The Widower'S Charmer

The Widower'S Charmer
Part 5C



Dihari libur ini aku dan Arka hanya bermalas-malasan di rumah. Duduk di ruang tv sambil memangku Arka yang menyender di dadaku.


"Kamu enggak main sama Tom?"


"Nanti aja kalo Kak Tom kesini. Kak Tom kan sibuk jadi trainee." aku mengangguk dan mengusap punggung Arka dengan lembut.


Thomas adalah salah satu trainee yang akan debut menjadi idol. Arka juga terkadang dibawa kesana untuk menemaninya latihan, makanya Arka sekarang banyak temannya.


"Arka nanti mau militer harus jadi lelaki sejati ya?" ia hanya mengangguk.


"Mamah, Arka tuh pengin jalan-jalan ke Mall sama Mamah."


"Oh ya? ya udah kita jalan-jalan ke Mall sekarang, Arka udah wangi ternyata." aku mencium pipi Arka dengan dalam membuat pipinya yang putih jadi memerah.


"Arka...Arka...main yuk..." teriak Thomas dari depan rumah.


"Masuk dulu Tom." teriakku balik lalu Thomas masuk.


"Dih udah gede masa di pangku. Ayo turun." Thomas menarik Arka agar turun dari pangkuan ku. dengan berat hati Arka turun dan duduk sendiri.


"Tom aku sama Arka mau ke mall, kamu mau ikut enggak?" tawar ku kepadanya yang sedang menarik-narik kaos Arka yang dimasukkan ke dalam celana.


"Boleh, mau dong ikut." aku menganggukkan kepalaku.


"Tunggu ya mau ganti baju dulu." aku masuk kedalam kamarku, membuka lemari dan mengambil pakaian lalu memakainya.


aku bercermin terlebih dahulu lalu memakai parfum.



Setelah memastikan diriku cantik dan rapi aku kembali turun kebawah.


"Ayo berangkat."


kami bertiga turun ke garasi mobil dan masuk kedalam mobil. Thomas dan Arka berada dibelakang sedangkan aku didepan. Arka dan Thomas asik berbincang-bincang tentang trainee yang sedang dijalani Thomas sedangkan aku fokus dengan jalanan.



kami telah sampai di Mall, setelah memarkirkan mobil.


"Mamah Arka mau es krim." aku mengangguk dan memberikan mereka berdua uang.


"Nih, Thomas temani Arka beli."


"oke." aku menunggu mereka di kursi sembari memainkan ponselku. beberapa saat kemudian mereka berdua kembali datang sembari membawa es krim masing-masing.


"ayo mau kemana lagi?" tanyaku sambil memimpin jalan.


"Arka mau beli Baju." aku mengangguk. memang ujung-ujungnya jika pergi ke mall ya kalau tidak belanja apa lagi? pasti belanja pakaian atau belanja bulanan.


aku memasuki toko pakaian, pandangan ku langsung tertuju kepada pakaian kantor.


ku biarkan Arka dan Thomas berkeliaran kesana kemari.


"Kak kalau ini ada ukuran M?" tanyaku sambil menunjukkan jas kepada pelayan toko.


"Ada. Sebentar saya ambil kan." aku mengangguk, sembari menunggu aku mencari baju yang lainnya.



"Ini Kak." pelayan datang, aku mengambil jas itu dan menganggukkan kepalaku.


"Ini satu."


"Ini, Saya mau yang satu setel bisa? biar sama celananya sekalian."


"Bisa Kak, saya ambilkan celananya dulu Ya." aku mengangguk. Pelayan itu datang lagi dan membawa satu set jas yang ku inginkan.


aku mencobanya di ruang ganti.



"Pas. Ya ini satu ya Kak." aku kembali masuk dan melepaskan pakaian itu. Setelah keluar aku memberikan pakaian itu.


berjalan kembali mencari pakaian lainnya dan di kawal dengan 3 orang pelayan disini.










Setelah selesai membeli beberapa pakaian aku duduk di sofa yang berada didalam toko ini. memperhatikan Arka yang memilih pakaian di bantu oleh Thomas.


Thomas menjadi trainee di agensi Ayahnya sendiri. Aku juga cukup dekat dengan orang tua Thomas. aku sudah menganggap Thomas seperti adikku sendiri.


sebentar lagi Thomas akan debut bersama beberapa temanya menjadi boy band. Tentunya akan sulit bertemu dengan Arka nantinya.


Gara-gara Thomas yang akan debut menjadi idol, adiknya Arka juga ingin menjadi idol seperti Thomas. Aku mengiyakan namun dengan satu syarat Arka harus latihan militer dahulu agar mandiri dan terlatih dirinya.


baru itu aku akan memasukkan Arka ke dalam agensi Ayah Thomas, itu pun jika Arka bisa masuk. Ya memang ku akui suara Arka memang bagus dan unik namun aku tidak yakin dengan mentalnya karena mental Arka seperti anak kecil.


Arka dan Thomas telah selesai belanja. Setelah selesai membayar aku pun pulang.


"Kakak antarlan aku ke agensi, aku mau latihan."


"Capek enggak jadi idol?" tanyaku kepada Thomas. Thomas terlibat senang aku belikan jaket merek Chanel untuknya.


"Ya begitu lah. manis pahit." aku mengangguk.


"Itu hadiah karena kamu sebentar lagi debut "


"wah makasih Kakak Aileen yang paling cantik. nanti di konser pertamaku Kakak harus Dateng ya."


"Gratis enggak? kalau enggak gratis enggak mau lah."


"Tenang aja, gratis Kok. yang penting Kakak nonton sampai selesai nanti aku kenalin ke temen-temen aku, mereka penasaran Kakak Arka itu kayak gimana."


"o...gitu, oke deh."


aku pun mengantar Thomas ke agensinya. Melajukan ke rumah. Sesampainya di rumah aku menengok ternyata Arka tertidur.


aku mengendong Arka memasuki rumah lalu membaringkannya ke atas ranjang.


melepas jaketnya dan sepatu yang Arka kenakan. Lalu kembali keluar mengambil belanjaan ku didalam mobil.


namun aku di kejutkan dengan seorang pria yang terlihat seumuran dengan Arka berdiri dihadapan ku dengan tatapan kosong.


Perasaan baru 2 bulan yang lalu aku menemuinya di panti asuhan kenapa dia bisa datang ke sini?.


kami saling bertatap pandang, sama-sama menatap dengan pandangan penuh luka. Ku lihat dia akan terjatuh dan aku menangkapnya membuat ia terduduk dengan lemas dengan menundukkan kepalanya.


"Keluarkan aku...aku tidak mau di sana lagi. Ku mohon..." suaranya terdengar memelas.


"Aku tidak bisa." ucapku dengan putus asa.


"KENAPA? KENAPA TIDAK BISA?"


"KAU TIDAK KASIHAN DENGANKU? AKU TAHU IBUKU BERSALAH TAPI JANGAN HUKUM AKU SEPERTI INI. AKU TIDAK TAHU APA-APA."


aku menggelengkan kepalaku dan menangkup kedua pipinya dengan lembut, "Tidak begitu, Semua di kendalikan oleh Paman Sam. bagaimana aku bisa mengeluarkan mu? jika saja aku bisa maka sejak dulu aku akan mengeluarkan mu."


"Keluarkan aku, ku mohon Kak. jangan hukum aku seperti ini hiks..." ia menangis, pertama kalinya ia menangis dihadapan ku.


ia yang selalu bersikap dingin dan kasar saat bertemu denganku sekarang menangis dan terlihat menyedihkan dihadapan ku.


aku meraihnya kedalam pelukanku, ku belai rambutnya dan mendekapnya dengan erat.


"Hanya kau satu-satunya tempatku pulang. tidak ada lagi keluargaku yang lainnya, Kak...keluarkan aku hiks...biarkan aku tinggal dengan mu hiks...ku mohon...."


permintaan ini, sangat sulit aku turuti. bagaimana caranya aku bisa mengeluarkan Justine dari panti asuhan.


Mengeluarkan Justine dari panti asuhan memang mudah namun mendapatkan surat-surat milik Justine itu lah penyebabnya. Dimana surat itu berada di tangan Om Sam dan tidak akan pernah mau menyerahkannya kepada Justine sehingga membuat Justine susah untuk sekedar mencari pekerjaan.


ijazah kelulusan sekolah Justine Bahakan kartu kartu keluarga lainnya berada di tangan Om Sam. bagaimana caranya aku membujuk Om Sam agar mau memberikan surat-surat penting milik Justine.


Pusing sekali memikirkan ini semua. Setelah orang tuanya meninggal, tanggung jawab yang belum terselesaikan sekarang harus ia urus.


"Kamu tinggal sama Kakak aja ya mulai sekarang? Kakak janji bakal lepasin kamu, tapi kamu harus tinggal sama Kakak mulai sekarang." Justine mengangguk dan kembali memelukku dengan erat.


"Terima kasih."


"Kakak bakal usahain dapat surat-surat itu dengan cepat. Ayo masuk dulu, kamu belum makan kan?" tanyaku lalu membantu Justine berdiri.


Ia menggelengkan kepalanya, Justine terlihat kurus. Apakah ia tidak makan selama ini? padahal ia selalu rutin mengirimkan uang kepada Justine.


Aku mengandeng Justine masuk kedalam rumahku. Justine tampak melihat foto keluarga yang terpajang di ruang tamu.


"Ayo duduk dulu. Kakak buatkan makanan buat kamu dulu ya?" ia menurut dengan duduk dengan tenang di kursi.


aku membuatkan makanan yang sederhana untuk Justine. Justine tampak lahap dengan makanannya. melihatnya makan dengan lahap aku tersenyum kecil.


"Ini kamar Kakak, disamping Kamar Arka. dan ini kamar Kamu." aku mengajaknya berkeliling rumah dan memberikan Justine kamar disamping kamar Arka.


aku membuka kamar yang akan di tempat oleh Justine.



"Kakak bukan kah ini terlalu berlebihan?"


"Tidak. Ini kamar untukmu, jika kau ingin merenovasinya ulang terserah kamu." lagi dan lagi aku di kejutkan dengan pelukannya yang ke tiga kalinya dalam hari ini.


"Terima kasih." aku hanya menepuk-nepuk pelan punggungnya.