
"Kami pulang dulu ya Leen." aku menganggukan kepalaku dan melambaikan tangan ku.
mereka pulang memakai mobilku, dengan Daniel yang mengemudi. Aku berbalik dan mendapatkan Claude berdiri tegak di hadapanku dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam kantong celananya.
Ia menatapku dengan senyum tampannya. Harus ku akui jika Claude memanglah tampan, namun walaupun begitu tidak bisa mengantikan posisi Aldo dalam hatiku.
"Jadi? kau sudah memiliki kekasih lebih tepatnya tunangan?" tanya Claude menatap ke arah ku dengan wajah malas.
"Ya seperti yang kau ketahui. Aku sudah menjadi milik orang." ku lihat Claude berjalan mendekatiku, lalu dia sedikit membungkukkan badannya dan berbisik ke telingaku.
"Kau masih virgin?" aku tersenyum sinis tanpa Claude sadari, aku membisikan sesuatu kepadanya.
"Tentu saja, aku Virgin. Apakah sewaktu dulu istrimu sudah tidak virgin?" tanyaku dengan pelan.
"Ah, tentu dia virgin sayang. aku menikahi wanita polos."
lalu kami saling menjauh, "Ah begitu rupanya."
"Baiklah aku mau pulang, minggir." dengan sengaja aku menyenggol bahunya dengan keras.
Namun langkahku berhenti saat dia kembali menyai aku lagi, "Apakah dia lebih tampan dariku?"
aku berbalik dan menatap ke arahnya, "Ku akui kau lebih tampan dibandingkan dia, namun jika kau tahu apa yang aku lakukan untuknya kau akan akan langsung beranggapan bahwa aku sangat mencintainya walaupun sebenarnya aku memang sangat mencintai dia."
"Claude, sudah hentikan saja semua ini. Kasihan istri dan anakmu yang hidup dalam tipuan yang kau buat selama ini." ucapku dengan memelas.
"Kau salah Leen. Dia sudah tahu jati diriku yang sesungguhnya." tiba-tiba tatapan Claude berubah menjadi datar. Aku terkejut dibuatnya.
aku tidak tahu maksud dari sorot matanya itu apa? namun tatapannya terlihat sedih, kecewa dan kasihan.
aku membuang pandanganku saat mata Claude bertemu dengan mataku.
❤️❤️❤️
saat aku masuk ke dalam rumahku, aku menemukan Justine yang tidur di sofa ruang tamu. Aku berjalan ke arahnya, aku berjongkok didepannya dan mengelus rambutnya dengan pelan.
aku menatap ke arah langit-langit kamar. Wajah Justine adalah wajah campuran antara ayah dan ibunya Justine. Wajahku sangat mirip dengan Ayah sedangkan wajah Arka mirip dengan Mamah.
mengingat masa lalu membuat aku berpikir bahwa mamahnya dulu sangat bodoh sekali mau-mau saja menikah dengan ayahnya walaupun di jodohkan. bagaimana mamahnya terjebak cinta segitiga yang dibuat oleh ayahnya dan mantan cinta pertamanya itu dulu.
Demi Ayah, Mamah merelakan dirinya tersakiti bahkan rela berkorban demi aku dan Arka. Mamah menerima madunya dengan ikhlas walaupun sebenarnya dia terpaksa.
Lagi Ayahnya yang egois tidak mau melepas cinta pertamanya dan tidak kau kehilangan mamahnya. Ayah tetap mempertahankan kedua wanita yang dia cintai itu sampai kapan pun bahkan jika salah satu dari mereka meminta lepas maka ayah akan mengikatnya lebih kencang lagi dengan paksaan dan ancamannya.
Dan Ibu Justine yang tidak tahu diri, masih saja berharap kepada lelaki yang sudah menyandang status sebagai suami orang. Masih berharap akan ada tempat untuknya nanti. Sampai akhirnya dimana dua hati masa lalu kembali merajut asa dengan latar belakang orang ketiga dalam hubungan mereka.
Demi apapun yang terpenting mereka bersatu, walaupun harus di tutup-tutupi selama 7 tahun yang akhirnya terbongkar juga.
lalu naasnya beberapa tahun setelah mereka bertiga hidup dengan bahagia dan akur, mereka malah pergi secara bersama-sama dan melimpahkan tanggung jawab mereka kepadaku.
Saat aku berkelana dengan memori ku ku rasakan ada sebuah tangan yang berada di pinggangku, Aku menengok ke samping, Ku angkat kepala Justine dan ku jadikan lengan ku sebagai bantalan kepala Justine lalu ku peluk Justine yang tidur menyamping ke arahku.
"Mamah pulang kapan?" tanyanya dengan parau tanpa membuka matanya.
"Mamah baru saja pulang. Tidurlah..." aku mengelus-ngelus bahu Justine sampai Justine tertidur dengan lelap kembali.
Yang aku yakini bahwa Justine tidak bersalah. Justine tidak meminta dilahirkan dari mereka, jikapun bisa Justine tidak akan meminta dilahirkan dari hubungan ini. Namun takdir membawa Justine.
Justine tidak bersalah, Justine adalah adikku walaupun kami berbeda Ayah setidaknya masih ada darah yang mengalir dari Ayah. Justine selama ini tidak mendapatkan keadilan dari pihak keluarga ayah dan ibunya.
satu-satunya keluarga yang dia punya adalah aku, Kakaknya. Mau kemana Justine jika bukan kepadaku? selama ini aku yang menanggung kehidupan Justine di panti asuhan.
Justine sengaja dibawa ke panti asuhan oleh keluarga ku, namun disana dia hanya tidur dan makan lalu sekolah. Dia diberikan fasilitas mewah tidak seperti yang lainnya. karena keluarga kami membayar kehidupan Justine.
sebenarnya kasihan namun saat itu aku masih anak kecil untuk memberi pembelaan kepada Justine, sekarang aku akan selalu membela Justine karena mau bagaimanpun Justine adalah adikku. Salah satu harta yang harus aku jaga seperti pesan Ayah, Mamah dan Tante.
"Terima kasih Ayah dan Tante. Karena telah memberikan hadiah terindah untuk diriku."