar kekasihnya itu ke kantor tempatnya bekerja. Dalam perjalanan mereka banyak mengobrol ringan tentang pekerjaan dan berbagai hal-hal menarik lainya.


"Baiklah aku bekerja dulu, nanti kau jemput aku?"


"Iya."


"Jemput aku jam 5 ya, aku tunggu disini nanti." ku cium pipinya sebelum keluar dari dalam mobilnya. Lalu ku lambaikan tanganku saat mobil Alex melaju meninggalkan kantorku.


Aku masuk kedalam kantor dan tersenyum dengan cerah, entahlah kenapa suasana hatiku bisa sebagus ini sejak tadi malam duduk berdua bersama dengan Alex.



Saat memasuki lift aku bercermin sebentar dan memperbaiki baju serta rambutku agar terlihat rapi.


"Pagi Pak Carlos, hari ini mau kopi atau teh?" sapa ku seraya masuk kedalam ruangannya tumben sekali Pak Carlos sudah datang sepagi ini.


"Pagi, aku teh manis saja sama berikan aku biskuit untuk camilan." aku mengangguk dan memberikan beberapa berkas kepadanya lalu membungkuk hormat sebelum pergi dari ruangannya.


Aku berjalan ke ruangan dapur, disana masih sepi biasanya banyak para pegawai yang membuat minuman mungkin karena masih pagi.


Setelah selesai membuat teh untuk pak Carlos dan mengambil beberapa biskuit untuknya segera ia memberikannya kepada Carlos. Setelah semua beres ia kembali bekerja dengan ditemani Jus alpukat dan beberapa camilan coklat di mejanya.


Dengan lihai jarinya bermain di keyboard, seolah sudah terbiasa dengan pekerjaan yang ia geluti hampir tiga tahun ini.


"Arka pergi bersama Thomas bermain, ah aku tadi tak sempat bertemu Thomas. Lain kali saja lah aku berbicara dengannya." ia baru ingat kalau ia akan bertemu dengan Thomas, ia lupa karena Alex yang menyuruhnya berangkat pagi-pagi sekali dengan alasan sangat bersemangat berangkat kekantor bersama dengannya.


"Mamah..." ia terkejut dan menoleh ke samping meja.


"Kalian ngapain ke sini? udah sembuh emang?" Ku ulurkan tanganku dan menyentuh kening mereka berdua.


"Sudah, makanya kami ke sini mau ketemu Mamah. Azura kangen Mamah..." Azura memelukku, ku sambut pelukannya dengan hangat dan meraihnya ke dalam gendonganku.


"Kalau mau main disini aja yah, Mamah lagi sibuk sekarang, sebentar lagi Mamah selesai. Kalian main di sana dulu ya." ia menunjuk dibelakang tempat duduknya yang memang lumayan luas untuk bermain anak seumuran Azura dan Arion.


Mereka berdua mengangguk, Aileen menyerahkan tablet miliknya untuk mainan si kembar.


Sikembar terkadang meminta dipangku dirinya secara bergantian dan terkadang usil menaiki punggungnya.



Bukankah si kembar sangat imut? aku belum pernah jatuh cinta kepada anak kecil sebelumnya. Karena menurutku anak kecil itu hanya cari perhatian, makanya aku jika ada bayi terkesan biasa saja tidak heboh seperti wanita pada lainya, bagiku semua bayi menyebalkan.


Kenapa aku berbicara seperti itu? karena aku memiliki pengalaman yang buruk kepada bayi dan balita. Setiap balita yang aku gendong selalu menangis dan balita yang aku ajak bicara pasti menangis padahal aku sudah bersikap halus, ramah dan biasa saja tapi kenapa mereka tetap saja menangis? membuat aku sangat frustasi kepada anak kecil.


Kata orang anak kecil tahu hawa ditubuh orang yang ia gendong dingin atau panas. Kalau dingin akan menurut Namun kalau panas akan menangis padahal suasana hatinya sedang baik, tapi tetap saja semua anak menangis jika digendong olehnya.


Namun Azura dan Arion malah nyaman kepadanya membuat ia membuang pikiran bahwa semua anak sama saja. Ia mulai jatuh cinta kepada kedua anaknya ini. Arion dan Azura anaknya bukan? mereka berdua anaknya. Aileen tahu itu, Azura dan Arion adalah anaknya, anak kandungnya.


Lihat? bahkan Aileen sangat mengkhayal bahwa ia ibu kandung dari Azura dan Arion.


...***...


Aldo berjalan cepat menuju ke ruangan Carlos, ia khawatir kepada kedua anaknya, apakah bersama dengan Aileen atau tidak? karena sedari tadi ia tidak melihat kedua anak-anaknya itu dikantornya.


"Kalian disini? Ayah cari kalian sedari tadi, lain kali bilang dulu ya sama ayah."


Azura turun dari pangkuan Mamahnya dan berlari memeluk kaki Ayahnya itu begitupun dengan Arion.


"Maapin Azura Ayah."


"Ayo makan siang dulu nanti kalian sakit lagi." Mereka mengangguk, Arion menarik tangan Aileen hingga membuat Aileen sontak berdiri dan mengikuti tarikan Arion.


Aileen tersenyum melihat keluarga kecil ini, walaupun mereka kekurangan kasih sayang sang ibu tapi sekarang sudah ada Aileen untuk mereka berdua.


Ia langsung mengendong Arion ke punggungnya dan berlari menyalip Aldo, "Ayo tanding, yang kalah bayar makan boleh makan sepuasnya."


Azura berteriak, "AYAH MEREKA CURANG, AYO AYAH AYO..." Aldo dengan panik langsung mengendong Azura dan berlari mengejar Aileen yang mengendong Arion.


Arion menoleh dan menjulurkan lidah mengejek kepada sang ayah dan adiknya.


"Ayah cepetan lama banget sih..." Azura menjambak rambut sang ayah, membuat Aldo mengerang kesakitan.


"Jadi begini Pak kita adakan party untuk perayaan perusahaan dengan lomba lari---" ucapan Carlos berhenti saat melihat bagaimana Aldo teriak kesakitan saat mendapati tarikan maut dirambutnya oleh putrinya sendiri.


Apakah mereka sedang lomba? sepertinya iya soalnya tadi ia melihat Aileen yang berlari sambil mengendong Aileen dan Aileen pun sempat menyapanya tadi.


"Semoga saja Aldo kembali waras."


...***...


Aldo menatap datar makanan yang ada dimeja makan. Ia bisa melihat bagaimana bahagianya ketiga orang didepannya ini dengan melahap makanan dengan nikmat.


"Ayah ini enak, ayah harus coba." aku mendengus dan membuang muka kepada putriku.


"Ayah marah? lagian ayah kalah si, jadinya Azura pihak mamah dong Yah." jawaban yang membuat pikiran Aldo dongkol seketika.


"Lagian kamu anak siapa sih? anak ayah atau Mamah? kamu pihak siapa? kok malah jadi sama Mamah sih bukanya sama Papah?" Aldo menggerutu kesal apalagi putranya yang cuek dan tetap melanjutkan makan walaupun adik dan ayahnya sedang berdebat.


"Anak Mamah dong." jawaban Azura semakin membuat pikiran Aldo cetek seketika IQ miliknya turun drastis saat ini.


"Arion tim Ayah kan?" Arion menggelengkan kepalanya sambil memakan burger miliknya yang ia buka satu persatu lalu memakan sayurnya lebih dulu setelah itu baru dagingnya.


"Mamah." tunjuk Arion mampu membuat gelak tawa Aileen muncul seketika.


Aileen menepuk-nepuk bahu lebar Aldo dengan keras serta tawa yang membahana semakin membuat Aldo kesal.


"Yey...Bapak kalah, mereka anak aku jadi sudah sepantasnya mereka memihak kepada Ibunya."


Aldo terdiam ia masih mencerna ucapan Aileen barusan. Ia mengerutkan alisnya mendengarkan perkataan Aileen yang tabu untuknya.


"Mereka anak ku kan?" Aldo menatap ke samping dan mendapati wajah aneh+lucu Aileen, Aileen seolah mau menatapnya dengan tajam namun malah terkesan konyol olehnya.


Ia menahan tawa dan mengangguk, "Ia mereka anakmu..."


"Yey...." Arion, Azura dan Aileen bertepuk tangan Riah seperti habis mendapatkan sesuatu yang pengakuan bahwa Aileen ibu dari Arion dan Azura, Aldo yang mengatakannya sendiri.


Bagi mereka itu adalah palu yang diketuk dipenggadilan yang tidak bisa diganggu gugat.


"Oke sekarang kita rayakan dengan makan es krim, ayo kita ambil...Ayah bayar...." mereka bertiga bergegas ke tempat pembuatan es krim. Mereka mengambil sendiri dengan toping yang mereka inginkan.


Aldo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka, Ia senang kedua anaknya dapat ceria dan merasakan kebahagian yang utuh seolah keluarga yang sebenarnya walaupun Aileen dan kedua anaknya tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Bahkan setetes pun tidak ada.


"Andai kau ada disini, kau pasti akan menjadi ibu yang paling bahagia. Anak kita tumbuh dengan baik tapi sayang..." ia menghela nafas lelah.


"Kau terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga tega menelantarkan anak kita. Beruntungnya ada malaikat yang datang tiba-tiba dihadapan ku dan anak kita. Aku harap kau tidak menyesalinya nanti saat bertemu."