
"Banyak orang yang menikah dengan sepupu mereka tapi aku tidak mau melakukan itu terkesan tidak ada lelaki lain saja diDunia ini. Aku takut nanti kalau aku punya anak, anakku akan cacat. Jadi sebaiknya kita cari pasangan yang tidak ada hubungan kerabat saja. Kau paham?"
"Jika kita tidak ada hubungan darah kau mau menikah dengan ku?"
"Tentu saja aku mau itupun jika aku nyaman bersamamu. Aku mau mau saja. Alex." ku pegang tangan Alex, ku usap punggung tangannya dengan halus.
"Aku tahu kau mencintaiku, sangat sangat mencintai ku tapi ada seorang wanita yang hamil anakmu, kau tahu banyak orang yang susah memiliki anak dan mereka mencoba segala hal agar bisa mendapatkan keturunan jadi aku mohon kepadamu jangan sia-siakan anakmu itu. Dia tidak bersalah, kehadirannya membawa kebahagian untukmu dan untuk Lisa."
"Jika kau tidak percaya lihat saja Rimba dan Oliver." Alex mengangkat wajahnya, mimik wajahnya terlihat sedih. Ku rentangkan tanganku dan memeluknya dengan erat.
"Jika aku menikahinya dan bertanggung jawab atas anak yang dia kandung apakah kau masih akan tetap disamping ku?" ku lepaskan pelukanku, tanganku mengusap air mata yang keluar.
"Aku tahu ini berat untukmu tapi ini resiko yang kau perbuat, jadilah pria yang bertanggung jawab. Aku akan selalu berada disampingmu, selalu disampingmu." Alex kembali memelukku dengan erat. Ini adalah hari terakhir aku menjadi kekasih Alex.
Sekarang misi ku telah selesai membuat Alex bahagia dengan mencapai keinginannya walaupun untuk sementara rasanya ikut senang.
...❣️❣️❣️...
Kak Nathan masuk rumah sakit dan sekarang aku sedang menjaganya karena mengingat kandungan Kak Ara yang sudah membesar membuat ia tidak boleh kelelahan.
Untungnya Arka mau menemani Kak Ara tidur di mansion. Sedangkan aku sedang bertugas menjaga Kak Nathan.
Aku ikut berbaring di ranjang Kak Nathan, lagian ranjang ini muat untuk dua orang dan Kak Nathan terlihat baik-baik saja.
"Kakak mau sesuatu?" Nathan menggelengkan kepalanya. Ia masih asik menonton tv sambil berbaring.
"Aku lapar mau makan."
"Di sana ada buah sama roti tadi Vivi membawakannya untuk mu." aku beranjak dan mengambil makanan yang Kak Nathan tunjuk dan memakannya di bawah ranjang Kak Nathan.
"Kalian sudah putus?"
"Sudah."
"Bagaimana reaksinya saat kalian putus?"
"Baguslah anak itu memang suka sekali membuat ulah. Mungkin sekarang kau bebas dari jeratan Alex namun untuk lepas dari jeratan Rimba rasanya tidak bisa kau lakukan." aku mengangguk, setuju dengan ucapannya.
"Kau benar Kak, dia susah sekali untuk aku tipu. Bahkan dia berkelahi dengan bos ku. Aku tidak tahu masalahnya apa tiba-tiba saja mereka berdua berkelahi." kami mengobrol dengan aku yang makan sambil sesekali menyuapi Kak Nathan buah.
"Mereka rival sejak remaja. Selalu memperebutkan peringkat pertama dan sampai sekarang masih saja memperebutkan walaupun bisnis kita sangat beda."
"Kalau aku menikah nanti bagaimana? Kak Rimba tidak akan melarang ku bukan?" Nathan menggedikan bahunya.
"Mungkin."
"Kak Ara akan segera melahirkan Kakak harus siap mental untuk menemaninya bersalin."
"Dia bisa sendiri."
"Dih Kakak harus ikut dong, biar lihat bagaimana prosesnya melahirkan itu bagaimana? bagaimana sakitnya melahirkan jangan pintar buatnya aja dong Kak." Nathan menatap adiknya dengan sebal.
"Kau seperti tahu rasanya melahirkan saja."
"Is aku lihat kucingku melahirkan itu yang pertama kali bagi Mimi. Mimi sampai berteriak kesakitan disitu aku tahu melahirkan itu sakit dan bisa saja taruhannya nyawa. Eh melahirkan memang bertaruh nyawa." Nathan menengok Saliva nya dengan susah.
"Kakak apa rasanya malam pertama?" Nathan menatap adiknya dengan horor.
"Apa maksudmu?"
"Kata temanku malam pertama itu sakit benarkah?"
"Tidak juga."
"Ah begitu, lalu kenapa kalau melakukan itu ada darahnya?"
"Itu menandakan bahwa perempuan sudah tidak perawan lagi. Begitu saja tidak tahu kau sekolah tidak?" aku berdecak kesal mendengar jawaban Kak Nathan.
"Aku tidak tahu Soal darah itu yang aku tahu hanya proses pembuatannya saja."
"Yak siapa yang mengajarimu?" tiba-tiba Kak Nathan berteriak dengan kencang membuat aku terjengkang kaget.
"Apa sih, orang ini ilmu biologi kok marah. Aneh memang orang sakit satu ini." Nathan menatap adiknya datar, "Lama kelamaan kau bertambah menyebalkan yah...."