
"Perkenalkan dia adalah pacarku, ah tidak dia adalah calon suamiku. Dan kami baru saja bertunangan." ku pamerkan jariku kepada mereka semua yang sedang berkumpul atas keinginanku.
"Apa ini Aileen?" tanya paman Sam dengan nada tidak suka. Aku melotot dan memanyunkan bibirku.
"Ih paman budeg ya? aku kan udah bilang dia calon suamiku." ucapku sekali lagi dengan suara tegas.
"Ah tampan nya." puji Alya yang tersenyum manis melihat Aldo. Sedangkan suaminya langsung menatap Alya dengan horor.
"Pokoknya kalian harus merestui kami." aku menengok ke arah Kak Rimba yang hendak berbicara namun aku segera mendahuluinya.
"Berhenti Kak Rimba. aku tidak butuh ocehan dan larangan tidak jelas darimu. aku sudah besar jangan anggap aku anak kecil lagi." ucapku dengan sedikit marah.
"Terserah kau saja lah, Nak. Kakek capek liat kelakuan kamu yang bandel." aku tersenyum mendengar keluhan Kakek tentang diriku.
aku menatap ke arah Aldo, "Mereka merestui kita, tenang saja." ucapku dengan menganggukkan kepalaku.
"Baiklah beberapa hari kedepan aku akan mengundangmu makan malam dengan keluargaku."
"Aku tunggu undangan makan malam dari mu sayang."
❣️❣️❣️
"Hati-hati...." aku melambaikan tanganku dengan memperhatikan kepergian Aldo dari kediaman ku.
"Wah...senang sekali rasanya punya pacar." ucapku dengan girang. Aku tersenyum tulus.
berbalik dan menemukan Alex yang berada di belakangku.
"Ada apa?" tanyaku dengan binggung.
"jadi kau menjalin hubungan dengan dia?" aku menganggukan kepalaku.
Alex tampak menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan aku begitu saja. Aku menaikan satu alisku tak maksud dengan apa yang Alex ucapkan tadi.
"MAMAH...." aku melihat Arka berlari ke arahku. aku mengajar Arka dan menggendongnya didepan dada dan membawanya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kenapa?" aku mencium pipi tembam Arka dengan gemas sampai memerah dibuatnya.
"Aku dimarahi Kakek." adunya kepadaku, aku menganggukan kepalaku paham.
"Pasti Arka tidak mau menurut dengan Kakek kan? makanya Arka di marahi." Arka hanya terdiam dengan menyandarkan kepalanya di bahuku.
aku membawa Arka masuk ke dalam kamarku. Menemukan Justine yang sudah tertidur lelap.
Setelah itu baru lah ia Menganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Aku berbaring di tengah-tengah antara Justine dan Arka. Arka ternyata melepas celana miliknya dan memakai color.
Aku memeluk Arka dan Arka pun memelukku seperti guling miliknya. aku mengusap-usap punggung Arka agar Arka cepat tidur.
aku mencium dahi Arka dan melepaskan pelukan Arka dan menarik bahu Justine dan memeluk pelipis Justine. Lalu kembali memeluk Arka dan kembali mengusap punggung Arka.
"Dah tidur bayi besar." ucapku dengan menepuk-nepuk pantat Arka.
Justine membuka matanya. Ia tadi merasa dicium di pelipisnya oleh Kakaknya, ia mengukir senyum bahagia di bibirnya.
Ia berbalik dan memeluk pinggang kakaknya itu dengan satu tangan.
❣️❣️❣️
"Kau serius di lamar seorang gadis?" Aldo menganggukan kepalanya dengan senyum yang merekah.
"Dengan saksi Langit, Bulan, Laut dan Tanah?" Aldo kembali mengangguk.
"Di kapal mewah?" lagi Aldo mengangguk.
"Dia yang memberikan mu cincin?" Lagi dan lagi Aldo hanya menganggukan kepalanya.
Ibunya bertepuk tangan dengan meriah, "Hore....akhirnya putraku tidak jomblo lagi...yeye...." Aldo tersenyum dan ikut merayakan dengan goyangan badan bersama ibunya itu.
"Cih...kenapa kau bahagia sekali? seharunya kau yang melamar bukan wanita yang melamar." sindir sang Ayah yang kesal melihat kelakuan anak dan ibu itu.
"Heh kau pikir siapa yang menyatakan cinta dahulu, aku atau dirimu yang penakut itu?" tanya sang istri dengan nada tajam membuat suaminya langsung terdiam kaku.
Tiba-tiba Axton datang dengan hebohnya menanyakan kenapa mereka terlihat gembira sekali.
"Ada apa ini? apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya dengan cepat.
"Ya...Kakakmu di lamar seorang gadis. Dia tidak sendirian lagi Axton, dia punya pasangan lagi akhirnya." Axton membulatkan matanya dan berjoged dengan riang atas kebahagian kakaknya itu.
"Hore...akhirnya Kakak ku kembali memiliki pasangan. Terima kasih ya Tuhan...."
Mereka bertiga saling merangkul bersama dan berputar-putar merayakan hal ini yang begitu menakjubkan bagi mereka.
Sedangkan sang kepala keluarga hanya menumpu dagunya dengan tangan dan membuang wajahnya ke arah lain.